BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan manajemen pembelajaran untuk mencapai satu atau lebih kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar Isi dan dijabarkan dalam silabus. RPP merupakan komponen penting dari kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), yang pengembangannya harus dilakukan secara professional. Tugas guru yang paling utama terkait dengan RPP berbasis KTSP adalah menjabarkan silabus ke dalam RPP yang lebih operasional dan rinci, serta siap dijadikan pedoman atau scenario dalam pembelajaran. Dalam pengembangan RPP, guru diberikan kebebasan untuk mengubah, memodifikasi, dan menyesuaikan silabus dengan kondisi sekolah dan daerah, serta dengan karakteristik peserta didik. Agar guru dapat membuat RPP yang efektif, dan berhasil guna, dituntut untuk memahami berbagai aspek yang berkaitan dengan hakekat, fungsi, prinsip, dan prosedur pengembangan, serta cara mengukur efektifitas pelaksanaan dalam pembelajaran.

Dalam makalah ini akan dibahas mengenai cara membuat rencana pelaksanaan pembelajaran yang sesuai dengan prosedur yang berlaku.

B. RUMUSAN MASALAH

Rumusan masalah dalam makalah ini adalah,

1. Apa hakikat dari perencanaan?

2. Apa fungsi RPP?

3. Bagaimana prinsip pengembangan RPP?

4. Bagaimana cara pengembangan RPP?

5. Bagaimana kinerja guru dalam pembuatan RPP?

6. Bagaimana format RPP berbasis KTSP?

C. TUJUAN

Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah,

1. Agar pembaca mengetahui hakikat perencanaan,

2. Agar pembaca mengetahui fungsi RPP,

3. Agar pembaca memahami prinsip pengembangan RPP,

4. Agar pembaca memahami cara pengembangan RPP,

5. Agar pembaca memahami kinerja guru dalam pembuatan RPP,

6. Agar pembaca mengetahu format RPP berbasis KTSP.

BAB II

PEMBAHASAN

CARA MEMBUAT RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan manajemen pembelajaran untuk mencapai satu atau lebih kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar Isi dan dijabarkan dalam silabus. RPP merupakan komponen penting dari kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), yang pengembangannya harus dilakukan secara professional. Tugas guru yang paling utama terkait dengan RPP berbasis KTSP adalah menjabarkan silabus ke dalam RPP yang lebih operasional dan rinci, serta siap dijadikan pedoman atau scenario dalam pembelajaran. Dalam pengembangan RPP, guru diberikan kebebasan untuk mengubah, memodifikasi, dan menyesuaikan silabus dengan kondisi sekolah dan daerah, serta dengan karakteristik peserta didik. Agar guru dapat membuat RPP yang efektif, dan berhasil guna, dituntut untuk memahami berbagai aspek yang berkaitan dengan hakekat, fungsi, prinsip, dan prosedur pengembangan, serta cara mengukur efektifitas pelaksanaan dalam pembelajaran.

A. HAKIKAT PERENCANAAN

Rencana pelaksaan pembelajaran pada hakekatnya merupakan perencanaan jangka pendek untuk memperkirakan atau memproyeksikan apa yang akan dilakukan dalam pembelajaran. Dengan demikian, RPP merupakan upaya untuk memperkirakan tindakan yang akan dilakukan dalam kegiatan pembelajaran. RPP perlu dikembangkam untuk mengkoordinasikan komponen-pembelajaran yakni, kompetensi dasar, materi dasar, indicator hasil belajar, dan penilaian. Kompetensi dasar berfungsi mengembangkan potensi peserta didik, materi dasar berfungsi memberi makna terhadap kompetensi dasar, indicator hasil belajar berfungsi menunjukkan keberhasilan pembentukkan kompetensi peserta didik, sedangkan penilaian berfungsi mengukur pembentukkan kompetensi, dan menentukan tindakan yang harus dilakukan apabila kompetensi dasar belum terbentuk atau belum tercapai.

Rencana Pelaksanaan pembelajaran KTSP yang akan bermuara pada pelaksanaan pembelajaran, sedikitnya mencakup tiga kegiatan yaitu identifikasi kebutuhan, perumusan kompetensi dasar, dan penyusunan program.

1. Identifikasi Kebutuhan

Kebutuhan merupakan kesejangan antara apa yang seharusnya dengan kondisi yang sebenarnya, atau sesuatu yang harus dipenuhi untuk mencapai tujuan. Pada tahap ini, eloknya guru melibatkan peserta didik untuk mengenali, menyatakan, dan merumuskan kebutuhan belajar, sumber-sumber yang tersedia dan hambatan yang mungkin dihadapi dalam kegiatan pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar.

Identifikasi kebutuhan bertujuan antara lain untuk melibatkan dan memotivasi peserta didik agar kegiatan belajar dirasakan oleh mereka sebagai bagian dari kehidupannya dan mereka merasa memilikinya. Hal ini dapat dilakukan dengan prosedur sebagai berikut,

a) Peserta didik didorong untuk menyatakan kebutuhan belajar berupa kompetensi tertentu yang ingin mereka miliki dan diperoleh melalui kegiatan pembelajaran.

b) Peserta didik didorong untuk mengenali dan mendayagunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk memenuhi kebutuhan belajar.

c) Peserta didik dibantu mengenal dan menyatakan kemungkinan adanya hambatan dalam upaya memenuhi kebutuhan belajarnya, baik yang akan datang dari dalam (internal) maupun dari luar (eksternal).

Ketiga hal tersebut dapat dilakukan baik secara perorangan maupun kelompok. Secara perorangan peserta didik mengekspresikan pendapat masing-masing secara langsung dan guru membantu mereka dalam menyusun kebutuhan belajar beserta hambatan-hambatannya. Secara kelompok peserta didik mendiskusikan kebutuhan belajar sehingga menjadi kesepakatan berkelompok.

2. Identifikasi Kompetensi

Kompetensi merupakan sesuatu yang ingin dimiliki oleh peserta didik, dan merupakan komponen utama yang dirumuskan dalam pembelajaran, yang memiliki peran penting dan menetukan arah pembelajaran. Kompetensi yang jelas akan member petunjuk yang jelas pula terhadap materi yang harus dipelajari, penetapan metode dan media pembelajaran, serta memberi petunjuk terhadap penilaian. Oleh karena itu, setiap kompetensi harus merupakan perpaduan dari pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang direflesikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Uraian di atas mengisyaratkan bahwa pembentukan kompetensi melibatkan intelegensi quotion (IQ), emosional intelegensi (EI), creativity inteligensi (CI), yang secara keseluruhan harus tertuju pada pembentukkan spiritual intelegensi (SI). Dengan demikian terdapat hubungan antara tugas-tugas yang dipelajari peserta didik di sekolah dengan kemampuan yang diperlukan oleh dunia kerja, dan untuk hidup bermasyarkat. Untuk itu, pengembangan KTSP yang efektif menuntut kerja sama yang baik antara sekolah/ satuan pendidikan dengan masyarakat dan dunia usaha, terutama dalam mengindentifikasi dan menganalisis kompetensi yang perlu dan dimiliki oleh peserta didik.

Kompetensi yang harus dipelajari dan dimiliki peserta didik perlu dinyatakan sedemikian rupa agar dapat dinilai, sebagai wujud hasil belajar yang mengacu pada pengalaman langsung. Peserta didik perlu mengetahui tujuan belajar, dan tingkat-tingkat penguasaan yang akan sebagai criteria pencapaian secara eksplisit, dikembangankan berdasarkan tujuan-tujuan yang telah ditetapkan, dan memiliki konstribusi terhadap kompetensi-kompetensi yang sedang dipelajari. Penilaian pencapaian kompetensi perlu dilakukan secara objektif, berdasarkan kinerja peserta didik, dengan bukti penguasaan mereka terhadap suatu kompetensi sebagai hasil belajar. Dengan demikian dalam pembelajaran yang dirancang berdasarkan kompetensi, penilaian tidak dilakukan berdasarkan pertimbangan yang bersifat subyektif.

3. Penyusunan Program Pembelajaran

Penyusunan program memberikan arah kepada suatu program dan membedakannya dengan tujuan lain. Berdasarkan hal tersebut keputusan dibuat dalam menentukan kegiatan apa yang akan dilakukan dan untuk kelompok sasaran mana, sehingga program itu menjadi pedoman yang konkrit dalam pengembangan program selanjutnya.

Penyusunan program pembelajaran akan bermuara pada rencana pelaksanaan pembelajaran, sebagai produk program pembelajaran jangka pendek, yang mencakup komponen program kegiatan belajar dan proses pelaksanaan program. Komponen program mencakup dasar, materi standar, metode dan teknik, media dan sumber belajar, waktu belajar dan daya dukung lainnya. Dengan demikian rencana pelaksanaan pembelajaran pada hakikatnya merupakan suatu sistem, yang terdiri atas komponen-komponen yang saling berhubungan serta berinteraksi satu sama lain, dan memuat langkah-langkah pelaksanaannya, untuk mencapai tujuan atau membentuk kompetensi.

B. FUNGSI RPP

Pengembangan RPP, harus diawali dengan pemahaman terhadap arti dan tujuannya, serta menguasai secara teoritis dan praktis unsure-unsur yang terdapat di dalamnya. Kemampuan membuat RPP merupakan langkah awal yang harus dimiliki guru dan calon guru, serta sebagai muara dari segala pengetahuan teori, keterampilan dasar, dan pemahaman yang mendalam tentang objek belajar dan situasi belajar. Rencana Pelaksanaan pembelajaran merupakan suatu perkiraan atau proyeksi guru mengenai seluruh kegiatan yang akan dilakukan baik oleh guru maupun peserta didik, terutama dalam kaitannya dengan pembentukkan kompetensi. Dalam RPP harus jelas kompetensi dasar yang akan dimiliki oleh peserta didik, apa yang harus dimiliki, apa yang harus dipelajari, bagaimana mempelajarinya, serta bagaimana guru mengetahui bahwa peserta didik telah menguasai atau memiliki kompetensui tertentu. Aspek-aspek tersebut merupakan unsur utama yang secara minimal harus ada dalam setiap RPP sebagai pedoman guru dalam melaksanakan pembelajaran, dan membentuk kompetensi peserta didik.

Sedikitnya tersebut dua fungsi RPP dalam KTSP. Kedua fungsi tersebut adalah fungsi perencanaan dan fungsi pelaksanaan.

1. Fungsi Perencanaan

Fungsi perencanaan RPP dalam KTSP adalah bahwa rencana pelaksanaan pembelajaran hendaknya dapat mendorong guru lebih siap melakukan kegiatan pembelajaran dengan perencanaan yang matang. Oleh karena itu, setiap akan melakukan pembelajaran guru wajib memiliki persiapan, baik persiapan tertulis maupun tidak tertulis. Komponen-komponen yang harus dipahami guru dalam pengembangan KTSP antara lain, kompetensi dasar, materi standar, hasil belajar, indicator hasil belajar, penilaian, dan prosedur pembelajaran.

2. Fungsi Pelaksanaan

Dalam pengembangan KTSP, rencana pelaksanaan pembelajaran harus disusun secara sistematik dan sistematis, utuh dan menyeluruh, dengan beberapa kemungkinan penyesuaian dalam situasi pembelajaran yang actual. Dengan demikian, rencana pelaksanaan pembelajaran berfungsi untuk mengefektifkan proses pembelajaran sesuai dengan apa yang direncanakan. Dalam hal ini, materi standar yang dikembangkan dan dijadikan bahan kajian oleh peserta didik harus disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuannya, mengandung nilai fungsional, praktis, serta disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan lingkungan, sekolah, dan daerah. Oleh karena itu, kegiatan pembelajaran harus terorganisasi melalui serangkaian kegiatan tertentu, dengan strategi yang tepat dan mumpuni.

C. PRINSIP PENGEMBANGAN RPP

Pengembangan rencana pelaksanaan pembelajaran harus memperhatikan perhatian dan karakteristik peserta didik terhadap materi standar yang dijadikan bahan kajian. Dalam hal ini, harus diperhatikan agar guru jangan berperan sebagai transformator, tetapi harus berperan sebagai motivator yang dapat membangkitkan gairah dan nafsu belajar, serta mendorong peserta didik untuk belajar, dengan menggunakan berbagai variasi media, dan sumber belajar yang sesuai, serta menunjang standar kompetensi dan kompetensi dasar. Untuk kepentingan tersebut, terdapat pengembangan rencana pelaksanaan pembelajaran dalam menyukseskan implementasi KTSP, sebagai berikut.

1. Kompetensi yang dirumuskan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran harus jelas, makin konkrit kompetensi makin mudah diamati, dan makin tepat kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan untuk membentuk kompetensi tersebut.

2. Rencana pelaksanaan pembelajaran harus sederhana dan fleksibel, serta dapat dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran, dan pembentukan kompetensi peserta didik.

3. Kegiatan yang disusun dan dikembangkan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran harus menunjang dan sesuai dengan kompetensi dasar yang akan diwujudkan.

4. Rencana pelaksanaan pembelajaran yang dikembangkan harus utuh dan menyeluruh, serta jelas pencapaianya.

5. Harus ada koordinasi antarkomponen pelaksana program di sekolah, terutama apabila pembelajaran dilaksanakan secara tim atau dilaksanakan di luar kelas, agar tidak menganggu jam-jam pelajaran yang lain.

Oleh karena itu, perlu dilakukan pembagian tugas guru, penyusunan kalender pendidikan dan jadwal pembelajaran, serta pembagian waktu yang digunakan secara proprosional, penetapan penilaian, penetapan norma kenaikan kelas dan kelulusan, pencatatan kemajuan belajar, pembelajaran remedial, program percepatan (akselerasi), peningkatan kualitas pembelajaran, dan pengisian waktu jam kosong.

Dalam kaitannya dengan rencana pelaksanaan pembelajaran, terdapat beberapa hal penting yang perlu diperhatikan. Pertama, persiapan merupakan suatu proses yang diarahkan pada tindakan mendatang mendatang, misalnya untuk pembentukan kompetensi, dan mungkin akan melibatkan orang lain, seperti pengawas, dan komite sekolah, bahkan orang tua peserta didik. Kedua, persiapan diarahkan pada tindakan di masa mendatang, yang dihadapkan kepada berbagai masalah, tantangan dan hambatan yang tidak jelas, dan tidak pasti. Sementara itu, pengetahuan masa depan sangat terbatas, sehingga mempersulit prediksi, khususnya memperkirakan kegiatan dalam kelas, apalagi dalam era globalisasi sekarang ini. Ketiga, rencana pelaksanaan pembelajaran sebagai bentuk kegiatan perencanaan erat hubungannya dengan bagaimana sesuatu dapat dikerjakan, oleh karena itu RPP yang baik adalah yang dapat dilaksanakan secara optimal dalam pembelajaran dan pembentukkan kompetensi.

Guru professional harus mampu mengembangkan RPP yang baik, logis, dan sistematis; karena di samping untuk melaksanakan pembelajaran, RPP mengemban “professional accountability”, sehingga guru dapat mempertanggungjawabkan apa yang dilakukannya. Rencana pelaksanaan pembelajaran yang dikembangkan guru memiliki makna yang cukup mendalam bukan hanya kegiatan rutinitas untuk memenuhi kelengkapan administrative tetapu merupakan cermin dari pandangan, sikap, dan keyakinan professional guru mengenai apa yang terbaik untuk peserta didiknya. Oleh karena itu, setiap guru harus memiliki RPP yang matang sebelum melaksanakan pembelajaran, baik persiapan tertulis maupun tidak tertulis.

Cynthia (1993: 113), mengemukakan bahwa proses pembelajaran yang dimulai dengan fase perkembangan rencana pelaksanaan pembelajaran, ketika kompetensi dan metodologi telah diidentifikasi, akan membantu guru dalam mengorganisasikan materi standar, serta mengantisipasi peserta didik dan masalah-masalah yang mungkin akan timbul dalam pembelajaran. Sebaliknya, tanpa rencana pelaksanaan pembelajaran, sesorang guru akan mengalami hambatan dalam proses pembelajaran yang dilakukan.

Dengan RPP yang optimal, guru dapat mengorganisasikan kompetensi dasar yang akan dicapai dalam pembelajaran secara lebih terarah. Rencana pelaksanaan pembelajaran merupakan hal penting yang harus dilakukan guru untuk menunjang pembentukan kompetensi pada diri peserta didik. Dalam hal ini, guru harus mengembangkan perencanaan dalam bidangnya untuk jangka waktu satu tahun atau satu semester, beberapa minggu atau beberapa jam saja.

Rencana pelaksanaan pembelajaran berisi garis besar apa yang akan dikerjakan oleh guru dan peserta didik selama proses pembelajaran, baik untuk satu kali pertemuan maupun meliputi beberapa kali pertemuan. Guru yang belum berpengalaman pada umumnya memerlukan perencanaan yang lebih rinci dibandingkan dengan guru yang sudah berpengalaman.

Identifikasi kompetensi merupakan langkah pertama yang harus dilakukan dalam pengembangan RPP, karena beberapa materi standar mungkin memiliki lebih dari satu kompetensi dasar. Di samping itu, perlu ditetapkan pula focus kompetensi yang diharapkan dari peserta didik sebagai hasil akhir pembelajaran. Kompetensi ini juga akan menjadi pedoman bagi guru dalam menentukan materi standar yang akan digunakan dan pendekatan pembelajaran yang tepat untuk membentuk kompetensi peserta didik.

D. CARA PENGEMBANGAN RPP

Cara pengembangan RPP dalam garis besarnya dapat mengikuti langkah-langkah sebagai berikut.

1. Mengisi kolom identitas

2. Menentukan alokasi waktu yang dibutuhka untuk pertemuan yang telah ditetapkan

3. Menentukan standar kompetensi dan kompetensi dasar, serta indicator yang akan digunakan yang terdapat pada silabus yang telah disusun

4. Merumuskan tujuan pembelajaran berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar, serta indicator yang telah ditetapkan

5. Mengidentifikasi materi standar berdasarkan materi pokok/ pembelajaran yang terdapat dalam silabus. Materis standar merupakan uraian dari materi pokok/pemeblajaran.

6. Menetukan metode pembelajaran yang akan digunakan.

7. Merumuskan langkah-langkah pembelajaran yang akan terdiri dari kegiatan awal, inti, dan akhir.

8. Menentukan sumber belajar yang digunakan

9. Menyusun criteria penilaian, lembar pengamatan, contoh soal, dan teknik penskoran.

E. KINERJA GURU DALAM PENGEMBANGAN RPP

Proses pembelajaran dimulai dengan fase persiapan untuk mengembangkan kompetensi dasar, indicator hasil belajar, dan materi standar sedemikian rupa. Ornstein (1990: 465) merekomendasikan bahwa untuk membuat rencana pelaksanaan pembelajaran yang efektif harus berdasarkan pengetahuan terhadap; tujuan umum sekolah, tujuan mata pelajaran, kemampuan, sikap, kebutuhan, dan minat peserta didik, isi kurikulum dan unit-unit pelajaran, serta teknik-teknik pembelajaran jangka pendek.

Perencanaan merupakan suatu bentuk dari pengambilan keputusan. Sehubungan dengan itu rencana pelaksanaan pembelajaran yang dikembangkan oleh guru menurut Ornstein (1990: 465-466) keputusannya akan dipengaruhi oleh dua area yaitu, (1) pengetahuan guru terhadap bidang studi yang ditekankan pada organisasi dn penyajian materi, pengetahuan akan pemahaman peserta didik terhadap materi dan pengetahuan tentang bagaimana mengajarkan materi tersebut, dan (2) pengetahuan guru terhadap sistem tindakan yang ditekankan pada aktifitas guru seperti mendiagnosis, mengelompokkan, mengatur dan mengevaluasi peserta didik.

Guru merupakan pengembang kurikulum bagi kelas yang akan menerjemahkan, menjabarkan, dan mentransformasikan nilai-nilai yang terdapat dalam kurikulum kepada peserta didik. Dalam hal ini, tugas guru tidak hanya mentransfer pengetahuan akan tetapi lebih dari itu, yaitu membelajarkan anak supaya dapat berfikir integral dan komprehensif, untuk membentuk kompetensi dan mencapai makna tertinggi.

Langkah pertama yang ditempuh guru dalam mengembangkan rencana pelaksanaan pembelajaran adalah mengidentifikasi dan mengelompokkan kompetensi yang ingin dicapai setelah proses pembelajaran. Kompetensi yang ingin dikembangakan harus mengandung muatan yang menjadi materi standar, yang dapat diidentifikasi berdasarkan keputusan peserta didik, kebutuhan masyarakat, ilmu pengetahuan, dan filsafat. Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengidentifikasi kompetensi, yaitu, hendaknya mengandung unsure proses dan produk, bersifat spesifik dan dinyatakan dalam bentuk perilaku nyata, mengandung pengalaman belajar yang diperlukan untuk mencapai kompetensi tersebut, pembentukkan kompetensi seringkali membutuhkan waktu relative lama, harus realistis dan dapat dimaknai sebagai kegiatan atau pengalaman belajar tertentu, serta harus komprehensif, artinya berkaitan dengan visi dan misi sekolah.

Langkah kedua adalah mengembangkan materi standar. Materi standar merupakan isi kurikulum yang diberikan kepada peserta didik dalam proses pembelajaran dan pembentukkan kompetensi. Secara umum, materi standar mencakup tiga komponen utama yaitu ilmu pengetahuan, proses, dan nilai-nilai, yang dapat dirinci sesuai dengan kompetensi dasar, serta visi dan misi sekolah.

Langkah ketiga dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran adalah menentukan metode. Penentuan metode pembelajaran erat kaitannya dengan pemilihan strategi pembelajaran yang paling efisien dan efektif dalam memberikan pengalaman belajar yang diperlukan untuk membentuk kompetensi dasar. Dalam hal ini, stretegi pembelajaran merupakan kegiatan guru dalam melakukan proses pembelajaran dan pembentukan kompetensi yang dapat memberikan kemudahan kepada peserta didik untuk mencapai tujuan.

Langkah terakhir dalam mengembangkan rencana pelaksanaan pembelajaran adalah merencanakan penilaian. Sejalan dengan KTSP yang berbasis kompetensi penilaian hendaknya dilakukan berdasarkan apa yang dilakukan oleh peserta didik selama proses pembelajaran dan pembentukan kompetensi. Oleh karena itu, penilaian hendaknya dilakukan berbasis kelas dan ujian dilakukan berbasis sekolah. Tyler (1986) mengatakan bahwa penilaian pembelajaran dimaksudkan untuk mengetahui tercapai tidaknya pembelajaran yang telah dilaksanakan yang mencakup semua komponen pembelajaran baik proses maupun hasilnya.

Guru yang memiliki kinerja tinggi akan berusaha meningkatkan kompetensinya, baik dalam kaitannya dengan perencanaan, pelaksanaan, maupun penilaian pembelajaran, sehingga diperoleh hasil kerja yang optimal. Sedikitnya terdapat sepuluh faktor yang dapat meningkatkan kerja guru yaitu.

1. Dorongan Untuk Bekerja

Seseorang akan melakukan sesuatu atau bekerja untuk memenuhi kebutuhan dan merealisasikan keinginan yang menjadi cita-citanya. Maslow (1970) menyusun suatu teori tentang kebutuhan manusia yang bersifat hierarkis dan dikelompokkan menjadi lima tingkat yaitu kebutuhan fisiologis, rasa aman, kasih sayang, harga diri, dan aktualisasi diri.

Kebutuhan fisiologis merupakan kebutuhan yang paling rendah tingkatannya, dan memerlukan pemenuhan yang paling mendesak. Kebutuhan rasa aman adalah kebutuhan tingkat kedua. Kebutuhan ini adalah suatu kebutuhan yang mendorong individu untuk memperoleh kententraman, kepastian, dan keteraturan dari keadaan lingkungannya, misalnya kebutuhan akan pakaian, tempat tinggal, dan perlindungan atas tindakan kesewenang-wenangan.

Kebutuhan kasih sayang mendorong individu untuk mengadakan hubungan afektif atau ikatan emosional dengan individu lain. Kebutuhan akan rasa harga diri terdiri dari bagian yaitu penghargaan dari diri sendiri dan penghargaan dari orang lain. Kebutuhan aktualisasi diri merupakan kebutuhan yang paling tinggi dan akan muncul apabila kebutuhan yang ada dibawahnya telah terpenuhi dengan baik.

Dari uraian di atas, tampak bahwa kecendrungan dan intensitas perbuatan seseorang dalam bekerja kemungkinan besar dipengaruhi oleh jenis kebutuhan yang ada pada diri seseorang. Demikian halnya guru dalam mengembangkan rencana pelaksanaan pembelajaran tentu dipengaruhi oleh keinginan-keinginan yang kuat sesuai dengan peranannya, maka akan berusaha melakukan tugas-tugas yang berkaitan dengam upaya penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran secara optimal.

2. Tanggung Jawab Terhadap Tugas

Setiap guru memiliki tanggungjawab terhadap sejumlah tugas harus dilakukan sesuai dengan jabatannya. Motivasi kerja guru di sekolah akan ditentukan oleh besar kecilnya tanggung jawab yang diembannya dalam melaksanakan tugas. Tanggung jawab tersebut memberikan kebebasan bagi guru untuk memutuskan apa yang dihadapinya dan bagaimana menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepadanya.

Tanggung jawab merupakan tuntutan dalam melaksanakan tugas dan kewajiban, sehingga guru yang bertanggungjawab akan berusaha melaksankan tugas dan kewajiban dengan baik. Tanggung jawab guru dalam mengembangkan rencana pelaksanaan pembelajaran berkaitan dengan budaya kerja dan budaya malu. Budaya kerja berkaitan dengan upaya guru yang tidak segera puas atas hasil yang dicapainya. Budaya malu menunjuk pada suatu kondisi ketika guru merasa malu apabila tidak berprestasi.

Uraian di atas menunjukkan bahwa kadar motivasi guru dalam mengembangkan rencana pelaksanaan pembelajaran dipengaruhi oleh beban tugas yang menjadi tanggung jawabnya yang harus dilaksanakan dalam kegiatan sehari-hari.

3. Minat Terhadap Tugas

Tugas-tugas yang dikerjakan oleh guru mencerminkan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan minat terhadap tugas yang dibebankan kepadanya. Nawawi (1989: 129) mengungkapkan bahwa minat dan kemampuan terhadap sesuatu pekerjaan berpengaruh terhadap moral kerja. Dalam hal ini, minat merupakan dorongan untuk memilih suatu objek atau tidak memilih objek lain yang sejenis.

Dalam kaitannya terhadap minat guru terhadap pengembangan rencana pelaksanaan pembelajaran, berarti dalam diri guru terdapat perasaan suka atau tidak suka untuk mengembangkan atau tidak mengembangkan rencana pelaksanaan pembelajaran dan meningkatkan kualitas pembelajaran.

Minat seseorang terhadap sesuatu objek atau tugas tertentu dapat dipahami dengan memperhatikan apa yang ditanyakan, apa yang dibicarakan, apa yang dibaca, dan lain-lain. Oleh karena itu, minat guru terhadap tugas yang dibebankan kepadanya dapat dilihat dari kerajinannya dalam bekerja, ketertarikannya untuk mendalami tugas yang diberikan, dan gairahnya dalam melaksanakan tugas yang diberikan.

4. Penghargaan Atas Tugas

Penghargaan atas keberhasilan yang dicapai guru dalam bekerja merupakan salah satu motivasi yang memacu dan mendorongnya untuk bekerja dan berprestasi lebih baik. Penghargaan dapat menumbuhkan rasa cinta, bangga, dan tanggung jawab terhadap tugas-tugas yang diberikan. Rasa cinta dan bangga memungkinkan seseorang dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, disiplin, dan penuh kesungguhan sehingga mencapai hasil yang optimal. Dalam kaitannya dengan rencana pelaksanaan pembelajaran, jika guru menghargai tugas tersebut, maka dalam pengembangannya akan diwarnai oleh rasa cinta, bangga, dan tanggung jawab, sehingga mereka dapat menganugerahkan seluruh kemampuannya untuk mencapai hasil yang optimal.

5. Peluang Untuk Berkembang

Motivasi kerja yang tinggi antara lain ditandai oleh suatu kondisi ketika seseorang memiliki kesempatan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, serta mempunyai kesempatan untuk berkembang. Oleh karena itu, motivasi kerja seseorang dapat dilihat dari kesempatan yang bersangkutan untuk mengembangkan diri dalam rangka meningkatkan kemampuan dan keterampilan dalam bekerja.

Perbaikkan kualitas kompetensi professional guru dan tenaga kependidikan lainnya dapat dilakukan melalui dua jalur, yaitu pendidikan dalam jabatan dan pendidikan prajabatan.

6. Perhatian dari Kepala Sekolah

Perhatian kepala sekolah terhadap guru sangat penting untuk meningkatkan profesionalisme serta kinerja guru dan tenaga kependidikan. Kunjungan kelas dapat digunakan oleh kepala sekolah sebagai salah satu teknik untuk mengamati proses pembelajaran secara langsung, terutama dalam pemilihan dan penggunaan metode pembelajaran, media yang digunakan, dan keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran, serta mengetahui bagaimana peserta didik dapat membentuk kompetensi dalam dirinya. Berdasarkan hasil kunjungan kelas, kepala sekolah bersama guru dapat mendiskusikan berbagai masalah yang ditemukan, mencari jalan penyelesaian masalah, dan menyusun program-program untuk masa depan.

7. Hubungan Interpersonal Sesama Guru

Hubungan interpersonal sesama guru di sekolah dapat mempengaruhi kualitas kinerja guru, karena memotivasi kerja dapat terbentuk dari interaksi dengan lingkungan sosial di sekitarnya. Suasana kehidupan di sekolah harus dikondisikan sedemikan rupa agar dapat mendukung pelaksanaan pembelajaran berbasis kompetensi yang optimal. Melalui kerja sama dan jalinan silaturahmi akan dapat meningkatkan profesionalisme guru secara efektif.

8. MGMP dan KKG

Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) dan Kelompok Kerja Guru (KKG) merupakan dua organisasi atau wadah yang dapat meningkatkan profesionalisme dan kinerja guru. Dalam MGMP dan KKG para guru bisa saling bertukar pikiran dan saling membantu menyelesaikan yang dihadapi, bahkan saling membantu memecahkan masalah yang dihadapi, bahkan saling belajar dan membelajarkan. Melalui MGMP diharapkan persoalan dapat diatasi termasuk bagaimana mensiasati kompetensi yang diuraikan dalam kurikulum dan mencari alternative pembelajaran yang tepat serta menemukan berbagai variaso metode dan media untuk meningkatkan prestasi.

Melalui MGMP dan KKG diharapkan semua kesulitan dan permasalahan yang dihadapi oleh guru dalam pembelajaran dapat diselesaikan dan diharapkan dapat meningkatkan mutu pendidikan di sekolah melalui peningkatan mutu pembelajaran.

9. Kelompok Diskusi Terbimbing

Untuk menunjang implementasi KTSP, khususnya dalam mengembangkan kompetensi guru dalam mengembangkan rencana pelaksanaan pembelajaran, perlu dibentuk kelompok diskusi terbimbing, untuk mengatasi guru yang kurang semangat dalam melakukan tugas-tugas pembelajaran. Dalam kegiatan diskusi bisa melibatkan kepala sekolah, atau orang lain yang dianggap ahli dalam memecahkan masalah yang dihadapi oleh guru sehubungan dengan tugas utamanya membelajarkan dan membentuk kompetensi peserta didik.

Diskusi terbimbing dapat membuahkan hasil yang memuaskan, dapat meningkatkan motivasi dan semangat kerja guru, dengan demikian upaya ini perlu dikembangkan dengan cara mencari model-model pembinaan yang efektif dan efisien untuk meningkatkan profesionalisme dan kinerja guru.

10. Layanan Perpustakaan

Salah satu sarana peningkatan profesionalisme guru adalah tersedianya buku sumber yang dapat menunjang kegiatan pembelajaran dan pembentukan kompetensi guru. Pengadaan buku pustaka perlu diarahkan untuk mendukung kegiatan pembelajaran. Di samping itu, layanan perpustakaan dapat memperkaya bahan-bahan yang diperlukan guru dalam meningkatkan profesionalismenya secara optimal.

Pengadaan koleksi perpustakaan dapat dimulai dengan melakukan identifikasibuku-buku yang diperlukan oleh guru dan peserta didik, serta mencatat buku-buku yang tidak ada atau tidak mencukupi kebutuhan sekolah. Di samping itu, perlu diupayakan peningkatan pengetahuan dan keterampilan pengelola perpustakaan, misalnya memberikan kesempatan mengikuti pelatihan singkat bagi pengelola perpustakaan.

F. FORMAT RPP BERBASIS KTSP

Format RPP KTSP sekurang-kurangnya memuat tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pengajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar.

Contoh Format

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Mata Pelajaran : …………………………………………………………….

Satuan Pendidikan : …………………………………………………………….

Kelas/Semester : …………………………………………………………….

Pertemuan Ke : …………………………………………………………….

Alokasi Waktu : …………………………………………………………….

Kompetensi Dasar : …………………………………………………………….

1. ……………………………………………………………………………………

2. ……………………………………………………………………………………

Indikator :

1.1. ……………………………………………………………………………………

1.2. ……………………………………………………………………………………

2.1. ……………………………………………………………………………………

2.2. ……………………………………………………………………………………

Tujuan Pembelajaran :

1. …………………………………………………………………………………

2. …………………………………………………………………………………

Materi Standar :

1. ………………………………………………………………………………….

2. ……………………………………………………………………………………

Metode Pembelajaran :

1. ……………………………………………………………………………………

2. …………………………………………………………………………………….

Kegiatan Pembelajaran :

1. Kegiatan Awal (pembukaan):

a. ………………………………………………………………………………...

b. ………………………………………………………………………………...

2. Kegiatan Inti (pembentukan kompetensi):

a. ………………………………………………………………………………...

b. ………………………………………………………………………………...

3. Kegiatan akhir (penutup):

a. ………………………………………………………………………………...

b. ………………………………………………………………………………...

Sumber Belajar:

1. ……………………………………………………………………………………

2. ……………………………………………………………………………………

Penilaian :

1. Tes tulis : ……………………………………………………………………

2. Kinerja (performansi): …………………………………………………………..

3. Produk : ……………………………………………………………………

4. Penugasan/Proyek : ……………………………………………………………..

5. Portopolio : …………………………………………………………………….

BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Rencana pelaksaan pembelajaran pada hakekatnya merupakan perencanaan jangka pendek untuk memperkirakan atau memproyeksikan apa yang akan dilakukan dalam pembelajaran. Dengan demikian, RPP merupakan upaya untuk memperkirakan tindakan yang akan dilakukan dalam kegiatan pembelajaran. Sedikitnya tersebut dua fungsi RPP dalam KTSP. Kedua fungsi tersebut adalah fungsi perencanaan dan fungsi pelaksanaan. Fungsi perencanaan RPP dalam KTSP adalah bahwa rencana pelaksanaan pembelajaran hendaknya dapat mendorong guru lebih siap melakukan kegiatan pembelajaran dengan perencanaan yang matang. Dalam pengembangan KTSP, rencana pelaksanaan pembelajaran harus disusun secara sistematik dan sistematis, utuh dan menyeluruh, dengan beberapa kemungkinan penyesuaian dalam situasi pembelajaran yang actual. Pengembangan rencana pelaksanaan pembelajaran harus memperhatikan perhatian dan karakteristik peserta didik terhadap materi standar yang dijadikan bahan kajian.

Sedikitnya terdapat sepuluh faktor yang dapat meningkatkan kerja guru yaitu dorongan untuk bekerja, tanggung jawab terhadap tugas, minat terhadap tugas, penghargaan atas tugas, peluang untuk berkembang, perhatian dari kepala sekolah, hubungan interpersonal sesama guru, MGMP dan KKG, kelompok diskusi terbimbing, dan layanan perpustakaan.

B. SARAN

Adapun saran kami adalah agar guru ataupun calon guru mengetahui dasar-dasar dan prinsip-prisip pengembangan RPP untuk meningkatkan efektifitas belajar.

DAFTAR PUSTAKA

Mulyasa, Enco. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

0 komentar: