BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pengembangan model pembelajaran dalam IPS dapat di lakukan oleh guru pada semua pokok bahasan, dengan syarat harus memperhatikan sembilan pokok bahasan yaitu motivasi, pemusatan pikiran, latar belakang siswa dan konteksitas materi pelajaran, perbedaan individual siswa, belajar sambil bermain, belajar sambil bekerja, belajar menemukan dan pemecahan permasalahan serta hubungan sosial.

1.2 Rumusan Masalah

a. Apa dan Bagaimana tahapan model pembelajaran GI ?

b. Apa dan Bagaimana tahapan model pembelajaran CIRC ?

c. Di gunakan untuk apa model pembelajaran GI dan CIRC pada pembelajaran IPS ?

1.3 Tujuan

a. Dapat membuat langkah-langkah inkuiri lapangan.

b. Dapat menentukan model pembelajaran kelas.

c. Dapat melihat kelebihan dan kekurangan dari masing-masing model pembelajaran.

BAB II
PEMBAHASAN

METODE COOPERATIVE LEARNING DALAM PEMBELAJARAN IPS SD

Metode cooperative learning adalah suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari 4 sampai 6 orang, dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen. (Bahri Djamarah dan Zain (2006:82)

Pembelajaran kooperatif bukanlah gagasan baru di dalam dunia pendidikan. Pembelajaran kooperatif bertitik tolak pada pandangan John Dewey dan Herbert Thelen yang menyatakan pendidikan dalam masyarakat yang demokratis seyogyanya mengajarkan proses demokrasi secara langsung. Tingkah laku kooperatif dipandang oleh Dewey dan Thelen sebagai dasar demokratis, dan sekolah di pandang sebagai labolatorium untuk mengembangkan tingkah laku demokratis (Trianto,2007:45)

Pembelajaran kooperatif (cooperative learning), merupakan suatu srtategi belajar mengajar yang menekankan pada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu diantara sesama dalam struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri dari dua orang atau lebih.

Menurut Slavin (Wardani, 2006:2),

“Belajar kooperatif adalah suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok- kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya empat sampai enam orang, dengan struktur kelompok heterogen, pengelompokkan heterogenitas merupakan ciri-ciri yang menonjol dalam metode pembelajaran koopertif”

Anita Lie (2000) menyebutkan :

“pembelajaran kooperatif dengan istilah pembelajaran gotong royong, yaitu system pembelajaran yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk bekerja sama dengan siswa lainnya dalam tugas- tugas yang terstruktur”.

Sedangkan Johnson (Isjoni, 2009) mengemukakan

“Cooperanon means working together to accomplish shared goals. Within cooperative activies individuals seekoutcomes that are beneficial to all other group members. Cooperative learning is the instructional use of small group that allows student to work together to maximize their own and each other as learning”.

Berdasarkan uraian tersebut, pembelajaran kooperatif mengandung arti bekerja sama dalam mencapai tujuan bersama. Dalam kegiatan koopertif, siswa mencari hasil yang menguntungkan bagi seluruh anggota kelompok. Belajar kooperatif adalah belajar kelompok kecil untuk memaksimalkan belajar mereka dan belajar anggota lainnya dalam kelompok itu. Prosedur Pembelajaran kooperatif didesain untuk mengaktifkan siswa melalui inkuiri dan diskusi dalam kelompok kecil.

Menurut Nur (Isjoni 2009:27),

Pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang mengelompokkan siswa untuk tujuan menciptakan pendekatan pembelajaran yang berhasil yang mengintegrasikan keterampilan social yang bermuatan akademik.

Begitu juga menurut Davidson dan Warsham (Isjoni 2009:27) bahwa pembelakjaran kooperatif adalah kegiatan belajar mengajar secara kelompok- kelompok kecil, siswa belajar dan bekerja sama untuk sampai kepada pengalaman belajar yang berkelompok pengalaman individu maupun pengalaman kelompok.

Berdasarkan beberapa pengertian mengenai model pembelajaran kooperatif, maka dapat disimpulkan bahwa, pembelajran kooperatif adalah model pembelajaran yang sesuai untuk membantu siswa memperoleh informasi dan pengetahuan serta mampu menyusun sendiri konsep dari berbagai fakta, dengan memfungsikan otak sebagai alat berpikir, lebih berimbang dan lebih menekankan kepada kemampuan apa yang perlu dimiliki siswa dengan cara belajar kelompok yang didalamnya terdiri dari empat sampai enam orang, dengan struktur kelompok yang heterogen.

  1. Model cooperatif group investigation (GI)

1. Pengertian

Salah satu bentuk pembelajaran kooperatif adalah model Group Investigation. Model ini merupakan model pembelajaran kooperatif yang kompleks karena memadukan antara prinsip belajar kooperatif dengan pembelajaran yang berbasis konstruktivisme dan prinsip pembelajaran demokratis.

Model ini dikembangkan oleh John Dewey dan Herbert A. Thelen yang menggabungkan pandangan- pandangan proses sosial yang demokratis dengan penggunaan strategi- strategi intelektual atau ilmiah untuk membantu manusia menciptakan pengetahuan dan masyarakat yang teratur dengan baik.

Untuk mendukung pemahaman secara mendasar dan menyeluruh mengenai pemahan tentang Group Investigation kelompok (kelompok investigasi) maka berikut akan dipaparkan beberapa pendangan para ahli yang terkait dengan konsep ini.

Menurut Winata Putra (1992:39), “Model Group Investigation (GI) atau investigasi kelompok telah digunakan dalam berbagai bidang studi dan berbagai tingkat usia” pada dasarnya model ini dirancang untuk membimbing para siswa mendefinisikan masalah, mengeksplorasi berbagai cakrawala mengenai masalah itu, mengumpulkan data yang relevan, mengembangkannya dan mengetes hipotesis.

Joyce, Weil dan Calhoul (Aunurrahman, 2009:151) mengungkapkan bahwa model investigasi kelompok menawarkan agar dalam mengembangkan masalah moral dan social, siswa diorganisasaikan dengan cara melakukan penelitian bersama atau “cooperative inquiry” terhadap masalah- masalah social dan moral, maupun masalah akademis.

Sehingga dapat disimpulkan investigasi kelompok (Group Investigation) merupakan suatu model pembelajaran yang kompleks karenanya dalam model pembelajaran ini dapat digunakan dalam berbagai bidang studi dan berbagai tingkat usia guna mengembangakan kemampuan diri, kemampuan akademik maupun kemampuan soial pada lingkungan pendidikan.

Dalam pandangan Tsoi, Goh dan Chia (2001) (Aunurrahman, 2009:151), model investigasi kelompok secara filosofis beranjak dari paradigma konstruktivis, dimana terdapat suatu situasi yang didalamnya siswa- siswa berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain dengan berbagai informasi dan melakukan pekerjaan secara kolaboratif untuk menginvestigasi suatu masalah, merencanakan, mempresentasikan serta mengevaluasi kegiatan mereka. Karena itu model ini sangat sesuai untuk memotivasi kebutuhan- kebutuhan siswa akan pentingnya pengembangan kemampuan collaborative learning melalui kerja kelompok beranjak dari pengalaman- pengalaman masing- masing siswa guna mewujudkan interaksi social yang lebih baik. Lebih lanjut dikemukakan bahwa pembelajaran melalui investigasi kelompok akan memuat empat esensial, yaitu; kemampuan melakukan investigasi, kemampuan mewujudkan interaksi, kemampuan menginterpretasi serta mampu menumbuh kembangkan motivasi intrinsik.

Jadi, Model pembelajaran kooperatif teknik Group Investigation (GI) ini dapat melatih siswa dalam memecahkan masalah yang dilakukan secara diskusi dengan kelompoknya. Sehingga dapat mendorong siswa untuk aktif dalam pembelajaran ekonomi. Serta model pembelajaran kooperatif teknik Group Investigation (GI) ini juga dapat dikatakan sebagai salah satu metode pengajaran yang mendukung terjadinya komunikasi dan interaksi selama proses belajar, sehingga kegiatan pembelajaran dapat berjalan dengan efektif. Selain itu model pembelajaran kooperatif dapat merangsang siswa untuk lebih termotivasi dan lebih antusias terhadap mata pelajaran IPS.

Model pembelajaran kooperatif teknik Group Investigation (GI) ini dapat melatih siswa dalam memecahkan masalah dengan dilakukan secara diskusi dengan kelompoknya. Sehingga dapat mendorong siswa untuk aktif dalam pembelajaran ekonomi. Serta model pembelajaran kooperatif teknik Group Investigation (GI) ini juga dapat dikatakan sebagai salah satu metode pengajaran yang mendukung terjadinya komunikasi dan interaksi selama proses belajar, sehingga kegiatan pembelajaran dapat berjalan dengan efektif. Selain itu model pembelajaran kooperatif dapat merangsang siswa untuk lebih termotivasi dan lebih antusias terhadap mata pelajaran ekonomi serta mampu meningkatkan hasil belajar siswa.

2. Tahap-tahap Model Pembelajaran Kooperatif Teknik Group Investigation

a. Guru menyiapkan topic secara umum.

b. Siswa di dalam kelas dibagi menjadi beberapa kelompok dengan jumlah anggota 2 atau 6 siswa.

c. Anggota kelompok heterogen (jenis kelamin, ras, etnik, kemampuan akademik)

d. Guru menjadi fasilitator sehingga setiap kelompok mampu memilih subtopik dari topik umum yang sudah di siapkan oleh guru.

e. Para siswa dalam kelompok bersama guru merencanakan prosedur belajar, kegiatan dan tujuan yang akan dicapai dari subtopik yang sudah dipilih.

f. Implementasi dan investigasi, siswa melaksanakan rencana yang telah disusun melalui berbagai kegiatan da sumber belajar.

g. Analisis dan sintesisis, menganalisis dan mensisntesiskan berbagai hasil implementasi dan investigasi sehingga setiap kelompok dapat meringkaskandalam suatu penyajian yang bermakna dan menarik.

h. Penyajian hasil akhir, semua kelompok mempresentasikan hasil ringkasannya sehingga tercapai suatu perspektif yang luas mengenai topik tersebut.

i. Setelah selesai diskusi guru melakukan evaluasi secara individual terhadap penguasaan materi.

j. Setiap siswa di dalam kelompok di beri skor berdasarkan hasil evaluasi.

k. Kepada siswa atau kelompok yang meraih prestasi tinggi akan memperoleh penghargaan.

3. Penjabaran Tahapan dan Implementasi Pembelajaran IPS SD

a. Tahap Pengelompokan (Grouping)

Yaitu tahap mengidentifikasi topik yang akan diinvestigasi serta mebentuk kelompok investigasi, dengan anggota tiap kelompok 4 sampai 5 orang. Pada tahap ini: 1) siswa mengamati sumber, memilih topik, dan menentukan kategori-kategori topik permasalahan, 2) siswa bergabung pada kelompok-kelompok belajar berdasarkan topik yang mereka pilih atau menarik untuk diselidiki, 3) guru membatasi jumlah anggota masing-masing kelompok antara 4 sampai 5 orang berdasarkan keterampilan dan keheterogenan.

Misalnya:

Dalam sub pokok bahasan Peristiwa Alam dan Pengaruhnya Terhadap Kehidupan Sosial pada kelas IV SD, sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah dibuat, guru menyampikan topik yang akan diinvestigasi seperti: (a) banjir, (b) gempa bumi, (c) gunung meletus, (d) tanah longsor.

Setelah penyampaian topik bahasan yang akan diinvestigasi: (a) guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk memilih topik yang menarik untuk dipilih dan membentuk kelompok berdasarkan topik yang mereka pilih atau menarik untuk diselidiki, (b) Guru membatasi anggota kelompok 4 sampai 5 orang dengan cara mengarahkan siswa dan memberikan suatu motivasi kepada siswa supaya bersedia membentuk kelompok baru dan memilih topik.

2) Tahap Perencanaan (Planning)

Tahap Planning atau tahap perencanaan tugas-tugas pembelajaran. Pada tahap ini siswa bersama-sama merencanakan tentang: (1) Apa yang mereka pelajari? (2) Bagaimana mereka belajar? (3) Siapa dan melakukan apa? (4) Untuk tujuan apa mereka menyelidiki topik tersebut?

Misalnya pada topik Bahasan, gempa, pada tahap ini: 1) siswa belajar tentang asal terjadinya gempa, 2) siswa belajar dengan menggali informasi, bekerjasama dan berdiskusi, 3) siswa membagi tugas untuk memecahkan masalah topik tersebut, mengumpulkan informasi, menyimpulkan hasil investigasi dan mempresentasikan di kelas, dan (4) siswa belajar untuk mengetahui sifat turunan fungsi aljabar yang bernilai konstan.

3) Tahap Penyelidikan (Investigation)

Tahap Investigation, yaitu tahap pelaksanaan proyek investigasi siswa. Pada tahap ini, siswa melakukan kegiatan sebagai berikut: 1) siswa mengumpulkan informasi, menganalisis data dan membuat simpulkan terkait dengan permasalahan-permasalahan yang diselidiki, 2) masing-masing anggota kelompok memberikan masukan pada setiap kegiatan kelompok, 3) siswa saling bertukar, berdiskusi, mengklarifikasi dan mempersatukan ide dan pendapat. Misalnya: 1) siswa menemukan faktor penyebab terjadinya gempa beserta ciri-ciri terjadinya gempa 2) siswa mecoba cara-cara yang ditemukan dari hasil pengumuplan informasi terkait dengan topik bahasan yang diselidiki, dan 3) siswa berdiskusi, mengklarifikasi tiap cara atau langkah dalam pemecahan masalah tentang topik bahasan yang diselidiki.

4) Tahap Pengorganisasian (Organizing)

Yaitu tahap persiapan laporan akhir. Pada tahap ini kegiatan siswa sebagai berikut: 1) anggota kelompok menentukan pesan-pesan penting dalam proteknya masing-masing, 2) anggota kelompok merencanakan apa yang akan mereka laporkan dan bagaimana mempresentasikannya, 3) wakil dari masing-masing kelompok membentuk panitia diskusi kelas dalam presentasi investigasi.

Misalnya: 1) siswa menemukan bahwa gempa mempengaruhi kehidupan social masyarakat, 2) siswa menemukan bahwa gejala alam mempengaruhi kehidupan social masyarakat dibuktikan dari kebudayaan masyarakat dan letak geografisnya 3) siswa membagi tugas sebagai pemimpin, moderator, notulis dalam presentasi investigasi.

5) Tahap Presentasi (Presenting)

Tahap presenting yaitu tahap penyajian laporan akhir. Kegiatan pembelajaran di kelas pada tahap ini adalah sebagai berikut: (1) penyajian kelompok pada keseluruhan kelas dalam berbagai variasi bentuk penyajian, (2) kelompok yang tidak sebagai penyaji terlibat secara aktif sebagai pendengar, (3) pendengar mengevaluasi, mengklarifikasi dan mengajukan pertanyaan atau tanggapan terhadap topik yang disajikan. Misalnya: 1) siswa yang bertugas untuk mewakili kelompok menyajikan hasil atau simpulan dari investigasi yang telah dilaksanakan, 2) siswa yang tidak sebagai penyaji, mengajukan pertanyaan, saran tentang topik yang disajikan, 3) siswa mencatat topik yang disajikan oleh penyaji.

6) Tahap evaluasi (evaluating)

Pada tahap evaluating atau penilaian proses kerja dan hasil proyek siswa. Pada tahap ini, kegiatan guru atau siswa dalam pembelajaran sebagai berikut: 1) siswa menggabungkan masukan-masukan tentang topiknya, pekerjaan yang telah mereka lakukan, dan tentang pengalaman-pengalaman efektifnya, 2) guru dan siswa mengkolaborasi, mengevaluasi tentang pembelajaran yang telah dilaksanakan, 3) penilaian hasil belajar haruslah mengevaluasi tingkat pemahaman siswa. Misalnya: 1) siswa merangkum dan mencatat setiap topik yang disajikan, 2) siswa menggabungkan tiap topik yang diinvestigasi dalam kelompoknya dan kelompok yang lain, 3) guru mengevaluasi dengan memberikan tes uraian pada akhir siklus.

  1. Model cooperatif integrated reading dan composition (CIRC)

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe CIRC singkatan dari Cooperative Integrated Reading and Compotition, termasuk salah satu model pembelajaran cooperative learning yang pada mulanya merupakan pengajaran kooperatif terpadu membaca dan menulis (Steven dan Slavin dalam Nur, 2000:8) yaitu sebuah program komprehensif atau luas dan lengkap untuk pengajaran membaca dan menulis untuk kelas-kelas tinggi sekolah dasar. Namun, CIRC telah berkembang bukan hanya dipakai pada pelajaran bahasa tetapi juga pelajaran eksak seperti pelajaran matematika.

Dalam model pembelajaran CIRC, siswa ditempatkan dalam kelompok-kelompok kecil yang heterogen, yang terdiri atas 4 atau 5 siswa. Dalam kelompok ini tidak dibedakan atas jenis kelamin, suku/bangsa, atau tingkat kecerdasan siswa. Jadi, dalam kelompok ini sebaiknya ada siswa yang pandai, sedang atau lemah, dan masing-masing siswa merasa cocok satu sama lain. Dengan pembelajaran kooperatif, diharapkan para siswa dapat meningkatkan cara berfikir kritis, kreatif dan menumbuhkan rasa sosial yang tinggi.

1. Komponen-komponen dalam pembelajaran CIRC

Model pembelajaran CIRC menurut Slavin dalam Suyitno (2005: 3-4) memiliki delapan komponen. Kedelapan komponen tersebut antara lain: (1). Teams, yaitu pembentukan kelompok heterogen yang terdiri atas 4 atau 5 siswa; (2). Placement test, misalnya diperoleh dari rata-rata nilai ulangan harian sebelumnya atau berdasarkan nilai rapor agar guru mengetahui kelebihan dan kelemahan siswa pada bidang tertentu; (3). Student creative, melaksanakan tugas dalam suatu kelompok dengan menciptakan situasi dimana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya; (4). Team study, yaitu tahapan tindakan belajar yang harus dilaksanakan oleh kelompok dan guru memberika bantuan kepada kelompok yang membutuhkannya; (5). Team scorer and team recognition, yaitu pemberian skor terhadap hasil kerja kelompok dan memberikan kriteria penghargaan terhadap kelompok yang berhasil secara cemerlang dan kelompok yang dipandang kurang berhasil dalam menyelesaikan tugas; (6). Teaching group, yakni memberikan materi secara singkat dari guru menjelang pemberian tugas kelompok; (7). Facts test, yaitu pelaksanaan test atau ulangan berdasarkan fakta yang diperoleh siswa; (8). Whole-class units, yaitu pemberian rangkuman materi oleh guru di akhir waktu pembelajaran dengan strategi pemecahan masalah.

2. Kegiatan pokok pembelajaran CIRC

Kegiatan pokok dalam CIRC untuk menyelesaikan soal pemecahan masalah meliputi rangkaian kegiatan bersama yang spesifik, yaitu: (1). Salah satu anggota atau beberapa kelompok membaca soal, (2). Membuat prediksi atau menafsirkan isi soal pemecahan masalah, termasuk menuliskan apa yang diketahui, apa yang ditanyakan dan memisalkan yang ditanyakan dengan suatu variabel, (3). Saling membuat ikhtisar/rencana penyelesaian soal pemecahan masalah, (4). Menuliskan penyelesaian soal pemecahan masalah secara urut, dan (5). Saling merevisi dan mengedit pekerjaan/penyelesaian (Suyitno, 2005:4).

3. Kekuatan model pembelajaran CIRC

Secara khusus, Slavin dalam Suyitno (2005:6) menyebutkan kelebihan model pembelajaran CIRC sebagai berikut:

1) CIRC amat tepat untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam menyelesaikan soal pemecahan masalah

2) Dominasi guru dalam pembelajaran berkurang

3) Siswa termotivasi pada hasil secara teliti, karena bekerja dalam kelompok

4) Para siswa dapat memahami makna soal dan saling mengecek pekerjaannya

5) Membantu siswa yang lemah

6) Meningkatkan hasil belajar khususnya dalam menyelesaikan soal yang berbentuk pemecahan masalah

4. Tahapan Model Pembelajaran CIRC

Metode ini merupakan sebuah program komprehensif dan lengkap untuk pengajaran membaca dan menulis untuk kelas-kelas tinggi sekolah dasar.

1. Siswa di dalam kelas dibagi menjadi beberapa kelompok dengan jumlah anggota 4 atau 5 orang.

2. Anggota kelompok heterogen (jenis kelamin, ras, etnik, kemampuan akademik)

3. Siswa dilibatkan dalam kegiatan membaca, membuat prediksi tentang bagaimana cerita naratif akan muncul, memahami ide pokok, menulis tanggapan terhadap cerita, dan berlatih perbendaharaan kata, saling membantu untuk menguasai materi bahan ajar melalui tanya jawab antar anggota kelompok.

4. Siswa terlibat dalam menulis draft, saling merevisi dan mengedit pekerjaan satu dan yang lain hingga mampu mempersiapkan untuk suatu publikasi.

5. Guru melakukan evaluasi terhadap keterampilan membaca, penguasaan materi bahan ajar, dan membaca yang baku.

6. Setiap siswa di dalam kelompok diberi skor berdasarkan hasil evaluasi.

7. Kepada siswa atau kelompok yang meraih prestasi tinggi akan memperoleh penghargaan.

Metode ini bisa dipraktikkan pada pembelajaran IPS yang bersifat teori dan didiskusikan. Hampir semua pembelajaran IPS bisa menerapkan metode ini. Contohnya alat-alat transportasi.

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

Menurut Winata Putra (1992:39), “Model Group Investigation (GI) atau investigasi kelompok telah digunakan dalam berbagai bidang studi dan berbagai tingkat usia” pada dasarnya model ini dirancang untuk membimbing para siswa mendefinisikan masalah, mengeksplorasi berbagai cakrawala mengenai masalah itu, mengumpulkan data yang relevan, mengembangkannya dan mengetes hipotesis. Metode GI terdiri dari beberapa tahapan yaitu, Tahap Pengelompokan (Grouping), Tahap Perencanaan (Planning), Tahap Penyelidikan (Investigation), Tahap Pengorganisasian (Organizing), Tahap Presentasi (Presenting), Tahap evaluasi (evaluating). Metode ini dapat digunakan dalam pembelajaran IPS untuk kegiatan belajar dan mengajar.

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe CIRC singkatan dari Cooperative Integrated Reading and Compotition, termasuk salah satu model pembelajaran cooperative learning yang pada mulanya merupakan pengajaran kooperatif terpadu membaca dan menulis (Steven dan Slavin dalam Nur, 2000:8) yaitu sebuah program komprehensif atau luas dan lengkap untuk pengajaran membaca dan menulis untuk kelas-kelas tinggi sekolah dasar. Tahapan yang dilakukan pada metode CIRC yaitu pembagian anggota kelompok, pelibatan dalam kegiatan membaca, menulis draft dari apa yang telah dibaca, evaluasi dan pemberian skor. Metode ini bisa digunakan pada pembelajaran IPS yang bersifat teoritis (wacana).

B. SARAN

Hendaknya bagi seorang guru dapat menentukan metode pembelajaran yang pas dalam kegiatan belajar mengajar agar siswa dapat mengerti dan memahami dari pembelajaran yang berlangsung serta siswa dapat aktif dalam pembelajaran sehingga dapat menciptakan pembelajaran PAIKEM.

BAB IV

DAFTAR PUSTAKA

Winataputra, Udin S. dkk. 2007. Materi dan Pembelajaran IPS SD. Jakarta: Universitas Terbuka.

Slavin, Robert. 2008. Cooperative Learning Teori, riset dan praktik. Bandung: Nusa Media

Daftar Situs

http://naomiputri.blogspot.com/2009/06/analisis-teori-konstruktivisme-dan.html

diakses oleh Gita Meylinda Sari tanggal 27 Februari 2010 jam 11.17

http://cumanulisaja.blogspot.com/2010/03/metode-penelitian-kuantitaif-sd-metode.html

diakses oleh Gita Meylinda Sari tanggal 27 Februari 2010 jam 11.17

http://muhfida.com/pembelajaran-kooperatif-tipe-circ/

diakses oleh Gita Meylinda Sari tanggal 27 Februari 2010 jam 11.17

http://techonly13.wordpress.com/2010/07/03/keefektifan-penerapan-model-pembelajaran-kooperatif-tipe-circ-cooperatife-integrated-reading-and-composition-terhadap-kemampuan-pemecahan-masalah-pada-pokok-bahasan-segiempat/

diakses oleh Gita Meylinda Sari tanggal 27 Februari 2010 jam 11.17

http://pinggiralas.blogspot.com/2010/06/keefektifan-penerapan-model.html

diakses oleh Gita Meylinda Sari tanggal 27 Februari 2010 jam 11.17

0 komentar: