BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Pendidikan merupakan sebuah fenomena antropologis yang usianya hampir setua dengan sejarah manusia itu sendiri. Niccolo Machiavelli memahami pendidikan dalam kerangka proses penyempurnaan diri manusia secara terus-menerus. Ini terjadi karena secara kodrati manusia memiliki kekurangan dan ketidaklengkapan. Baginya intervensi manusiawi melalui pendidikan merupakan salah satu cara manusia untuk melengkapi ketidaksempurnaannya dalam kodrat alamiah kita.

Makalah ini akan menggali berbagai macam pengertian dan pemahaman kita tentang pendidikan, dan mencoba memperdalamnya sebagai sebuah usaha klarifikasi atas phenomena pendidikan yang kita alami. Di sini juga akan diangkat beberapa persoalan mendasar dalam pendidikan, terutama permasalahan seputar penentuan tujuan pendidikan, yang akan menjadi batu pijakan untuk meletakkan pendidikan berkarakter dalam keseluruhan proses pendidikan.

B. RUMUSAN MASALAH

Rumusan masalah dalam makalah ini adalah,

1. Apa arti pendidikan secara etmologis?

2. Apa yang dimaksud dengan kegiatan manusiawi dan hubungannya dengan pendidikan?

3. Bagaimana tindakan edukatif itu?

4. Bagaimana tindakan didaktis itu?

5. Apa saja persoalan seputar tujuan pendidikan?

C. TUJUAN

Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini secara umum adalah untuk menyelesaikan tugas Pendidikan Berkarakter dan secara khusus yaitu,

1. Agar pembaca paham mengenai arti pendidikan,

2. Agar pembaca bisa mengetahui hubungan kegiatan manusiawi dengan pendidikan,

3. Agar pembaca memahami tindakan edukatif dan didaktis.

BAB II

PEMBAHASAN

PENDIDIKAN

A. ETIMOLOGI PENDIDIKAN

Secara etimologis pendidikan adalah berasal dari kata Latin yaitu educare dan educere. Kata educare dalam bahasa Latin memiliki arti melatih atau menjinakkan dan menyuburkan. Jadi, pendidikan merupakan sebuah proses membantu menumbuhkan, mengembangkan, mendewasakan, membuat yang tidak tertata menjadi tertata.

Kata educere merupakan gabungan dari preposisi ex ( yang artinya keluar dari) dan kata kerja ducere (memimpin). Oleh karena itu, educere bisa berarti suatu kegiatan untuk menarik keluar atau membawa keluar. Dalam arti ini, pendidikan bisa berarti sebuah proses pembimbingan dimana terdapat dua relasi yang bersifat vertical, antara mereka yang memimpin dan dipimpin. Relasi keduanya terarah pada tujuan tertentu. Melihat preposisi ex yang digunakan, proses pembimbingan keluar ini bisa berarti secara internal maupun eksternal. Yang dimaksud dengan keluar secara internal adalah kemampuan manusia untuk keluar dari keterbatasan fisik kodrati yang dimilikinya. Ia mampu mengatasi kekurangan-kekurangan fisik yang dihadapinya melalui sebuah proses pendidikan sehingga ia tetap bertahan hidup. Sementara, keluar secara eksternal lebih mengacu pada proses horizontal relasional antara individu dengan individu lain di dalam masyarakat dan lingkungan yang meliputinya. Manusia melalui proses pendidikan mampu bekerja sama dengan orang lain di luar dirinya untuk mencapai tujuan bersama dalam proses penyempurnaan dirinya. Ia mampu bekerja sama dan membaktikan diri pada sebuah kehidupan yang kepentingannya menjangkau kepentingan banyak orang.

Kata educare pertama-tama mengacu lebih pada aspek organis seperti penjinakkan, penjagaan, pendampingan, pemeliharaan, nutrisi, kesehatan, sedangkan educere lebih mengacu pada aspek yang lebih interior seperti imajinasi, obeservasi, kecerdasan, akal budi, cara berfikir, sikap kritis, ekspresionalitas, operasionalitas.

Secara historis kata pendidikan banyak dipakai untuk mengacu pada berbagai macam pengertian, misalnya pembangunan (deveploment), pertumbuhan/perkembangan, formasio, sosiolisasi, inkulturasi, pengajaran, pelatihan, pembaruan. Kata pendidikan juga melibatkan interaksi dengan berbagai macam lingkungan lembaga khusus, seperti keluarga, sekolah, dan lain-lain.

Dalam bahasa Inggris, terdapat beberapa kata yang mengacu pada kegiatan mendidik. Kata education, misalnya lebih dekat dengan unsur pengajaran (instruction) yang memiliki sifat sangat skolastik. Sementara, untuk kata pertumbuhan dan perawatan, istilah yang dipakai adalah Bringing up. Sementara kata training lebih mengacu pada pelatihan yaitu sebuah proses yang membuat seseorang itu memiliki kemampuan-kemampuan untuk bertindak. Unsur pengajaran, perawatan, maupun pelatihan, merupakan bagian dari sebuah proses pendidikan itu sendiri.

B. KEGIATAN MANUSIAWI

Sebagai sebuah kegiatan manusiawi, pendidikan membuat manusia membuka diri terhadap dunia. Manusia berkembang melalui kegiatan membudaya dalam memaknai sejarahnya di dunia ini, memahami kebebasannya yang selalu ada dalam situasi agar mereka semakin mampu memberdayakan dirinya. Dalam bahasa Driyarkara, kondisi ini disebut sebagai “pengangkatan diri sendiri di atas kodrat alam dan dunia material di atas determinisnya”.

Sebagai sebuah kegiatan manusiawi, pendidikan juga menyertakan dimensi penggolongan kelas dalam corak relasionalisnya. Dalam penggunaan kata sehari-hari, misalnya ketika kita mengatakan pendidikan, apa yang dimaksudkan terutama adalah sebuah kegiatan manusiawi yang berkaitan dengan figure yang memiliki peran khusus, seperti orang tua, guru, pengajar, dosen, imam, pendidik. Singkatnya pendidikan bisa mengacu pada semua subjek yang memiliki konteks relasional secara khusus dengan subjek lain, memiliki relasi yang sifatnya interpersonal, sebuah relasi terarah pada proses pemeliharaan, penumbuhan, dan membentuk seorang individu yang sedang ada di dalam proses pertumbuhan.

C. TINDAKAN EDUKATIF

Tindakan edukatif mengacu pada sebuah intervensi sengaja baik secara individu maupun dalam kelompok untuk mempromosikan sebuah proses menjadi secara penuh dalam diri pribadi, individu ataupun komunitas dengan memperhatikan dimensi global dan aspek-aspek yang menyertainya.

Tindakan edukatif merupakan titik temu atau persimpangan antara subjektifitas individu dengan obejktifitas di masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang. Dalam konteks ini, kebaruan dan proses menjadi individu untuk menjadi manusia yang lain yang berbeda dari yang sebelumnya, dalam relasinya dengan hal-hal, dengan momentum, dengan peristiwa, bertemu secara bersamaan dalam proses menjadi dalam sejarah, entah melalui kehidupan sehari-hari yang sifatnya efimeral, ataupun melalui proses ketekunan dan ketahanan jangka panjang dalam menghayati nilai yang berguna bagi dirinya sendiri maupun bagi komunitas tempat ia hidup.

Dalam tindakan edukatif, seorang individu mampu membaktikan diri dan setia pada nilai yang diyakininya. Nilai itu bisa berupa pemahaman tentang keberadaan dirinya sebagai manusia, nilai-nilai pengetahuan yang berguna bagi hidupnya. Nilai-nilai yang dihayati melalui tindakan edukatif melalui proses pendidikan ini tidak jarang memberikan hasil yang seringkali tidak dapat diproyeksikan secara tepat. Senantiasa ada semacam ruang bagi kejutan-kejutan dan keistimewaan bagi sebuah momen edukatif. Di sinilah momen kreatif itu terjadi. Tindakan edukatif dengan demikian merupakan sebuah peziarahan yang dilalui melalui dunia niat-niat, proyeksi, keinginan, kehendak, pengharapan, penantian. Sebuah tindakan yang pertama-pertama berkaitan erat dengan dunia kebutuhan, keinginan, aspirasi dan impuls-impuls yang diterima manusia.

Tindakan edukatif membantu kita memetakan dengan lebih baik apa yang dimaksu dengan intervensi edukatif dalam kerangka pendidikan. Dalam artian yang lebih luas, tindakan edukatif mengacu pada temu berbagai macam tindakan dan aktifitas manusia yang saling memengaruhi satu sama lain. Tindakan ini bisa memiliki makna secara luas yang terwujud dalam tindakan yang dilakukan secara sadar dan bebas. Tujuan tindakan ini adalah untuk mengafirmasi diri, mengukuhkan eksistensi manusia, maupun untuk proses produksi. Tindakan edukatif mengatasi tindakan secara tradisional melibatkan para pendidik, seperti guru, orangtua, tokoh masyarakat. Demikian juga tindakan pun bisa mengacu pada tindakan dari mereka secara sosial memiliki peran dan fungsi sebagai pendidik sesuai dengan peran, cara, serta corak relasi mereka secara interpersonal satu sama lain.

Oleh karena tindakan pendidikan lebih merupakan sebuah hubungan interpersonal antara subjek yang satu dengan subjek lain yang sedang belajar, tindakan pendidikan akan semakin mendalam jika relasi personal menjadi momen sentral dalam setiap tindakan mendidik. Pendidik tidak lagi bisa bercorak secara umum dan missal, melainkan juga mempertimbangkan dimensi personalitas si subjek yang sedang belajar dengan latar belakang sejarah yang dijalaninya. Pentingnya perhatian pada subjek beserta latar belakang sejarahnya menuntut para pendidik untuk memahami situasi subjek yang belajar.

D. TINDAKAN DIDAKTIS

Selain mengacu pada tindakan edukatif, pendidikan juga mengacu pada tindakan didaktis. Tindakan didaktis lebih tertuju pada proses pengajaran dan objek-objek pembelajaran. Secara lebih khusus, tindakan didaktis adalah proses pengajaran dalam sebuah lembaga pendidikan atau lembaga formasi yang dipandu melalui kehadiran dan peranan orang-orang tertentu yang memang memiliki kualifikasi tertentu untuk proses tersebut. Jadi, ada hubungan fungsional antara orang-orang yang memiliki kualifikasi dan kompetensi yang memang ditujukan demi tercapainya tujuan pembelajaran.

Tindakan didaktis memiliki dua dimensi yang menjadi orientasi pendidikan itu sendiri, yaitu dimensi teknis-teknis dan sosial-etis. Dimensi teknis praktis sebuah tindakan didaktis mengacu pada proyek, pengorganisasian, dan penilaian bagi sebuah momen belajar secara valid dan efektif. Ini berarti suatu keseluruhan ketika para siswa dapat dan mau belajar secara bermakna, stabil, dan menghasilkan buah-buah pembelajaran secara nyata sebagaimana diarahkan oleh guru sebagai objek pembelajaran.

Dimensi sosial-etis mengacu pada dimensi nilai yang ingin ditanamkan dalam diri para siswa, seperti berbagai macam cara untuk menilai sebuah keputusan, perilaku, penilaian, dan relasi yang menjadi cirri dari tindakan didaktis tersebut. jadi, dimensi sosial-etis lebih menyangkut unsure pengembangan dimensi instrinsik dalam diri siswa yang berlangsung secara konsisten, stabil, berupa model perilaku dan sikap, sesuai dengan konteks dan situasi yang sedang dihadapinya. Dalam hal ini terdapat relasi yang erat antara kegiatan pengajaran dan pembelajaran. Corak relasi yang ada di antara mereka menunjukkan sejauh mana metode yang dipakai itu sahih dan efektif. Kesuburan dan keberhasilan sebuah pembelajaran terlebih dipengaruhi oleh model relasional.

Tindakan didaktis tidaklah sekadar merupakan intervensi sadar atas berbagai macam metodologi bagi proses pembelajaran di kelas. Model pendekatan behavoiuristik, misalnya mampu lebih menekankan sistem control atas perilaku siswa dalam proses pembelajaran sehingga mereka mampu secara optimal dan efektif belajar. Tindakan didaktis juga memperhatikan perkembangan dimensi motivasional pembelajaran. Keberhasilan sebuah proses belajar-mengajar banyak ditentukan oleh unsure motivasional yang ada dalam diri kedua belah pihak, yaitu yang ada dalam diri guru dan siswa. Unsur motivasional membantu menghadirkan situasi pembelajaran yang kondusif, yang mampu mendekatkan tujuan pembelajaran dapat menemukan kesenangan yang pada akhirnya membantunya untuk lebih mudah menguasai materi yang ditawarkan dalam proses pembelajaran tersebut.

Proses pembelajaran di kelas yang menawarkan sebuah situasi didaktis yang sangat kompleks tidak hanya menuntut para gurur untuk dapat dan mampu menguasai dan mengarahkan kelas secara baik, melainkan menjadi semacam bagian inti dari kompetensi dan kinerja profesionalnya. Untuk inilah dibutuhkan beberapa keterampilan, seperti kemampuan untuk mengatur dan menguasai kelas sehingga kelas menjadi tempat yang nyaman buat belajar, sikap fleksibel dalam menerapkan dan mengaplikasikan isi pembelajaran, pengetahuan yang mendalam tentang objek material yang sedang diajarkan, serta memiliki berbagai macam metode pengajaran sehingga ia dengan lancar dapat menularkan pengetahuan itu kepada anak didik secara efektif dan menyenangkan.

E. GENERASI YANG SEDANG BERTUMBUH

Dalam konteks modern dan kotemporer, istilah pendidikan senantiasa diletakkan dalam kerangka kegiatan dan tugas yang ditujukan bagi sebuah angkatan atau generasi yang sedang ada dalam masa-masa pertumbuhan. Oleh karena iu, pendidikan lebih mengarahkan dirinya pada pembentukan dan pendewasaan pengembangan kepribadian individu yang mengutamakan aspek-aspek dinamis dan aktif, seperti proses pengembangan dan pembentukkan diri secara terus-menerus.

Proses pembentukan diri teru-menerus ini terjadi dalam kerangka ruang dan waktu. Pendidikan dengan demikian mengacu pada setiap bentuk pengembangan dan pembentukan diri yang sifatnya prosesual, yaitu sebuah kesinambungan terus-menerus yang tertata rapid an terorganisasi, berupa kegiatan yang terarah dan tertuju pada strukturisasi dan konsolidasi kepribadian serta kehidupan relasional yang menyertainya, secara personal, sosial, komuniter, mondial, dan lain-lain.

Seringkali istilah pendidikan juga mengacu pada hasil-hasil tertentu yang sifatnya kompleks. Hasil dari proses pembentukan sebuah kegiatan pendidikan terwujud dalam diri berbagai macam subjek yang berbeda, misalnya pendidikan klasik, pendidikan teknis, pendidikan dasar, pendidikan tinggi, dan lain-lain. Yang dilihat terutama adalah kompleksitas hasil dari proses pendidikan yang dialami oleh berbagai macam subjek yang berbeda.

Kata pendidikan memang memiliki kekayaan makna yang sangat luas sehingga pendefinisian lengkap atasnya menjadi tidak memungkinkan lagi. sebuah definisi pada hakikatnya mau membatasi pemahaman sehingga apa yang dimaksudkan menjadi jelas. Ketika kita memahami pendidikan sebagai sebuah gerak progresif yang di dalamnya terdapat berbagai corak relasional antarsubjek yang terlibat, sebuah definisi tentang pendidikan akan memiskinan kekayaan makna pendidikan itu sendiri. Toh demikian tidak ada salahnya menilik dan memahami bagaimana para pemikir berusaha menjelaskan dan memahami pendidikan sesuai pendekatan yang menjadi titik pijak mereka.

Di Indonesia Undang-undang yang mengatur pendidikan adalah UU Sisdiknas (Sistem Pendidikan Nasional) yang diatur nomor 20 tahun 2003. Pengertian pendidikan dalam Undang-undang nomor 20 tahun 2003;

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.”

F. PERSOALAN SEPUTAR TUJUAN PENDIDIKAN

Dalam definisi tentang pendidikan yang diajukan di atas secara inheren terdapat tujuan-tujuan pendidikan yang secara eksplisit ingin dicapai. Dalam definisi tersebut, tujuan pendidikan adalah pengembangan diri secara utuh. Tujuan pendidikan yang diusulkan itu hanyalah salah satu dari banyak tujuan pendidikan yang bisa diajukan.

1. Tiga Fungsi Normatif Pendidikan

Meskipun para pemikir memiliki gagasan yang berbeda tentang tujuan pendidikan, mereka memiliki satu kesammaan, yaitu bahwa adanya tujuan pendidikan menjadi penentu normative bagi berlangsungnya proses pendidikan. Secara normatif ada tiga fungsi tujuan pendidikan. Pertama, tujuan sebagai pedoman arah tujuan pendidikan bersifat direktif fsn orientasional bagi lembaga pendidikan. Kedua, tujuan tidak sekadar mengarahkan proses pendidikan, melainkan semestinya juga menjadi sumber motivasi yang menggerakkan insane pendidikan untuk mengarahkan seluruh waktu dan tenaganya pada tujuan tersebut. Di sini tujuan pendidikan bersifat orientatif bagi tujuan pribadi setiap individu yang terlibat dalam dunia pendidikan. Ketiga, tujuan pendidikan menjadi dasar atau criteria untuk melaksanakan sebuah evaluasi bagi kinerjanya pendidikan. Tanpa ada penentuan tujuan pendidikan, penilaian dan evaluasi atasnya tidak dapat dilakukan. Jika evaluasi tidak dapat dilaksankan, kita tidak dapat menilai apakah campur tangan pendidikan yang kita lakukan efektif, bermakna, dan berguna. Di sini tujuan pendidikan bersifat evaluative bagi kinerja pendidikan.

Ada beberapa tujuan pendidikan yaitu

a) Tujuan Pendidikan Sebagai Orientasi Kelembagaan

Tujuan dalam pendidikan bersifat direktif atau orientatif bagi kinerja lembaga pendidikan. Tujuan pendidikan yang demikian ini bersifat intuitif ke masa depan yang akan menjadi pandu bagi campur tangan pendidikan pada masa kini. Dengan demikian kegiatan pendidikan itu memiliki arah, dan arah ini akan memberikan hasil-hasil tertentu atas campur tangan pendidikan.

b) Tujuan Pendidikan Sebagai Motivator Bagi Individu

Pendidikan bukan sekadar menjadi orientasi secara kelembagaan, melainkan juga menjadi motivasi bagi setiap individu yang terlibat di dalam dunia pendidikan. Tanpa ada tujuan yang jelas, pendidikan tidak akan menghasilkan pribadi yang cerdas dan dewasa, sebab mereka tidak tahu kemana dan untuk apa mereka melakukan campur tangan dalam kegiatan pendidikan. Oleh karena itu, tujuan pendidikan yang jelas akan meningkatkan motivasi individu dalam menghayati tugas-tugasnya sesuai dengan kedudukanya dalam lembaga pendidikan.

c) Tujuan Pendidikan Sebagai Kriteria Evaluasi Kinerja Pendidikan

Kemajuan pendidikan hanya bisa ditera apakah tujuan yang ingin diraih ini telah tercapai atau belum. Dengan demikian, tujuan pendidikan bersifat evaluative bagi kinerja pendidikan. Tanpa ada tujuan pendidikan, tidak akan dapat dilakukan evaluasi atas hasil-hasil sebuah pendidikan.

2. Asal Usul Tujuan Pendidikan

Pertama, ada yang berpendapat bahwa pendidikan bertujuan untuk menjaga keberlangsungan kehidupan sosial dalam masyarakat kita sehingga tujuan pendidikan tidak lain adalah untuk mempersiapkan anak-anak muda supaya dapat dengan lancar tanpa masalah memasuki kehidupan sosial orang-orang dewasa. Tujuan pendidikan dalam artian ini mengacu pada dinamika dan kompleksitas masyarakat. Dengan demikian pendidikan bertujuan untuk membawa, mendidik, dan membesarkan anak-anak remaja sedemikian rupa sehingga pendidikan menjadi sarana persiapan untuk pengembangan kompetensi sebagai orang dewasa sebagaimana dituntutkan dalam masyarakat. Pendidikan bersifat integratif bagi tiap individu ketika memasuki kehidupan sosial.

Jika tujuan pendidikan itu didasarkan semata-mata pada norma sosial dalam masyarakat, pendidikan bisa kehilangan otonominya, sebab semata-mata menyelaraskan tujuan pendidikan pada norma yang ada dalam masyarakat akan memposisikan pendidikan sekadar menjadi hamba dari kepentingan sosial.

Kelemahan pendekatan ini adalah bahwa tujuan pendidikan seperti ini biasanya ditentukan dari luar, yaitu oleh kaum dewasa. Anak-anak menjadi sekadar adaptor, bukan mentor bagi dirinya. Ia hanya akan taat secara pasif dan sekadar mengadaptasi hidup mereka dengan tuntutan kaum dewasa tersebut. Tujuan pendidikan bisa berakar pada kelemahan-kelemahan sosial dalam masyarakat.dengan mempertimbangkan kekurangan dan ketidakdewasaan dalam diri anak-anak yang berpotensi melahirkan instabilitas dalam masyarakat dimasa depan, sekolah menerapkan tujuan pendidikan yang sifatnya korektif terhadap kekurang dewasaan ini.

Untuk menyembuhkan sebuah masyarakat yang didera oleh kehancuran nilai-nilai moral dimana korupsi merajarela disegala bidang kehidupan, pendidikan yang memperkuatkan nilai-nilai moral generasi muda dan yang bertujuan menghidupkan semangat pelayanan dalam kejujuran menjadi alternative bagi sekolah untuk menentukan tujuan pendidikan yang dijalaninya.

Kedua,tujuan pendidikan bisa ditentukan oleh tujuan politis sebuah masyarakat. Pendidikan memang tidak dapat melepaskan diri dari pembentukan manusia didalam masyarakat yang nantinya dapat secara aktif terlibat dalam kehidupan politis, individu hanya menjadi bulan-bulanan permainan para politisi. Tanpa kebebasan mengutarakan pendapatnya didepan public, manusia menghilangkan kesempatan dirinya menjadi agen perubahan masyarakat. Namun demikian, tujuan pendidikan semata-mata pada dimensi politis ini memiskinkan keberadaan manusia yang bukan sekadar sebagai zoon politicon saja.

Ketiga, adapula yang mendasarkan tujuan pendidikan mereka dari analisis situasi sosial aktual kontemporer dengan cara mendeskripsikan dan menganalisis berbagai macam pekerjaan dan karier yang dikerjakan oleh orang-orang dewasa pada masa kini. Melalui data-data analisis situasi kontemporer ini sekolah mengarahkan anak didik agar tidak mengalami kesulitan ketika harus terjun ketengah masyarakat sesuai pekerjaan yang tersedia dalam masyarakat. Ide link and match pendidikan mengikuti asumsi dasar tujuan pendidikan ini. Kelemahan pendekatan tujuan pendidikan seperti ini adalah bahwa pendidikan diredusir sekadar pada tujuan teknis dan keterampilan praktis yang memiskinkan makna pendidikan itu sendiri.

Keempat, ada yang mendasar tujuan pendidikan mereka pada analisis historis lembaga sosial. Yang mereka lalukan pertama-tama adalah menganalisisi bagaimana sikap dan perilaku anak didalam lembaga pendidikan , yaitu sekolah. Yang kedua mencoba menganalisis bagaimana sikap dan perilaku orang-orang dewasa yang ada didalam masyarakat. Apa yang dilatih disekolah akan disesuaikan dengan apa yang menjadi aturan main didalam masyarakat.

Menentukan tujuan pendidikan melalui kerangka pendekatan sosiologis tidaklah tanpa masalah dan kelemahan. Pendekatan sosiologis cenderung mempertahankan status quo. Pendekatan sosiologis seperti ini mampu dengan baik menggambarkan nilai-nilai apa yang diyakini masyarakat agar bisa bertahan hidup dalam tata masyarakat yang secara faktual ada, namun mereka tidak dapat menjelaskan apakah nilai-nilai ini perlu diubah, dibuang, dipertahankan, atau reformasi.

Kelima, pendidikan memang tidak dapat melepaskan diriinya dari konteks tempat masyarakat itu hidup, seperti konteks social, budaya, politik, dan ekonomi. Pendidikan juga melibatkan matriks lain yang sifatnya lebih personal-individual. Matriks personal ini juga penting sebab pribadi yang belajar adalah individu. Oleh karena itu, apa yang ada dalam diri individu, seperti daya-daya psikologis, kecenderungan, bakat-bakat, talenta, keinginan, kepercayaan, keyakinann, dan lain-lain, juga mesti dijadikan pertimbangan bagi penentuan tujuan pendidikan.

3. Proses Internal dan Eksternal

Penentuan tujuan pendidikan semestinya menjadi bagian internal proses pendidikan itu sendiri. Sekolah dalam artian tertentu semestinya otonom dalam menentukan tujuan-tujuannya sendiri, sebagaimana tercermin dalam pemilihan kurikulum, metode pembelajaran, proses penilaian, dan lain-lain.

Menentukan tujuan pendidikan dengan mendasarkan diri pada tujuan yang ada diluar kerangka tujuan proses pendidikan itu merupakan sebuah penyelewengan terhadap kodrat pendidikan itu sendiri. Kondisi sosial eksternal memang memberikan semacam acuan dan referensi untuk menilai dampak dari sebuah proses pendidikan, namun data-data tersebut tidak dapat dijadikan bahan untuk menentukan norma bagi tujuan pendidikan. Hal yang normatif tidak dapat disimpulkan dari fakta dan data empiris.

4. Stabilitas dan Fleksibelitas Tujuan Pendidikan

Tujuan pendidikan memang menyertakan matriks sosial, namun juga tidak melalaikan matriks yang sifatnya individu. Kedua model penentuan tujuan pendidikan, baik yang bermula dari matriks sosial maupun individu memiliki kelenturan sebab tergantung pada bagaiman cara kita menafsirkan konteks sosial maupun motivasi individual dalam membentuk diri melalui pendidikan. Tujuan pendidikan akan berhasil atau tidak tergantung pada adanya kelenturan (flexibility) atau kekakuan (rigidity) terhadap tujuan-tujuan pendidikan.

Filsafat pendidikan skolatis lebih menyukai gagasan idealis yang mengatakan bahwa tujuan pendidikan itu semetinya mengatasi fakta-fakta dalam dunia pendidikan itu sendiri. Sebab, arus pengalaman manusia yang berubah dengan begitu cepat tidaklah terlalu memuaskan untuk dijadikan pedoman dan patokan bagi sebuah proses pendidikan. Yang dibutuhkan adalah defenisi tentang tujuan pendidikan yang mengatasi dan berada diluar pengalaman langsung moment-moment pendidikan itu sendiri. Jadi tujuan pendidikan itu sendiri harus ditentukan dari luar sehingga mampu menjadi semacam idealisme atau cita-cita yang ingin diraih. Sebaliknya mereka yang berpendapat bahwa tujuan-tujuan pendidikan itu semestinya muncul dari pengalaman-pengalaman sosial atau individu) beranggapan bahwa tujuan-tujuan pendidikan itu sudah semestinya mengalami proses pembaharuan terus-menerus secara dinamis untuk menanggapi tuntutan lingkungan. Keuntungan pandangan ini adalah bahwa guru dan siswa dapat secara langsung mengapresiasi ilmu dan pengatahuan yang mereka pelajari dengan mengaktualisasikannya dengan situasi yang sedang berjalan.

Mereka yang menentang pendekatan idealisme mengatakan bahwa tujuan akhir pendidikan yang telah pasti, stabil, tak berubah, tidak mencukupi. Idealisme pendidikan membuat kinerja pendidikan itu jauh dari relevasi dinamika kehidupan masyarakat .

Model hirearki kekuasaan dalam menentukan tujuan pendidikan adalah anti demokrasi. Mereka yang sedikit menentukan tujuan pendidikan bagi banyak orang.

5. Persoalan Seputar Temporalitas Tujuan Pendidikan

Dalam sejarah pendidikan, proporsi untuk integrasi ini rupanya tidak sepenuhnya dapat dipenuhi. Sebelum revolusi kopernikan abad ke-19 yang ditandai dengan ditemukannya, “sang anak” , pendidikan lebih menekankan eksistensi orang dewasa sebagai lebih penting dibandingkan eksistensi sang anak. Anak hanyalah dianggap sebagai mahluk kecil yang belum dewasa. Oleh karena itu, tujuan pendidikan akan lebih ditekankan pada formasi dan pembentukan dari anak-anak itu untuk disiapkan menjadi orang-orang dewasa, tanpa mau memperhatikan kebutuhan anak itu sendiri sesuai dengan tahap perkembangan kebutuhannya.

Revolusi kopernikan dalam dunia pendidikan abad ke-19 merupakan sebuah pemberontakan atas “kerdilisasi” individu yang terjadi selama ini.usaha-usaha untuk memberikan pada status dan kedudukan sekarang ini menjadi semacam usaha yang akan memiliki makna bagi mereka kelak dikemudian hari. Masa kini merupakan sebuah locus pertumbuhan yang menyeruak dari masa lalu, terolah secara actual pada masa sekarang yang didalamnya memiliki dimensi masa depan.

6. Manusia Menentukan Tujuan Pendidikan

Pendidikan adalah sebuah konsep yang sangat abstrak, yang tidak dapat memiliki tujuan-tujuan pendidikan dalam dirinya sendiri. Yang bisa memiliki tujuan-tujuan pendidikan adalah manusia-manusia kongkret yang terlibat dalam proses pendidikan, seperti guru, siswa, dan lain-lain. Dengan demikian, tujuan pendidikan itu besifat konstektual dan spontan sesuai dengan kebutuhan dan kemendesakan. Proyek pendidikan menjadi sarana untuk memecahkan persoalan pendidikan. Tujuan pendidikan itu memang selalu konstektual, tergantung pada ruang dan waktu dimana praksis pendidikan itu ditentukan. Situasi tidak pasti inilah yang meurut Edgar Morin perlu mendapatkan perhatian dalam dunia pendidikan.

Singkatnya pendekatan ini mengatakan bahwa tujuan pendidikan tidak berlaku secara universal, tidak dapat dideduksi dari gagasan ideal tentang pendidikan, melainkan merupakan proses kontekstualisasi kinerja pendidikan sesuai dengan tuntutan zaman dan masyarakat tempat praksis pendidikan itu akan dilaksanakan.

7. Tujuan Pamungkas Pendidikan

Manusia yang seimbang bertumbuh secara integral, baik dimensi fisik, moral, intelektual, soaial, maupun kerohaniannya. Manusia memiliki kemampuan untuk melesat jauh kedepan.

Proses penyeimbangan pencarian tujuan ini bisa dilakukan dengan mengintegrasikan berbagai macam tujuan yang sifatnya temporal dalam kerangka tujuan visioner ke depan yang mengatasi masa sekarang. Tujuan-tujuan pendidikan dipahami berdasarkan horizon tujuan pamungkas pendidikan (ultimate aims of education).

Tentang apa yang dimaksud dengan tujuan pamungkas pendidikan inipun terdapat banyak perbedaan. Ini berkaitan dengan persoalan seputar penentuan tujuan pendidikan. Tujuan pamungkas ini, misalnya, bisa mengacu pada realisasi diri manusia secara penuh. Oleh karena itu, tujuan pendidikan lebih berkaitan denga tugas-tugas untuk meneliti potensi-potensi yang ada dalam diri manusia dan membuat proyek yang membantu manusia supaya dapat merealisasikan potensi dirinya secara penuh. Jadi, tujuan pamungkas pendidikan ini tidak sama denga hasil nyata yang bias dilihat secara langsung, misal mencetak seorang sarjana, insinyur, dokter dan lain-lain.

Tujuan pamungkas pendidikan juga bisa dipengaruhi oleh keyakinan agama sebuah masyarakat. Jika nilai-nilai religious yang diyakini oleh agama tertentu dipakai sebagai tujuan pamungkas sebuah pendidikan, tujuan pendidikan inipun bisa selaras denga tujuan keyakinan iman nilai-nilai agama tersebut. Tujuan pendidikan bisa sesuai dengan tujuan agama itu dalam menjawab awal dan akhir tujuan hidup manusia sebagai hakikat dan tujuan hidup manusia (sangkan paraning dumadi).

BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Pendidikan memiliki banyak arti. Di antaranya dalam bahasa latin yang terdiri dari educere dan educare. Kata educere merupakan gabungan dari preposisi ex ( yang artinya keluar dari) dan kata kerja ducere (memimpin). Kata educare dalam bahasa Latin memiliki arti melatih atau menjinakkan dan menyuburkan. Di Indonesia Undang-undang yang mengatur pendidikan adalah UU Sisdiknas (Sistem Pendidikan Nasional) yang diatur nomor 20 tahun 2003. Pengertian pendidikan dalam Undang-undang nomor 20 tahun 2003;

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.”

Pendidikan juga dikenal dengan kegiatan manusiawi karena proses pendidikan bukan hanya terletak pada bangku sekolah tapi seumur hidup manusia adalah proses pendidikan. Tindakan edukatif mengacu pada sebuah intervensi sengaja baik secara individu maupun dalam kelompok untuk mempromosikan sebuah proses menjadi secara penuh dalam diri pribadi, individu ataupun komunitas dengan memperhatikan dimensi global dan aspek-aspek yang menyertainya. Tindakan didaktis lebih tertuju pada proses pengajaran dan objek-objek pembelajaran. Secara lebih khusus, tindakan didaktis adalah proses pengajaran dalam sebuah lembaga pendidikan atau lembaga formasi yang dipandu melalui kehadiran dan peranan orang-orang tertentu yang memang memiliki kualifikasi tertentu untuk proses tersebut.

B. SARAN

Saran kami kepada calon pendidik adalah untuk lebih memahami arti dari pendidikan tersebut agar tidak salah kaprah dalam mengajari peserta didik. Selain itu guru juga mesti memahami criteria pendidikan serta tujuan terarah dari pendidikan.

DAFTAR PUSTAKA

Koesoema, Doni. 2010. Pendidikan Berkarakter. Jakarta: Grasindo

0 komentar: