Nama : Gita Meylinda Sari

Kelas : 2 A

NPM : A1G009019

KEBUDAYAAN-KEBUDAYAAN DI BENGKULU

Batik Basurek

Batik Basurek adalah kebudayaan khas Bengkulu yang berasal dari kata Basurek yang artinya Bersurat yaitu dalam batik basurek ada tulisan-tulisan yang bersurat atau menyimpan makna tertentu dalam tulisannya. Dahulu orang penggunaan Batik Basurek hanya dipakai pada saat tertentu saja seperti upacara adat, pernikahan, dan acara-acara penting lainnya. Dalam penggunaannya pun tak boleh sembarang orang bisa memakainya. Hanya segelintir saja yang bisa memakainnya. Dikarenakan Batik Basurek dianggap suatu yang sangat sakral dan dianggap suatu yang mewah. Maka dari itu, penggunaan Batik Basurek dalam kehidupan sehari-hari amat jarang keadaanya. Namun, ada pergeseran budaya yang terjadi saat ini, Batik Basurek telah amat lumrah jika dipakai sehari-hari, bahkan penggunaanya bisa saja untuk pergi ke Pasar dan tempat umum lainnya. Sehingga nilai-nilai yang dahulu diluhurkan sudah dianggap biasa. Hal ini disebabkan karena faktor waktu juga karena penjagaan yang fleksibel terhadap nilai-nilai batik tersebut.

Perbedaan Batik Basurek dengan batik lainnya terletak pada motifnya. Motif Batik Basurek terdapat gambar bunga Raflessia dan huruf kaligrafi serta unsure lainnya. Unsur ini memiliki makna tertentu namun hanya sebagian orang saja yang mengetahui makna tersebut.

Motif asli atau dasar kain besurek terdiri dari tujuh motif, antara lain:

  1. Motif Kaligrafi Arab, Arti motif kaligrafi Arab artinya motif pada kain besurek berupa tulisan Arab.
  2. Rembulan – Kaligrafi Arab, Motif rembulan dipadu dengan kaligrafi Arab menggambarkan ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.
  3. Kaligrafi Arab – Kembang Melati, motif ini selain menunjukkan adanya pengaruh Islam (kaligrafi Arab) juga menggambarkan kehidupan flora. Bunga melati adalati salah satu jenis tanaman yang banyak terdapat serta digunakan di Bengkulu sejak dulu.
  4. Kaligrafi Arab – Burung Kuau, lukisan burung kuau dan kaligrafi Arab pada kain besurek menggambarkan kehidupan fauna. Burung kuau adalah hasil ciptaan pengrajin sejak dulu.
  5. Pohon Hayat – Burung Kuau – Kaligrafi Arab, kain besurek dengan motif ini bisa dikatakan lebih berkembang dari yang disebutkan sebelumbya, karena terdiri dari tiga jenis motif/gambar. Motif kain ini menggambarkan kehidupan flora, fauna, dan pengaruh Islam.
  6. Kaligrafi Arab - Kembang Cengkeh – Kembang Cempaka. Motif ini menggambarkan kehidupan flora dan fauna. Kembang cengkeh dan bunga cempaka adalah jenis tanaman yang banyak terdapat di Bengkulu.
  7. Kaligrafi Arab – Relung Paku – Burung Punai. Motif ini menggambarkan kehidupan flora dan fauna. Relung paku adalah jenis tanaman yang banyak dijumpai di Bengkulu pada jaman dahulu. Oleh karena itu tanaman inipun mengilhami para pengrajin kain besurek untuk melukisnya di atas kain.

Tari Penyambutan (Tari Persembahan)

Tari Penyambutan di Inspirasi Tari Kejai yang sakral dan Agung di Tanah Rejang. Tari Penyambutan adalah Tari Kreasi Baru yang diatur sedekat mungkin dengan Tari Kejai. Terinspirasi oleh tari Kejai karena Suku Rejang sendiri jaman dahulu tidak mempunyai Tari Penyambutan, di jaman dahulu penyambutan tamu dilakukan dengan upacara adat. Tari Kejai adalah tarian sakral dan agung, sehingga sangat pantas untuk di persembahkan untuk Penyambutan Tamu, seperti Pejabat Tinggi Negara, Menteri, Bupati yang berkunjung ke Tanah Rejang, atau pada even-even lain yang bersifat ceremonial, seperti pada acara penyambutan piala Adipura yang tiba di Kota Curup tanggal 7 juni lalu.

Jumlah Penari

Jumlah penari tidak dibatasi,sesuai dengan tempat,bisa putra bisa pula putri, bisa juga berpasangan. Di Rejang Lembak Tari Penyambutan disebut Tari Kurak, namun dalam pembahasan disepakati menggunakan Tari Penyambutan yang telah dibakukan.

Musik yang mengiringi Tari Penyambutan

Di inspirasi oleh tarian sakral dari Tanah Rejang, musik dan alat musik Tari Penyambutan memakai alat musik khas tradisional Suku Rejang, yaitu gong dan kalintang, yang dari jaman dahulu kala di pakai pada musik pengiring tarian sakral dan agung Suku Rejang yaitu Tari Kejai.

Pada umumnya dipakai irama lagu Lalan belek dan Tebo Kabeak.

Gerakan Sembah (Penghormatan):

1. Sembah Tari : Tangan diangkat diatas bahu

2. Sembah Tamu : Tangan diangkat diatas dada

3. Penyerah Siri setengah jongkok dan setengah berdiri pada saat berada diluar rumah

4. Khusus busana yang menyerahkan siri ( wanita ) mengenakan pakaian / baju kurung / renda penutup dada

Te'iak

Masyarakat Kaur Tengah dan Kaur Selatan hampir 100 persennya beragama Islam. Orang-orang berpuasa di bulan suci Ramadhan sebagai pemenuhan rukun Islam yang ke-tiga. Pada bulan ini, ada satu tradisi yang berlangsung sejak nenek moyang orang Kaur menganut Islam. Namanya "Te'iak".

Dalam kosa kata bahasa Kaur bagian tengah dan Selatan tidak terdapat pengucapan huruf "R" sebagaimana orang Batak yang bisa mengucapkan dengan jelas. Yang ada adalah huruf 'ain dalam bahasa Arab, yakni huruf ke 18 dalam susunan huruf Hijaiyah. Jadi kata Te'iak tidaklah dilafazkan "Teriak" seperti dalam bahasa Indonesia. Meski secara harfiah keduanya memiliki arti yang sama, namun "te'iak" merupakan satu kata untuk menyebut tradisi yang hanya berlangsung di bulan puasa.

Te'iak adalah tradisi membangunkan orang-orang di dusun, yang bertujuan (semacam) meminta penduduk untuk segera bangun dan memasak keperluan makan sahur. Te'iak ini berlangsung dari pukul 02.00 - 03.00 WIB. Dengan memasak pada waktu-waktu itu, maka ketika masakan itu matang, seluruh penghuni rumah yang akan berpuasa bisa menikmatai makanan yang masih dalam kondisi hangat dan enak untuk dinikmati. Itulah kenapa membangunkan masyarakat harus di waktu-waktu itu. Perhitungan memasak makanan hingga menjadi matang sekitar satu jam, sehingga saat bersantap sahur tepat di akhir waktu atau sebelum imsyak (batas untuk menyelesaikan sahur, kira-kira 10 menit sebelum Adzan Subuh). Dalam ajaran Islam, sahur dianjurkan berlangsung menjelang atau mendekati subuh.

Te'iak dilakukan oleh pemuda-pemuda di dusun, yang semuanya belum beristri atau berkeluarga. Para pemuda tidak tidur di rumah orang mereka pada bulan Ramadhan, tetapi berkumpul dan tidur di Masjid atau Surau (musholla). Sekitar pukul 02.00 WIB mereka bangun untuk mempersiapkan prosesi Te'iak. Sebenarnya, peralatan yang digunakan adalah gendang (seperti rebana namun dengan ukuran yang lebih besar), yang terdiri gendang yang besar dengan diameter sekitar setengah meter dan rebana kecil dengan diameter sekitar 25 cm. Rebana inilah yang ditabuh dengan irama tertentu yang diiringi oleh Hadra (semacam barzanji), yakni puji-pujian yang menagungkan Sang Maha Kuasa serta Shalawatan kepada baginda Rasullullah SAW. Kira-kira tahun 1980-an awal, peralatan ditambah dengan pelatan yang juga menghasilkan bebunyian seperti kelintang (semacam bonang pada peralatan gamelan Jawa) baik yang bentuknya batangan maupun bulat (seperti gong tapi ukuran yang kecil), serta kentungan dan besi.

Ada tiga tahapan Te'iak yakni melantunkan Hadra, lalu dilanjutkan dengan Nu'un Lagu atau beralih lagu dan diakhiri dengan dengan pantun yang balas berbalas, yang semuanya diiringi oleh gendang dan peralatan lainnya dengan irama tertentu yang khas. Dimulai dari Masjid atau surau, lalu rombongan Te'iak berjalan beriringan ke satu ujung dusun ke ujung dusun yang lain dengan tujuan membangunkan penduduk. Irama Te'iak melantun ke seluruh dusun yang dilalui. setelah sekitar satu jam membangunkan penduduk, maka rombongan Te'iak akan kembali lagi ke masjid atau surau.

Te'iak ini hanya berlangsung sampai pukul 03.00 WIB, tidak boleh melebihi waktu itu. Jika ada Te'iak yang melampaui waktu itu, maka penduduk akan menjadi marah, sebab para pemuda yang Te'iak berarti terlambat membangunkan orang-orang untuk menyiapkan santapan makan sahur.

Saat ini, Te'iak masih berlangsung. Namun, jumlah pemuda yang melaksakannya mulai berkurang. Banyak pemuda sudah merantau mencari nafkah di luar kaur sehingga yang tersisa hanya sedikit. Supaya tetap berlangsung dengan baik, anak-anak yang masih duduk di bangku SLTA dilibatkan dalam melakukan Te'iak. Ketika keliling dusun, masih ada tambahan anak-anak yang keluar dari rumahnya untuk mengikuti rombongan Te'iak yang saat itu sedang melewati rumahnya. Biasanya anak-anak ini adalah anak-anak yang sejak kecil jarang melihat Te'iak karena kebetulan orang tua mereka sendiri merantau bersama keluarga di luar Kaur, dan mudik ke Kaur menjelang hari raya Idul Fitri.

Kaur Selatan dan Kaur Utara terletak di daerah yang dekat dengan laut. Adat istiadat atau praktik budaya serta bahasa daerah adalah sama. Kalau pun ada perbedaan dari segi bahasa, hanya terletak dalam pengucapan suku kata untuk beberapa kosa kata saja. Kaur Tengah memiliki pusat pemerintahan kecamatan yang terletak di Tanjung Iman, serta Kaur Selatan sendiri berpusat di Bintuhan. Biasanya, orang Kaur Tengah dan Kaur Selatan mengenalkan diri kepada orang luar sebagai orang Bintuhan. Mungkin karena pusat aktifitas ekonomi dan pemerintahan sejak zaman dulu memang terletak di sana, sehingga nama Bintuhan lebih dikenal oleh khalayak di luar Kaur. Kedua Kecamatan ini memiliki perbedaan bahasa daerah dengan masyarakat yang berada di Kecamatan Kaur Utara, yang lebih dikenal dengan Padang Guci. Kaur Tengah, Kaur Selatan dan Kaur Utara sebelumnya adalah bagian dari Kabupaten Bengkulu Selatan. Sejak tahun 2005 lalu, Ketiga Kecamatan itu bergabung menjadi satu kabupaten dengan nama Kabupaten Kaur. Dari Ibukota Propinsi Bengkulu jaraknya hampir 200 kilometer ke arah selatan. Kabupaten ini berbatasan langsung dengan Provinsi Lampung di sebelah Selatannya.

Te'iak adalah salah satu tradisi yang ada di daerah Kaur Tengah dan Kaur Selatan yang perlu dilestarikan. Ia adalah kekayaan budaya masyarakat yang bisa jadi akan punah, sebagaimana generasi-generasi terdahulu menyesali anak keturunannya yang sudah tidak lagi bisa berbahasa daerah seperti mereka. Gempuran budaya luar yang masuk melalui proses globalisasi merupakan ancaman yang harus diwaspadai, sebab proses penghilangan budaya itu berlangsung secara perlahan-lahan, seperti proses evolusi yang alamiah saja.

Tari Andun

Tari Andun merupakan salah satu tarian rakyat Bengkulu khususnya di Bengkulu Selatan yang dilakukan pada saat pesta perkawinan. Biasanya dilakukan oleh para bujang dan gadis secara berpasangan pada malam hari dengan diringi musik kolintang. Pada zaman dahulu, tari andun biasanya digunakan sebagai sarana mencari jodoh setelah selesai panen padi. Sebagai bentuk pelestariannya, saat ini dilakukan sebagai salah satu sarana hiburan bagi masyarakat khususnya bujang gadis.

Bedendang

Bedendang merupakan kesenian masyarakat Seluma yang dimainkan pada malam hari pada kegiatan perkawinan. Para pemainnya umumnya laki-laki dengan alat musik pendukung lainnya. Disamping itu, secara bergiliran para pemain musik tersebut juga memainkan tarian secara berpasangan.

Rebana

Rebana merupakan kesenian masyarakat Bengkulu Selatan dan sekitarnya yang dimainkan oleh para ibu-ibu atau kaum perempuan pada waktu ada keramaian baik desa. Rebana dimainkan untuk mengiringi lagu yang dibawakan seseorang.

Tari Ulu-Ulu

Tarian khas rakyat Seluma ini biasanya diselenggarakan pada saat tertentu misalnya pada waktu pesta pernikahan.

Bahasa Bengkulu

Propinsi Bengkulu memiliki bahasa daerah yang banyak. Selain bahasa Kaur dan bahasa Alas, ada juga bahasa Padang Guci, Kedurang, Manna, Tais, Bahasa Tanjung Agung dan Sekitarnya, bahasa Bengkulu Kota yang hampir sama dengan bahasa Palembang-Sumatera Selatan itu, serta Bahasa Bengkulu Pantai. Masih ada beberapa bahasa yang sama sekali saya tidak mampu memahami, karena saya memang belum pernah tinggal di daerah itu, yakni bahasa Kepahyang dan bahasa Bengkulu Utara. Satu contoh dalam perbedaan bahasa ini adalah untuk kata “tidak” dalam bahasa Indonesia, bisa berarti de (Kaur), dide (Padang Guci dan Seginim), nido (Alas), ido (Tais), idak (Kota), col (Tanjung Agung), atau coa (Kapahyang).

Tak jarang pula karena memiliki berbagai ragam bahasa daerah baik di Kota Bengkulu maupun di luar propinsi Bengkulu kadang membuat komunikasi sering terganggu. Hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan terhadap arti dari bahasa tersebut. Contoh kata-kata tersebut adalah

  1. Kata Pulau dalam bahasa Indonesia adalah sebuah daratan sedangkan Pulau dalam bahasa daerah Bengkulu terkhusus di kota Manna berarti pula (juga).
  2. Kata Semangat dalam bahasa Bengkulu khusunya Kaur memiliki arti libido.
  3. Kata Batak dalam bahasa Manna artinya bawa. Sedangkan Batak adalah salah satu suku yang berada di Sumatera Utara.
  4. Kata Ijau jika disebutkan secara lisan orang lain akan menganggap kata “Hijau”. Namun dalam bahasa Manna artinya urus.
  5. Kata sugu dalam bahasa Bengkulu (Manna, Kedurang, Padang Guci, Seginim) berarti sisir. Sedangkan dalam bahasa Jawa artinya kayu.
  6. Kata tempek dalam bahasa Bengkulu artinya tempat. Namun, dalam bahasa Jawa ini memiliki arti negatif yaitu alat kelamin wanita.
  7. Kata Bunting dalam bahasa Bengkulu artinya hamil atau mengandung. Namun, dalam sebagian bahasa daerah Bengkulu lainnya dan Pagaralam bunting memiliki arti menikah.
  8. Kata Abang dalam bahasa Bengkulu (Kota Bengkulu) dan daerah luar Bengkulu artinya kakak laki-laki. Namun, dalam bahasa Manna dan sekitanya Abang berarti merah.
  9. Kata Kereta dalam sebagian Bahasa Bengkulu memiliki arti sepeda.

0 komentar: