BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pengajaran IPS bersumber dari masyarakat yang meliputi pertumbuhan, perkembangan, dan kemajuan kehidupan termasuk segala aspek dengan permasalahannya. Dengan demikian, pengajaran IPS tidak akan kehabisan materi untuk dibahas dan dipermasalahkan. Materi tersebut bukan hanya apa yang terjadi hari ini, melainkan juga yang telah terjadi pada masa lampau, dan lebih jauh pada masa yang akan datang. Ditinjau dari lingkup wilayahnya, meliputi apa yang terjadi setempat secara lokal, nasional, regional sampai ke tingkat global. Hal tersebut jadi perhatian dan lahan garapan pengajaran IPS.

Kemajuan IPTEK telah membantu kita manusia “melihat” pristiwa dan permasalahan kehidupan yang secara fisik tidak ada dihadapan kita. Dengan bantuan IPTEK itu juga, kita manusia mampu menganalisis, memprediksi, dan meyakini pristiwa serta permasalahan diluar jangkauan pikiran yang melekat pada diri masing-masing.

Oleh karena itu, kita selaku guru IPS harus memperhitungkan dan mengatisipasinya. Janganlah anda puas dengan materi yang telah ada. Katakanlah jenis pakaian, “celana jeans” yang semula merupakan pakaian pengembala sapi(cowboy), para mekanik bengkel, dewasa ini telah menjadi mode dimana-mana termasuk di Indonesia, kenyataan yang demikian itu merupakan hal yang harus diperhatikan pada pembwelajaran IPS, khususnya dalam membahas dan memberikan pengertian tentang globalisasi .

1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang akan di bahas dalam makalah ini adalah :

  1. Apa saja isu-isu global dalam pembelajaran IPS SD ?
  2. Apa manfaat mempelajari isu-isu global dalam pembelajaran IPS SD ?
  3. Bagaimana menyampaikan isu global di kelas ?

1.3 Tujuan

Adapun tujuan yang ingin di capai adalah:

  1. Untuk mengetahui isu-isu global dalam pembelajaran IPS SD.
  2. Mengetahui manfaat mempelajari isu-isu global dalam pembelajaran IPS SD.
  3. Mengetahu cara menyampaikan isu-isu global dikelas.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Isu – isu Global dalam Pembelajaran IPS SD

Telah kita sadari bahwa pengajaran IPS bersumber dari masyarakat yang meliputi pertumbuhan, perkembangan, dan kemajuan kehidupan termasuk segala aspek dengan permasalahannya.Dengan demikian, pengajaran IPS tidak akan kehabisan materi untuk dibahas dan dipermasalahkan. Materi tersebut bukan hanya apa yang terjadi hari ini, melainkan juga yang telah terjadi pada masa lampau, dan lebih jauh pada masa yang akan datang. Ditinjau dari lingkup wilayahnya, meliputi apa yang terjadi secara lokal, nasional, regional sampai ke tingkat global. Hal tersebut jadi perhatian dan lahan garapan pengajaran IPS.

Kemajuan IPTEK telah membantu kita manusia “melihat” pristiwa dan permasalahan kehidupan yang secara fisik tidak ada dihadapan kita. Dengan bantuan IPTEK itu juga, kita manusia mampu menganalisis, memprediksi, dan meyakini pristiwa serta permasalahn diluar jangkauan pikiran yang melekat pada diri masing-masing.

Oleh karena itu, kita selaku guru IPS harus memperhitungkan dan mengatisipasinya. Janganlah anda puas dengan materi yang telah ada. Katakanlah jenis pakaian, “celana jeans” yang semula merupakan pakaian pengembala sapi (cowboy), para mekanik bengkel, dewasa ini telah menjadi mode dimana-mana termasuk di Indonesia, kenyataan yang demikian itu merupakan hal yang harus diperhatikan pada pembelajaran IPS, khususnya dalam membahas dan memberikan pengertian tentang globalisasi .

Melalui penggunaan dan kemajuan IPTEK dibidang komunikasi- transportasi serta multimedia, kontak antar manusia dan pergerakan barang, berita serta informasi dari satu belahan bumi ke belahan bumi lainnya telah berlangsung intensif dan ekstensif. Hubungan antara kawasan itu seolah-olah tidak ada batas lagi, sehingga MARSAL MacNcluhan (Russel L. Ackoff: 1974 : 5) menyatakan sebagai “dusun global” (global village).

Proses globalisasi yang merambah antar ruang dan waktu yang menjadi faktor utamanya terletak pada penduduk manusia dengan pertumbuhannya. Mengapa Penduduk dengan pertumbuhannya itu di katakan sebagai faktor utama terjadinya proses globalisasi? Pertumbuhan kuantitatif(jumlah) penduduk di mana pun di dunia ini , selalu di ikuti oleh pertumbuhan kebutuhannya, untuk memenuhi kebutuhan ini, manusia melakukan penjelajahan di permukaan bumi dalam upaya mendapatkan sumber daya yang akan menjaminnya. Penjelajahan antar ruang dalam upaya sumber daya, khususnya Sumber Daya Alam (SDA) itu, tidak hanya dengan jalan kaki dan memanfaatkan jasa penarik beban, melainkan telah mendorong pula penemuan serta rekayasa alat komunikasi-transportasi yang makin lama makin canggih. Penggunaan alat komunukasi-transportasi (darat, laut, udara) ini, menjadi dasar pula kontak manusia dan pertukaran bahan dan barang pemenuhan kebutuhan.

Ada dan tersedianya sumber daya alam sebagai alat pemenuh kebutuhan penduduk, tidak dengan sendirinya memakmurkan masyarakat setempat, melainkan masih dipengaruhi oleh kemampuan mengolah dan memanfaatkannya.kembali pada kemampuan SDM menerapkan IPTEK dalam mengolah SDA untuk kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian, menjadi kenyataan SDA itu menjamin kesejahteraan, sangat dipengaruhi oleh kemampuan SDM mengembangkan budaya dalam bentuk penerapan IPTEK mengolah SDA tadi bagi kepentingan hidupnya. Henry J. Warman (Gabler R.E. : 1966: 13-16) yaitu bahwa “sumber daya itu dibatasi secara budaya” (culturally defined resources).

Jika kita menganalisis dan mengamati adanya masyarakat, Negara, bangsa yang miskin serta kaya, belum tentu karena pemilikan potensi SDA di Negara tersebut juga miskin atau kaya. Masyarakat miskin dan kaya itu lebih banyak ditentukan oleh kemampuan SDM mengolah serta memanfaatkan SDA. Masyarakat, Negara-negara, bangsa di pedalaman afrika sebagian masih dalam keadaan “miskin”, bukan karena potensi SDA setempat rendah tetapi karena SDM nya yang masih rendah, kebalikannya, jepang, singapura dan hongkong yang memiliki sedikit SDA tetapi memiliki potensi SDM yang unggul. Jjika kita melihat pada Indonesia yang terkenal dengan”gemah ripah loh jinawi”, karena terkenal dengan kekayaan SDA hayati yang melimpah serta non-hayati yang cukup potensial, namun kekayaan SDA tadi, tidak menjadi kemakmuran yang tinggi bagi masyarakat Indonesia, kelemahan ini terletak pada SDM Indonesia yang masih lemah.

Perbedaan kelompok masyarakat, Negara-negara berdasarkan kemampuan penerapan IPTEK itu dalam proses kegiatan industry, ada yang masih tahap primer, sekunder dan ada yang telah mencapai tahap tersier. Negara seperti singapura dan hongkong merupakan tempat central pada jalan raya dunia, dibanding dengan wellington dan port Moresby di papua guinea yang terpencil diluar jalur jalan raya. Dari kajian lokasi suatu tempat atau suatu kawasan, kita akan mengerti berbagi hal seperti dinamika gerak masyarakat, pendapatan penduduk dan daerah, tingkat kemajuan pendidikan, gejolak politik, serta aspek-aspek kehidupan lainnya.

Oleh karena itu kita akan memahami “konsep” yang dikemukakan oleh Getrude Whipple (Preston E. James: 1959: 155), yaitu “pentingnya kedudukan lokasi dalam memahami peristiwa dunia” (the importance of location in understanding world affairs). Dengan mengamati, meneliti, dan menganalisis lokasi suatu tempat atau kawasan atau bahkan Negara, kita akan dapat memahami peristiwa dunia (social, politik,ekonomi dan budaya) tempat, kawasan serta Negara yang bersangkutan.

Pada pembelajaran IPS, kita harus juga memperhatikan konteks keruangan (spatial contex). Dalam hal ini kita mengembangkan pengertian bagaimana manusia berperilaku (perilaku keruangan, spatial behavior), bergerak pindah tempat (migrasi), bertindak (memanfaatkan atau merusak lingkungan), dan berjuang (mempertahankan diri,merebut, menguasai) dari satu kawasan ke satu kawasan lain.

Ditinjau dari dinamikanya dari waktu kewaktu, mengamati, dan menganalisis fenomena kehidupan dalam konteks keruangan itu dalam pembelajaran IPS, itu belum cukup. Kita harus menelaah dari perkembangan dari waktu ke waktu dari zaman ke zaman, dengan cara demikian itu kita akan mengetahui dinamika perkembangan dengan dinamika dan permasalahannya.

Aspek sejarah dalam pembelajaran IPS bermakna untuk memahami hubungan antara suatu peristiwa dengan kurunnya, dan juga perkembangan peristiwa itu dari waktu ke waktu. Dari mempelajari peristiwa kehidupan dengan perkembangan kurunnya, kita akan mampu “meramalkan” bagaimana kecenderungan kehidupan masyarakat-bangsa itu dihari-hari mendatang.ramalan disini di dasarkan atas perhitungan-perhitungan rasional-intelektual, bukan atas dasar “para normal”. dewasa ini telah berkembang suatu kemampuan dan kiat meramal yang disebut futorologi.

Pembahasan tadi memisahkan antara konteks keruangan dan lingkup waktu. Dalam kenyataan sesungguhnya, kedua aspek itu ruang dan waktu tidak dapat dipisahkan. Oleh karena itu, Emmanuel Kant, seorang pakar filsafat yang sekaligus juga sejarawan dan geografiwan mengemukakan bahwa sejarah dan geografi itu merupakan “ilmu dwitunggal”. Untuk memahami suatu fenomena ataupun masalah kehidupan secara akurat, kita harus mengetahui ”dimana “ fenomena atau masalah yang terjadi, “kapan” fenomena atau masalah itu berlangsung. Dengan demikian, kita akan memiliki pemahaman sifat dan kualitas fenomena atau masalah yang kita kaji berhubungan dengan ruang dan lokasinya serta dinamikanya sesuai dengan perkembangan waktu dari ruangnya kita dapat menganalisis perkembangan mulai dari tingkat lokal, regional sampai ke tingkat global. Sedangkan dari proses waktunya mulai dari masa lampau, sekarang dan masa yang akan datang. Dengan demikian, kita tidak hanya memiliki wawasan keruangan (persfektif keruangan, spatial perspective) melainkan juga wawasan waktu (persfektif waktu, time perspective). Tuntutan kemampuan global pada pengajaran IPS, meliputi kemampuan keduanya.

Berbagai fenomena kehidupan sosial, ekonomi, budaya, politik, dan lingkungan hidup seperti antara lain penyakit AIDS, pengangguran, kemajuan IPTEK, pertikaian antarsuku bangsa, pencernaan, tidak hanya ditinjau dari lokasi tempat atau negaranny, melainkan juga dikaji kapan fenomena itu terjadi. Oleh karena itu, selain kita mengetahui konteks keruangannya (lokal, regional, global), juga kita akan mampu memprediksinya dihari-hari mendatang. Dengan demikian, kita akan memahami persfektif global itu juga meliputi perkembangannya dimasa yang akan datang. Pembelajaran IPS secara terpadu, harus mencakup aspek-aspek itu.

2.2 Menyampaikan Wacana Global di Kelas

Idealnya wacana global disampaikan keseluruh lapisan masyarakat. Untuk proses ini penulis pandang relatif sulit sebab seperti penulis sampaikan di atas pada generasi tertentu (lanjut) merasa tidak atau kurang berkepentingan dengan wacana karena banyak tuntutan hidup yang lebih mendesak. Menurut hemat penulis, wacana global paling tepat disampaikan pada generasi yang sedang menempuh pendidikan, dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi dengan porsi yang berbeda-beda.

Dalam pembelajaran wacana global di kelas hambatan yang mungkin adalah: pertama; belum adanya kurikulum yang secara eksplisit memuat setiap wacana yang berkembang, kedua; belum semua guru tahu dan memahami berbagai wacana global yang ada, ketiga; pada daerah tertentu sumber-sumber wacana belum ada, dan keempat; ketiadaan sisipan wacana dalam berbagai mata pelajaran.

Idealnya diperlukan kurikulum yang memuat mata pelajaran wacana sehingga peserta didik selalu mendapatkan wacana yang segar, namun ketiadaan mata pelajaran wacana sejatinya dapat diantisipasi oleh guru mata pelajaran yang lain. Mata pelajaran bahasa, sosiologi, antropologi, IPS (untuk SD), dan kewarganegaraan sesungguhnya mata pelajaran yang potensial untuk disisipi wacana.

Mata pelajaran bahasa misalnya dapat disisipi bacaan yang berisi wacana sehingga pembelajaran bahasa sekaligus pembelajaran wacana. Untuk mata pelajaran sosiologi, antropologi, IPS (untuk SD), dan kewarganegaraan sudah tentu sangat mudah disisipi wacana global dengan dianalisis sesuai pisau bedah mata pelajaran itu sendiri.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Kemajuan dan pemanfaatan IPTEK dalam bidang komunikasi, transportasi, multimedia, kamera dan pemotretan jarak jauh, teropong serta pengindraan dari satelit, telah memperluas cakrawala pandang manusia yang memperkaya materi pelajaran IPS

Kontak antar manusia, berita dan informasi baik secara langsung maupun tidak langsung memperluas cara pandang manusia melalui tingkat lokal, regional, sampai global, yang berguna untuk membina perspektif global dalam diri manusia.

Fenomena dan masalah kehidupan dipermukaan bumi merupakan proses yang berkembang dalam ruang tertentu pada perjalanan dari waktu ke waktu. Kenyataan yang demikian, merupakan perpaduan jalinan antara faktor ruang dengan faktor waktu yang mencirikan karakter aspek kehidupan tersebut. Fenomena itu, merupakan hal yang menarik bagi pembelajaran IPS.

3.2 Saran

Dengan mempelajari isu-isu global ini diharapakan kita sebagi calon guru dapat mengetahui isu-isu global yang ter up-date. Kami menyadari makalah ini masih perlu banyak perbaikan. kritik dan saran yang membangun dari pembaca sangat kami harapkan.

Daftar Pustaka

http://blog.unila.ac.id/pargito/2010/07/21/pendidikan-global/

Sumaatmadja, Nursid dkk. ( 2009). Perspektif Global. Jakarta : Universitas Terbuka.

LAMPIRAN

Belajar melalui pendidikan global dapat diintegrasikan dalam pendidikan IPS dengan berbagai cara. Ada lima cara penekanan yang dapat dilakukan guru dalam mengorganisasikan pola pengajaran, ialah dengan memberi tekanan pada:
• Monokultural (monocultural)

• Pengalaman (experience)

• Kontribusi (contributions)

• Antar budaya (intercultural)

• Perorangan (personal)

1) Melalui Monokultural

Pendidikan global ini merupakan pengkajian yang mendalam tentang suatu budaya. Tujuannya adalah membantu siswa agar lebih peduli terhadap masyarakat lain. Materi yang dibahas disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa sekolah dasar atau berdasarkan tingkat kelas.

Pelajaran yang dirancang berdasarkan pada monokultural dapat dengan mudah disisipkan dalam kurikulum IPS di sekolah dasar. Beberapa materi di atas dapat dimodifikasi oleh guru, misalnya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sesuai dengan tingkatan kelas anak-anak.

2) Melalui Pengalaman

Apabila pendekatan monokultural memberikan gambaran yang komprahensif tentang suatu budaya atau etnis tertentu, maka pendekatan pengalaman (experience) cenderung untuk tidak memperhatikan anggota satu kelompok masyarakat melainkan bagaimana peristiwa yang pernah dialami itu mempengaruhi sikap dan perilakunya. Kuatnya peristiwa mempengaruhi perspektif anak dibahas sebagai ciri yang manusiawi.

Ada dua cara mengorganisir bahan pelajaran, ialah melalui cerita pengalaman dan studi kasus.

1) Cerita pengalaman

Cerita pengalaman lebih baik apabila disajikan di kelas 5 atau kelas 6. Anak-anak dapat mempersiapkan cerita pengalaman sebagai tugas (pekerjaan rumah), misalnya menceritakan pengalamannya pada saat berada di luar Jawa atau luar negeri atau dengan cara mewawancarai orang lain yang berasal dari luar Jawa atau luar negeri.

2) Studi kasus

Pendekatan ini melibatkan para siswa dalam studi tentang satu atau lebih aspek budaya tetapi yang mengandung hal-hal yang unik.

3) Melalui kontribusi

Pendekatan ini menekankan pada apa saja kontribusi bangsa lain terhadap budaya kita. Menurut para sejarahwan bahwa Negara kita banyak mendapat kontribusi atau pengaruh dari bangsa lain disamping kita juga telah memiliki aneka ragam budaya.

Melalui pendekatan ini para siswa diajak untuk menyadari hal-hal apa saja negara kita telah mendapat pengaruh dari bangsa lain dan hal-hal apa saja kita telah memberikan pengaruh terhadap bangsa lain. Pendidikan global berusaha membantu para siswa mengapresiasi kontribusi-kontribusi yang terjadi baik pada masa lampau, kini maupun pada masa mendatang.

4) Melalui antarkultural

Pendekatan ini melibatkan para siswa dalam belajar dengan cara membantu mereka membandingkan dan mengkontraskan bagaimana budaya yang beraneka ragam itu dapat menjawab isu-isu yang muncul. Pelajaran disusun untuk membantu para siswa dalam mengapresiasi orang lain dalam menghadapi tantangan sehari-hari dan mengembangkan cara-cara menanggapinya. Teknik pengajaran yang dilakukan oleh guru dapat melalui tabel.

5) Melalui perorangan

Banyak anak yang sering kontak dengan anak lain yang berasal dari daerah atau negara lain. Mungkin karena anak itu mempunyai saudara atau masih satu keluarga sehingga sering berhubungan atau surat-menyurat. Dengan demikian, anak-anak itu hidup dalam lingkungan masyarakat global (dunia). Namun, ada pula anak yang tidak pernah mengetahui bagaimana kehidupan orang yang berbeda di belahan dunia lain. Ia tidak mengetahui bahwa di daerah atau negara lain pun banyak anak-anak seusianya yang berbeda dalam cara hidupnya.

Untuk membantu anak-anak mengenal budaya orang lain, guru dapat mempergunakan media, misalnya globe, peta, foto dan barang-barang hasil karya orang lain (pakaian, makanan, kendaraan, binatang, dsb).

Terdapat pandangan sebagian orang yang keliru terhadap ilmu sosial bukan merupakan berita baru. Hal ini dikarenakan secara epistimologinya dianggap tidak mampu memecahkan patologi sosial yang terjadi di masyarakat. Ketika pelajar bahkan masyarakat tidak mendapatkan apa yang diinginkan atau tidak mendapatkan pelayanan sosial, mereka juga akan menjustifikasi ilmu yang satu ini, termasuk dalam kepincangan bidang politik di Indonesia dan perilaku yang kurang beradab (anti sosial) oleh sebagian masyarakat, maka selalu saja mengumpat eksistensi aktualisasi dari ilmu-ilmu sosial.

Persoalannya bukan tidak dimasukannya IPS dalam Unas, akan tetapi bagaimana ilmu ini menjawab tantangan dan perubahan masyarakat yang dinamis. Menurut Saidiharjo (2004) Pendidikan Ilmu Sosial bertujuan agar peserta didik mampu mengembangkan pengetahuan, sikap dan ketrampilan sosial yang berguna bagi kemajuan dirinya baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. Melalui pembelajaran Ilmu sosial (geografi, sejarah, ekonomi, sosiologi, kewarganegaraan, antropologi), diharapkan peserta didik menjadi lebih matang secara emosional, berpikir rasional, memiliki keterampilan sosial dan intelektual sehingga mampu melahirkan keputusan-keputusan yang tepat berdasarkan situasi dan kondisi yang dialami.

Pembelajaran IPS harus ber-perspektif global. Perpektif global merupakan pandangan dimana guru dan murid secara bersama-sama mengembangkan perspektif dan keterampilan untuk menyelidiki suatu yang berkaitan dengan isu global. (Idealnya tercermin dalam motto “ thingking globally and act locally”). Kumpulan para pakar ilmu sosial seluruh dunia yang berpusat di Amerika yang tergabung dalam wadah “ National Council for the Sosial Studies “ ( NCSS) pada tahun 1994 memberikan sejumlah rambu-rambu kapan pembelajaran IPS akan menjadi sangat kuat (powerful) apabila; 1) Terasa bermakna, yaitu bila siswa mampu menghubungkan pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang dipelajari di sekolah dan luar sekolah, penyampaian bahan ajar ditujukan pada pemahaman, apresiasi dan aplikasinya dalam kehidupan.2) Pendekatan Integratif, yaitu terintegrasi pengetahuan, ketrampilan, sikap, nilai, kepercayaan dan keperbuatan nyata, 3) Berbasis nilai, khususnya menyangkut isu kontroversial yang memberikan ruang berefleksi dan bereaksi sebagai anggota masyarakat, bersikap kritis terhadap isu dan kebijakan sosial, serta menghargai perbedaan pandangan, 4) Bersifat menantang; siswa ditantang untuk mencapai tujuan pembelajaran baik secara individual maupun sebagai anggota kelompok, guru sebagai model untuk mencapai kualitas sesuai standar yang diinginkan, guru lebih menghargai pendapat siswa dengan alasan yang baik daripada pendapat asal-asalan.dan 5) Bersifat aktif, memberi kesempatan berfikir dan terlibat dalam pengambilan keputusan selama pembelajaran, pengajaran harus berbasis aktivitas yang dapat ditemui di lingkungan sosial.

Perasaan malas siswa terhadap pelajaran IPS yang “over load” (tanpa seleksi dan adaptasi) sering diidentikan dengan pelajaran hafalan, mungkin didasarkan pada responden terkondisi, yaitu melihat simbol hafalan menimbulkan emosi negatif diri siswa, dan inilah yang kerap kali menghalangi siswa untuk belajar efektif. Sesungguhnya lingkungan dapat menjadi berpasangan dengan suatu stimulus yang menimbulkan respon-respon emosional positif. Kata-kata guru IPS yang ramah, metode pengajaran yang bagus, pendekatan yang bersifat aktif dan menantang serta terasa bermakna dapat mencegah mereka dari belajar respons-respons yang tidak diinginkan.


BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Dalam pembelajaran di sekolah dasar, suatu system penilaian sangat di perlukan bagi seorang pendidik. Sistem penilaian ini diperlukan seorang guru atau pendidik untuk menilai timgkat keberhasilan belajar seorang siswa. Tanpa adanya penilaian terhadap hasil belajar seorang siswa, guru tidakl akan mengetahui perkembangan anak didiknya. Penilaian ini sudah di tentukan. Seorang guru hanya tinggal melaksanakan apa saja yang harus dinilai dalam suatu proses belajar mengajar. Penilaian itu dapat berupa ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik.

B. RUMUSAN MASALAH

Rumusan masalah dalam makalah ini adalah,

1. Bagaimana ranah kognitif dalam pembelajaran?

2. Bagaimana ranah afektif dalam pembelajaran?

3. Bagaiman kah ranah psikomotorik dalam pembelajaran?

4. Bagaimanakah membuat prosedur kloz?

5. Bagaimanakah cara menilai kecepatan membaca?

6. Bagaimanakah cara menilai membaca bahasa?

7. Bagaimanakah cara menilai membaca pustaka?

8. Bagaimanakah cara skor mentah

C. TUJUAN

Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini secara umum adalah untuk menyelesaikan tugas Pendidikan Bahasa Indonesia dan secara khusus yaitu,

1. Agar pembaca paham mengenai bagaimana ranah kognitif dalam pembelajaran

2. Agar pembaca paham mengenai bagaimana ranah afektif dalam pembelajaran

3. Paham mengenai bagaimana ranah psikomotorik dalam pembelajaran

4. Agar pembaca mengetahui cara membuat prosedur Kloz

5. Agar pembaca mengetahui bagaimana menilai kecepatan membaca

6. Agar pembaca mengetahui cara menilai membaca Bahasa

7. Agar pembaca mengetahui cara menilai membaca Pustaka

8. Agar pembaca mengetahui paham skor mentah

BAB II

PEMBAHASAN

PENILAIAN PENGAJARAN MEMBACA DI SEKOLAH DASAR

1. RANAH KOGNITIF

Ranah kognitif berhubungan dengan pengetahuan, kemampuan berfikir dan memecahkan masalah. Ranah ini terbagi dalam 6 aspek yaitu:

A. Pengetahuan

Dimaksudkan sebagai kemapuan mengingat materi yang telah dipelajari berupa fakta-fakta, teori dan prinsip-prinsip. Dalam aspek ini pernyataan yang dapat disusun adalah jelaskan, sebutkan, nyatakan, pilihlah dan sebagainya.

Dalam penilaian membaca, mengukur kemampuan siswa mengingat fakta-fakta yang ada dalam bacaan, menjeasskan kejadian dalam suatu cerrita, adalah mengukur kemampuan dalam aspek ini.

B. Pemahaman

Dimaksudkan sebagai kemampuan menangkap arti materi sauatu pelajaran. Siswa diharapkan mampu menjelaskan kembali yang telah dipelajarinya. Pertanyaan yang dapat diajukan: jelaskan kembali, ceritakan kembali dengan bahasamu sendiri bedakan, beri contoh, menyimpulkan tema bacaan, dan seterusnya.

C. Aplikasi

Aspek ini didefinisikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi pelajaran yang telah diterima pada situasi yang nyata. Selain tes, pengukuran pada aspek ini dapat pula dilakukan dengan pemberian tugas. Pertanyaan yang dapat disusun adalah hubungan, terapkan, buat sketsa.

D. Analisi

Kemampuan membagi materi menjadi bagian yang lebih sederhana adalah kemampuan dalam aspek ini. Siswa dapat membuat diagram kerangkan bacaan membandingkan watak-watak pelaku adlah sebagai contoh dalam kemampuan ini.

E. Sintesis

Kemampuan dalam bidang ini kebalikan dari aspek analisis. Bila kemampuan analisis dapat menguraikan materi menjadi bagian-bagian maka kemampuan sistesis justru menggabungkan bagian-bagian menjadi sesuatu yang baru. Contohnya: siswa dapat menyusun kerangk, membuat synopsis cerita, menyusun laporan bacaan dan sebagainya.

F. Evaluasi

Kemampuan evaluasi ialah kemampuan mengambil keputusan untuk memberikan penilaian terhadap suatu materi pelajaran. Misalnya dapat menilai kejanggalan suatu karangan, dapat menunjukkan bagian cerita yang paling jelas menunjukkan tema, atau dapat menilai kebenaran suatu ceriata.

2. RANAH AFEKTIF

Sikap,apresiatif, dan minat siswa terhadap materi pelajran adalah kemampuan yang berhubunagn dengan ranah ini. Dalam pengajaran membaca guru dapat mengukur kemmpuan ini dengan melihat motivasi, minat dankebiasaan membaca siswanya.pengukuran melalui tes dalam ranah ini agak jarang dilakukan guru karena menyangkut instrument yang agak rumit. Namun tidak ada halangan bila guru hendak melakukan secara sederhana. Sebgai contoh anda ingin mengetahui minat membaca siswa, maka anda dapat melihat seberapa jauh siswa tersebut acuh dengan berbagai tofik bacaan. Untuk mengukur apresiasi siswa, guru dapat memintak siswa mengungkapkan perasaan atau simpatiknya terhadap pelaku cerita.

3. RANAH PSIKOMOTOR

Ranah ini berkaitan dengan keterampilan fisik. Dapat membaca dengan sikap yang benar , membaca dengan lafal dan arti kulasi yang baik adalah contoh-contoh kemampuan dalam bidang ini.

Ø Alat penilaian

Alat penilaian yang digunakan dalam pengajran bahsa pada dasarnya sama dengan yang digunakan di dalam pengajaran lainnya. Alat ini dapat berupa tes dan non tes seperti wawancara, abservasi,

Sedang penilaian tes ditinjau dari pelaksanaanya, dibagi tiga bentuk yakni:

a. Tes tindakan, adalah tes yang mengharapkan jawaban dari siswa dalam bentuuk perbuatan. Dalam pengajaran membaca misalnya, siswa diminta melaporkan kegiatan membaca, menceritakan kembali isi bacaan, dan sebagianya.

b. Tes lisan, adalah tes yang mengharapkan jawaban dari siswa secara lisan. Yanta jawab yang dilakukan guru setelah kegiatan membaca merupakan bentuk tes ini.

c. Tes tertulis, tes yang mengharapkan jawaban dari siswa secara tertulis, yaitu soal jawaban singkat, soal benar-salah, soal pilihan bergandan dan essei.

Ø Cara Membuat Prosedur Kloz

Pilihlah utipan bacaan yang panjangnya lebih kurang 250 kata. Biarkan kalimat pertama dan terakhir utuh sebagaimana adanya. Mulai kalimat kedua hilangkan setiap kata kelima dari seluruh bacaan. Ganti setiap kata yang dihilangkan dengan sebuah spasi yang digaris bawahi. Bila kata kelima kebetulan sebuah kata bilangan biarkan kata itu tetap adanya. Kata berikutnya dihitung sebagai sebagai kata kelima

Contoh:

Kita semua tak ingin kelaparan. Kita semua takut menderita………oleh karena itu, sejak….. kita harus berusaha melawan …… membatassi penghuni bumi. Penduduk…….., manusia, tidak boleh bertambah…… . Pertambahan penduduk perlu diatur…….. semua mendapat tempat dan………makan minum secukupnya. Harus sedikit saja bayi yang dilahirkan ayah ibu.

Kata-kata yang dihilangkan ialah: kelaparan, dini, dengan, bumi, banyak, agar, mendapat.

a. Menskor tes kloz

Untuk memberi skor pada tes ini dapat dilakukan dua cara. Pertama, yang dinilai ialah kata yag persis sama dengan kata yang dihilangkan. Di luar kata itu salah. Yang kedua ialah dengan membenarkan kata apa saja yang dapat menggantikan kata yang dihilangkan, asal makna kata dan struktur kalimatnya dapat diterima. Misalnya agar di isikan ‘supaya’

b. Soal benar salah

Soal benar salah terdiri dari sebuah pernyataan. Jawaban siswa hanya ada dua kemungkinan benar atau salah. Kemampuan yang dapat diukur dengan soal ini ialah fakta, istilah, makna kata dan sejenisnya. Ada hal-hal yang harus diperhatikan dalam membuat bentuk ini:

v Pernyataan harus jelas, 100% salah atau 100% benar.

v Pernyataan tidak terlalu panjang dan rumit.

v Jumlah pernyataan yang salah dan benar harus seimbang. Misal: 10 soal untuk salah dan 10 soal untuk benar.

c. Soal pilihan ganda

Soal pilihan ganda sangat umum dipakai dalam tes membaca. Bentuk soal ini sangat fleksibel karena mampu mengukur semua jenjang ranah kognitif. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam membuat soal bentuk ini:

v Kata-kata dan tata kalimat yang digunakan dalam soal-soal yang diberikan haruslah dibuat semudah mungkin.

v Pokok soal harus menjelaskan keterangan yang dinyatakan.

v Membuat jawaban yang salah atau pengecohan usahakan menimbulkan keraguan-keraguan

v Semua kemungkinan jawaban yang diberikan harus merangsang pengikut ujian membaca dengan teliti bacaan yang disajikan.

d. Soal menjelaskan (esei)

Soal esei banyak dipakai guru untuk menguji kemampuan siswa karena selain tampak pembauatannya lebih mudah, juga tidak semua jenjang kemampuan membaca siswa dpat diukur oleh soal objektif. Misalnya, menafsirkan bacaan sastra tidak dapat diukur oleh soal objektif. Karena itu soal bentuk esei disarankan tetap dibuat.

Macam soal esei ada dua yaitu soal dengan jawaban terbatas dan soal dengan jawaban bebas.

1. Soal dengan jawaban terbatas

Soal jenis ini membatasi isi dan bentuk jawaban siswa. Pembatasan tersebut dinyatakan dalam soal-soal dengan jawaban bebas. Contoh:

Ayah ibu membentuk keluarga kecil.

Keluarga berencana itu keluarga Pancawarga, terdiri dari 5 orang keluarga. Dan dua anak sudah cukup. Orang telah menemukan caranya. Namun catur warga lebih utama, ayah ibu dengan dua orang anak.

Urutkan kalimat-kalimat diatas menjadi paragraph!

2. Soal dengan jawaban bebas

Soal essai dengan jawaban bebas menghendaki jawaban yang lebih luas sesuai dengan pengalaman belajar siswa. Contoh soal: menurut pendapatmu mengapa keluarga caturwarga lebih utama?

Ø Cara menilai kecepatan membaca

Dalam pengajaran membaca cepat, siswa tidak saja diajarkan dapat membaca cepat tetapi juag adapat memahami isinya. Membaca cepat dapat dilakukan dalam hati. Untuk mengetahui apakah siswa dapat membaca dengan cepat serta pemahaman yang tinggi dapat diukur dengan rumus:

Jumlah kata dalam bacaan x persentase pemahaman isi=…….. kpm

Lama membaca dalam detik : 60

Hasil pengukuran ini menunjukkan kemampuan membaca siswa dalam satuan kata per menit (Kpm). Perlu diperhatikan dalam mengukur waktu baca yang diperlukan adalah detik, karena lama membaca tidak selalu tepat dalam emnit. Pergunakan alat bantu ‘stopwacth’.

· Prosedur penilaian

1. Berikan bacaan yang benar-benar belum dibaca oleh siswa

2. Tetapkanlah lama waktu membaca dan pergunakanlah criteria kecepatan membaca yang diajukan oleh prof. Dr. H.G. Tarigan.

3. Pergunakan stopwatch untuk memulai membaca dengan serentak sampai selesai.

Ø Cara menilai membaca bahasa

Tujuan membaca bahasa ialah agar siswa memiliki pengetahuan kebahasaan dari membaca. Unsure-unsur yang dapat dinilai dalam membaca ini ialah :

1. Pengetahuan akan kosa kata yang diambil dari bacaan

2. pengetahuan akan kaidah kebahasaan.

· Prosedur Penialaian

Berilah setiap siswa sebuah bacaan. Terangkan kepada siswa bahwa dalam bacaan tersebut terdapat berbagai kesalahan, dan siswa diharapkan memperbaiki kesalahan tersebut dengan cara menggaris bawahi kata-kata yang dianggap salah tersebut dengan kata-kata yang dianggap benar dengan cara menuliskan kata yang benar di atas kata yang dianggap salah.

Ø Cara Menilai Membaca Pustaka

Tujuan membaca pustaka ialah AGAR SISWA SECARA MANDIRI dapat membaca dan memanfaatkan perpustakaan. Karena itu unsure yang dinilai dalam membaca ini ialah keterampilan dalam memanfaatkan perpustakaan. Unsur-unsur tersebut ialah

1. Kemampuan menyusun kata-kata dalam susunan alfabetis, dan

2. Kemampuan memanfaatkan keterangan yang ada dalam kartu katalog.

· Prosedur penilaian

1. Guru menyiapkan sejumlah kata dan contoh kartu catalog

2. Guru menjelskan kepada siswa bahwa mereka harus menyusun kata-kata tersebut dalam susunan alfabetis

Ø Skor mentah

Mengolah hasil tes yang paling mudah dan sederhana yang dapat anda lakukan ialah dengan cara skor mentah. Skor mentah diperoleh dengan cara menjumlahkan semua jawaban yang benar. Kemudian dari skor tersebut disusun dalam rengking yang sederhana. Maka anda dapat memperoleh informasi kedududkan siswa pada kelompoknya.

BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Penilaian dalam suatu proses belajar mengajar sangat di perlukan. Hal ini sangat di perlukan seorang pendidik untuk mengetahui perkembangan dan keberhasilan peserta didiknya. Tanpa suatu penilaian seorang guru tidak dapat mrngetahui di mana kelemahan dan kelebihan anak didiknya. Penilain ini dapat berupa penilaian kognitif, afektif, dan psikomotorik.

B. SARAN

Seorang pendidik hendaknya mengetahui aspek-aspek apa saja yang harus ada dalam suatu penilaian di sekolah dasar.Agar guru tersebut dapat mengetahui kelemahan, kelebihan, serta batas kemampuan yang telah di capai anak didiknya.

DAFTAR PUSTAKA