LAPORAN STUDI KASUS
ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
(AUTIS)

Di SD Negeri 3 Kota Bengkulu

Guna memenuhi mata kuliah :
Pendidikan Luar Biasa

Dosen Pembimbing : Dra. Nur Asni, M.Pd.

200px-UNIB_svg.png








Disusun oleh :
Nama : Gita Meylinda Sari
NPM : A1G009019
Kelas : 3 A


PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS BENGKULU
TAHUN AJARAN 2010-2011

A. PROFIL MIRZADILA

Mirzadila adalah seorang anak yang berkebutuhan khusus, yang bersekolah di SD Negeri 3 Kota Bengkulu. Mirza, demikianlah nama panggilannya beralamatkan di Pinang Mas Kota Bengkulu. Mirza terlahir sebagai anak luar biasa yaitu penyandang autisme. Menurut penuturan Wali Kelasnya, Yulianti, awal kepindahannya dari MIN 1 ke SD Negeri 3, Mirza sering memberontak dan menangis tanpa diketahui penyebabnya. Ketika beberapa bulan di SD 3, sulung dari tiga bersaudara ini mulai bisa tenang. Hanya saja dia tidak mau bersosialisasi dengan teman-temannya. Dari awal pembelajaran sampai akhir pembelajaran dia tetap duduk di bangkunya dan tidak mau bersosialisasi dengan temannya.

Bapak Mirza yang bernama Edi adalah seorang Pegawai Negeri Sipil yang bekerja di Kantor Kelurahan. Sedangkan Ibunya sedang merampungkan program doktoral (S3) di Bogor. Bisa dikatakan yang mengurusi segala keperluan Mirza adalah sang Ayah. Adiknya yang pertama bersekolah di MIN 1 Kota Bengkulu kelas 4 dan adiknya kedua masih pada tingkat nol besar di sebuah Taman Kanak Kanak.

Pada saat pembelajaran, ketika Mirza disuruh menulis oleh gurunya dia tidak merespek apa yang dikatakan oleh gurunya. Namun, ketika dibimbing oleh gurunya secara intensif (face to face) barulah Mirza mau mengikuti apa yang dikatakan oleh gurunya. Menurut penuturan Ibu Yulianti bahwa Mirza sering menyenandungkan ayat-ayat Al-Quran.

Ketika pembelajaran telah selesai, teman-temannya mengantarkan Mirza ke pos satpam. Di pos satpam bapaknya yang menjemputnya. Begitulah setiap hari. Selama bersekolah di SD Negeri 3, Mirza tidak pernah dijahili oleh teman-temannya. Sebaliknya, teman-temannya perhatian terhadap Mirza terbukti dengan teman-temannya mengantarkan Mirza ke pos satpam, kemudian teman-temannya membimbing Mirza saat pembelajaran, dan mengajak Mirza bermain walaupun Mirza tidak menanggapi mereka. Dari pengamatan gurunya teman-temannya perhatian terhadap Mirza dan menyayangi Mirza.

Dari yang dikatakan oleh bapaknya kepada wali kelasnya (Ibu Yulianti), di rumah Mirza mau untuk menulis pelajaran. Hanya saja ketika di sekolah kemauannya berkurang. Pihak sekolah telah menyarakan kepada orang tua Mirza agar memindahkan Mirza ke Sekolah Luar Biasa. Namun, orangtua Mirza menolak saran tersebut. Orangtua Mirzapun telah memeriksakan Mirza ke psikolog yaitu Ibu Anik Suprapti dengan pernyataan bahwa Mirza masih bisa disekolahkan di SD biasa. Mungkin karena alasan itu pula orangtua Mirza menolak anaknya disekolahkan di SD Luar Biasa.

B. ANALISIS KASUS

Gangguan Autis (juga dikenal sebagai autisme infantile), merupakan gangguan yang terkenal, ditandai gangguan berlarut-larut pada interaksi sosial timbal balik, penyimpangan komunikasi, dan pola perilaku yang terbatas dan stereotip. Menurut Eisenberg dan Kanner (1956) (dalam Achenbach,1982: 424 ) pengenalan autis ditunjukan dengan dua simptom utama, yaitu :

(1) Isolasi diri yang ekstrim, muncul sejak tahun pertama kehidupan.

(2) Obsesi untuk melakukan gerakan yang monoton

Kanner mendiagnosis, bahwa semua anak autis memperlihatkan bicara yang tidak normal, ada bicara datar, atau mengalami keterlambatan dalam berbicara, ekolalia, pengulangan bilangan, dan bicara dengan makna kiasan yang tinggi, dalam berkomunikasi cenderung sulit untuk dipahami. Kanner (1954) (dalam Achenbach, 1982: 424), menyatakan bahwa cara bicara yang khas sebagai tambahan pada dua symptom utama. Ciri-ciri yang lain dari kasus Kanner adalah tidak terdapat patologi organik sebagai penyebab sindrom perilaku tersebut.

Kanner (1943) (dalam Davison, 2006: 717) menamai sindrom tersebut autisme infantile dini karena Kanner mengamati bahwa “sejak awal terdapat suatu kesendirian autistik ekstrim yang, kapanpun memungkinkan, tidak memedulikan, mengabaikan, menutup diri dari segala hal yang berasal dari luar dirinya”. Kanner menganggap kesendirian autistik merupakan symptom fundamental. Ia juga menemukan bahwa sejak awal kehidupan anak autis tidak mampu berhubungan dengan orang lain secara wajar. Anak autis memiliki keterbatasan yang parah dalam bahasa, dan memiliki keinginan obsesif yang kuat agar segala sesuatu yang berkaitan dengan mereka tetap sama persis.

Pada kasus Mirza, terlihat jelas bahwa Mirza adalah penyandang autis. Karena dia mengucapkan kata yang tidak tepat untuk dikatakan. Seperti pada saat penulis menanyakan namanya, subjek (Mirza) menjawab dengan jawaban lain. Dan setelah itu subjek hanya terlihat diam dan menutup diri. Pada saat pengambilan gambar subjek, subjek mengekspresikan mimik muka yang tidak seperti biasanya. Hal ini bisa menjadi indicator bahwa subjek adalah penderita autis. Namun belum diteliti lebih lanjut tingkatan autis yang diderita oleh subjek.

C. PENYELESAIAN MASALAH

Menurut Puspita dalam Hadis (2006; 113) bahwa peranan orang tua anak autis dalam membantu anak untuk mencapai perkembangan dan pertumbuhan optimal sangat menentukan. Tindakan awal yang perlu dilakukan oleh orang tua ialah orang tua perlu teliti dalam mengamati berbagai gejala yang nampak pada diri anak yang autis. Tindakan lainnya adalah memberikan penanganan kepada anaknya berdasarkan masalah dan gejala perilaku yang nampak pada diri anak autis. Sedangkan menurut

Hamalik (2002; 33) peran seorang guru adalah selain sebagai pengajar juga sebagai pembimbing. Sebagai seorang pembimbing, guru berperan dalam proses pemberian bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahaman dan pengarahan diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimum terhadap sekolah, keluarga serta masyarakat.

Pada kasus Mirza, lingkungan sekolah subjek telah mencapai tingkat kondusif bagi subjek. Terlihat dari perlakuan guru dan teman sebayanya yang berusaha untuk membimbing subjek dan membantu dalam proses belajar dan mengajar. Hanya saja karena subjek yang memang cenderung menutup diri, maka suasana seperti ini tidak cukup untuk menyembuhkan anak autis. Diperlukan lagi penanganan secara khusus dengan bantuan psikolog atau orang yang ahli dalam bidangnya. Orang tua subjek telah melakukan tindakan yang cukup tepat dengan mengkonsultasikan kepada psikolog tentang permasalahan Mirza. Namun tindak lanjut dari hal ini belum terlalu jelas. Sehingga hanya sebatas saran saja.

Banyak ahli menyarankan, sebaiknya anak autis mendapatkan pendidikan khusus sebelum pendidikan umum. Pendidikan khusus adalah pendidikan individual yang terstruktur bagi penyandang autis. Pada pendidikan khusus diterapkan satu guru untuk satu anak. Sistem ini paling efektif karena anak tidak mungkin dapat memusatkan perhatiannya dalam satu kelas yang besar. Menurut Danuatmaja (2004) salah satu program pendidikan untuk anak autis adalah home program. Home program merupakan program terapi yang dilakukan di rumah. Program ini dapat dilakukan oleh orang tua atau orang tua dengan terapis dan program ini harus dijalankan secara terpadu. Home program bentuknya tidak selalu formal, namun lebih fleksibel, belajar sambil bermain, belajar sambil berbicara dan belajar sambil berkomunikasi. Walaupun sederhana, aktivitas ini besar artinya untuk meningkatkan kemampuan anak dalam bersosialisasi (salah satu hal paling sulit dilakukan anak autis).

Home Program tepat dilakukan bagi subjek selain program di sekolah. Karena dalam Home Program bisa meningkatkan responsitas dengan kurikulum yang tepat. Namun, tentunya Home Program hanya dikhususkan pada satu anak saja. Sedangkan subjek membutuhkan lingkungan yang paham dengan kondisinya. Kombinasi antara pendidikan formal dan Home Program mungkin bisa membantu penanganan bagi anak autis di samping peranan orang tua, guru, dan pendidik.

0 komentar: