BAB IV

PENINGKATAN KETERAMPILAN BERBICARA

Latar Belakang dan Tujuan

Dalam perkembangan ilmu dan teknologi yang sangat cepat seperti sekarang ini terasa sekali bahwa kegiatan membaca boleh dikatakan tidak dapat terlepas dari kehidupan manusia. Berbagai informasi sebagian besar disampaikan melalui media cetak, dan bahkan yang melalui lisanpun bisa dilengkapi dengan tulisan atau sebaliknya. Oleh karena itu, di Negara kita terdapat kemungkinan suatu saat kegiatan membaca akan menjadi kebutuhan hidup sehari-hari seperti yang terdapat kemungkinan suatu saat kegiatan membaca akan menjadi kebutuhan hidup sehari-hari seperti yang terdapat di Negara-negara maju. Di sisi lain keterbatasan waktu selalu dihadapi oleh manusia itu sendiri. Hal itu didasarkan pada adanya kenyataan arus informasi berjalan begitu cepat, kesibukan manusia sangat banyak, sehingga waktu yang tersedia untuk membaca sangat terbatas. Padahal, kegiatan membaca untuk dapat mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi tersebut mutlak diperlukan.

Oleh karena itu, sebenarnya kini manusia dihadapkan pada problema bagaimana mengatasi keterbatasan waktu itu, dan dapat membaca dalam waktu yang relative singkat, namun dapat memperoleh informasi yang maksimal. Dengan pernyataan lain, persoalannya adalah bagaimana melakukan kegiatan membca secara efektif sehingga waktunya tidak banyak terbuang secara mubasir. Untuk itu, salah satu cara yang dapat kita tempuh adalah berlatih membaca secara kritis untuk meningkatkan diri. Adapun bahan yang dapat berupa bacaan apa saja, misalnya berita, petunjuk, dialog, sampai pada wacana karya ilmiah termasuk di dalamnya ilmiah popular.

Berlatih membaca itu dapat dilakukan secara bebas, dan bersifat individual, dapat pula dilakukan secara terstruktur, terbimbing, seperti dalam kegiatan belajar mengajar. Membaca sebagai suatu kegiatan belajar mengajar tidak dapat berdiri sendiri. Kegiatan membaca selalu terkait dengan kegiatan berbahasa yang lain, yaitu berbicara dan menulis.

Dalam kegiatan ini secara umum diharapkan Anda dapat memahami dan menanggapi secara kritis wacana nonfiksi tertulis. Secara lebih khusus, Anda diharapkan dapat:

1. Menjawab atau menulisa pertanyaan tentang isi dan maksud wacana yang telah Anda baca,

2. Menceritakan isi dan maksud wacana yang telah Anda baca,

3. Mendiskusikan isi dan maksud wacana yang telah Anda baca,

4. Menanggapi secara kritis isi wacana yang telah Anda baca,

5. Menanggapi secara kritis teknik penyajian wacana yang telah And abaca,

6. Menanggapi secara kritis bahasa wacana yang telah Anda baca,

7. Menggunakan secara kreatif isi wacana yang telah Anda baca dalam kegiatan berbahasa secara terpadu dan kontekstual.

A. Keterampilan Membaca

Keterampilan berbahasa ada empat, yaitu keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Membaca dapat dilihat sebagai suatu proses, dan sebagai hasil. Membaca sebagai suatu proses merupakan semua kegiatan dan teknik yang ditempuh oleh pembaca yang mengarah pada tujuan melalui tahap-tahap tertentu (Burns, 1985). Proses tersebut berupa penyandian kembali dan penafsiran sandi. Kegiatannya dimulai dari mengenali huruf, kata, ungkapan, frasa, kalimat, dan wacana, serta menghubungkannya dengan bunyi dan maknanya (Anderson, 1986). Bahkan lebih dari itu, pembaca menghubungkannya dengan kemungkinan maksud penulis berdasarkan pengalamannya (Ulit, 1995). Sejalan dengan itu, Kridalaksana (1993: 135) menyatakan bahwa membaca adalah “Keterampilan mengenal dan memahami tulisan dalam bentuk urutan lambing-lambang grafis dan perubahannya menjadi wicara bermakna dalam bentuk pemahaman diam-diam atau pengajaran keras-keras”. Kegiatan membaca dapat bersuara, dapat pula tidak bersama.

Untuk memperoleh pemahaman bacaan, seorang pembaca memerlukan pengetahuan baik kebahasaan maupun nonkebahasaan. Bahkan keluasan latar belakang pengetahuan dan pengalaman pembaca sangat berguna sebagai bekal untuk mencapai keberhasilan membaca. Sebab, pembaca harus mengenali konsep, kosakata, serta latar yang terdapat dalam bacaan (Burns, 1985). Model membaca sebagai proses memperoleh pemahaman ada tiga, yaitu bawah ke atas (bottom up), atas ke bawah (top down), dan interaktif (interactive) (Ulit, 1995). Proses pemahaman bottom up dilakukan dengan memahami kata, frasa, kalimat, paragraph, dan wacana. Proses pemahaman top down dilakukan melalui pemahaman wacana secara utuh yang bersifat prediktif kemudian ditelaah makna paragraph, kalimat, frasa, dan kata. Sementara itu proses pemahaman interactive merupakan campuran dari kedua proses tersebut.

Dari uraian secara singkat tentang proses membaca tersebut dapat disimpulkan bahwa kegiatan membaca terkait dengan (a) pengenalan huruf atau aksara, (b) bunyi dari huruf atau rangkaian huruf, dan (c) makna atau maksud, dan (d) pemahaman terhadap makna atau maksud berdasarkan konteks wacana.

Contoh kegiatan membaca itu dapat ditampilkan dalam kegiatan berikut ini. Coba And abaca tulisan ini!

Bu, sudah jam 06.30!

Kita semua yakin dan paham benar arti atau makna tulisan tersebut. Namun apakah maksud tuturan tersebut? Coba Anda pikirkan, bayangkan konteks (tempat, partisipanya dan gaya pengungkapannya). Yakinkah maksudnya? Bila konteksnya memungkinkan, maksud tuturan tersebut dapat saja:

1) “Bu, cepat-cepat nanti terlambat”.

2) “Bu, saya diantar”.

3) “Bu, sarapannta segera disiapkan”.

4) “Bu, saya tidak sempat makan pagi”.

5) “Bu, cepat bangun”.

6) “Bu kita cepat pulang. Anak-anak kasihan.” Dsb

Membaca sebagai hasil, berupa dicapaiknya komunikasi pikiran dan perasaan penulis dengan pembaca. Komunikasi itu terjadi karena terdapat kesamaan pengetahuan dan asumsi antara pembaca dan penulis. Komunikasi yang terjadi bergantung pada pemahaman yang dirasakannya melalui semua proses membaca. Oleh karenanya, membaca sering disebut proses konstruktif (menyusun gagasan atau maksud penulis).

Pemahaman itu sangat dipengaruhi oleh pengalaman dan pengetahuan pembaca. Pembaca yang memiliki pengetahuan dan pengalaman yang lebih luas akan berpeluang lebih besar untuk dapat mengembangkan pemahaman kata dan konsep bacaan daripada yang lainnya (Burns, 1985). Hal tersebut didasari oleh adanya asumsi bahwa penulis pun mengungkapkan gagasannya menggunakan alur berpikir tertentu, dan mengikuti aturan bahasa yang berlaku. Hakuta (1986) secara metaforis menyatakan dalam kaitannya dengan tulisan, bahwa kata tanpa pikiran merupakan sesuatu yang mati, dan pikiran tanpa kata-kata tinggal bayangan.

B. Kegiatan Membaca

1. Membaca Berita, Petunjuk, Dialog, Iklan dan Pidato

Berikut ini disajikan wacana berita, petunjuk, dialog, iklan, dan biodata. Bacalah baik-baik! Agar kegiatan Anda dan bervariasi, setiap selesai membaca satu wacana Anda diharapkan melaksanakan tugas yang diminta.

a. Membaca Berita

Wacana berita biasanya berisi tentang informasi yang mencakup peristiwa apa yang terjadi, siapa saja yang terlibat dalam peristiwa, di mana tempat terjadinya peristiwa, kapan waktu terjadinya peristiwa, bagaimana atau mengapa peristiwa itu terjadi.

Di samping itu, pengajaran berbicara perlu memperhatikan dua faktor yang mendukukng kea rah tercapainya pembicaraan yang efektif, yaitu faktor kebahasaan dan non kebahasaan. Faktor kebahasaan yang perlu diperhatikan ialah (1) pelafalan bunyi bahasa, (2) penggunaan intonasi, (3) pemilihan kata dan ungkapan, (4) penyusunan kalimat dan paragraph. Sementara itu, faktor non kebahasaan yang mendukung keefektifan berbicara ialah (1) ketenangan dan kegairahan, (2) keterbukaan, (3) keintiman, (4) isyarat nonverbal, dan (5) topic pembicaraan.

B. Bercerita, Berdialog, Berpidato/Berceramah, Berdiskusi

Berikut ini secara berurutan akan Anda pelajari (1) bercerita, (2) berdialog, (3) berpidato, dan (4) diskusi. Agar keterampilan berbicara ini dapat dikuasai dengan baik, Anda diminta untuk mempraktikkannya.

1. Bercerita

Sejak zaman dahulu leluhur kita mempunyai kebiasaan bercerita secara lisan. Tukang cerita dan pelipur lara mendapat tempat terhormat di hati masyarakat. Budaya baca tulis yang masuk ke Indonesia bersama-sama dengan masuknya peradaban modern telah menggeser kedudukannya. Meskipun demikian, orang yang mahir bercerita akan disenangi oleh anak-anaknya. Melalui cerita dapat pula dijalin hubungan yang akrab.

Di samping itu, ada tida manfaat yang dapat dipetik dari bercerita, yaitu (1) memberikan hiburan, (2) mengajarkan kebenaran, dan (3) memberikan keteladanan atau model. Cerita adalah sejenis hiburan yang murah, yang kehadirannya amat diperlukan sebagai bumbu dalam pergaulan. Pertemuan akan terasa kering dan gersang tanpa kehadiran cerita. Kisah-kisah lama pada umumnya memiliki tema hitam putih, artinya kebenaran dan keluhuran budi yang dipertentangkan dengan kebatilan akan selalu dimenangkan. Di situlah pencerita mengajarkan nilai luhur yang bersifat universal, sekaligus menghadirkan tokoh protogonis sebagai model keteladanan.

Untuk menjadi pencerita yang baik dibutuhkan persiapan dan latihan. Persyaratan yang perlu diperhatikan, antara lain (1) penguasaan dan penghayatn cerita, (2) penyelarasan dengan situasi dan kondisi, (3) pemilihan dan penyusunan kalimat, (4) pengekspresian yang alami, (5) keberanian.

Nadeak (1987) mengemukakan beberapa petunjuk yang berkaitan dengan aspek lisan dan tulisan. Petunjuk tersebut mencakup 18 hal, yaitu (1) memilih cerita yang tepat, (2) mengetahui cerita, (3) merasakan cerita, (4) menguasai kerangka cerita, (10) mengisahkan cerita secara langsung, (11) bercerita dengan tubuh alamiah, (12) menentukan tujuan, (13) mengenali tujuan dan klimaks, (14) memfungsikan kata dan percakapan dalam cerita, (15) melukiskan kejadian, (16) menetapkan sudut pandang, (17) menciptakan suasana dan gerak, (18) merangkai adegan.

2. Berdialog

Dialog secara umum diartikan kegiatan berbicara dua arah, maksudnya para partisan saling berbicara, bertanya jawab, menanggapi mitra bicara. Ada berbagai bentuk bicara termasuk dialog yaitu tegur sapa, konservasi, wawancara, diskusi, dan bertelepon. Dialo dalam pengertian khusus adalah percakapan yang terjadi antar pelaku dalam suatu drama. Tarigan (1986:77) berpendapat bahwa dalam setiap lakon dialog harus memenuhi dua macam persyaratan, yaitu (1) dialog haruslah dapat mempertinggi nilai gerak, dan (2) dialog haruslah baik dan bernilai tinggi.

Persyaratan pertama mengandung maksud agar dialog yang digunakan mencerminkan apa-apa yang telah terjadi selama permainan, selama pementasan, dan juga mencerminkan pikiran atau gagasan para tokoh yang ikut berperan dalam lakon itu. Sementara persyaratan kedua, dialog yang baik dan bernilai tinggi berarti harus terarah dan lebih teratur daripada percakapan sehari-hari, jangan hendaknya ada kata-kata yang tidak perlu; para tokoh berbicara dengan jelas dan menuju sasaran.

Dalam materi ini dialog diartikan dengan sangat sederhana, yaitu percakapan yang terjadi antara dua orang atau lebih. Dialog seperti ini dapat terjadi kapan dan dimana saja. Topik pembicaraan sangat bervariasi, dari hal-hal yang ringan sampai pada persoalannya yang berat.

Dialog atau percakapan ini akan berjalan baik, lancar dan mengasyikkan manakala partisipan saling memperhatikan. Sikap give and take, serta saling pengertian perlu dikembangkan. Pokok pembicaraan berkisar pada persoalan yang relevan dengan kepentingan bersama. Ucapan yang menyinggung perasaan serta perilaku menonjolkan diri harus dihindari. Santun dialog perlu dipelihara, dengan menghindari sikap mendikte, ekspresi kekesalan atau kejengkelan, dan sikap merendahkan diri yang berlebih-lebihan.

Hal yang perlu mendapatkan perhatian adalah (1) bagaimana seseorang menarik perhatian, (2) bagaimana cara mulai dan memprakarsai suatu percakapan, (3) bagaimana cara menginterupsi, menyela, memotong pembicaraan, mengoreksi, memperbaiki kesalahan, dan mencari kejelasan, serta (4) bagaimana mengakhiri suatu percakapan. Analisis terhadap praktik dialog yang sesungguhnya akan meningkatkan kesadaran secara sungguh-sungguh.

Bahasa dalam dialog biasanya pendek-pendek, dan kurang terstruktur. Meskipun demikian, pembicaraan dapat dipahami sebab disertai mimik dan pantomimik yang mendukung. Ekspresi wajah, gerakan tangan, anggukan kepala, dan sejenisnya yang termasuk paralinguistic amat penting dalam percakapan.

Dalam pengajaran bahasa di sekolah, terutama di sekolah dasar dialog perlu diberikan agar mereka dapat bergaul di tengah masyarakat. Dalam buku pelajaran dikemukakan beberapa contoh percakapan agar dapat dipraktikan secara berpasangan.

3. Berpidato/berceramah

Pidato adalah penyampaian uraian secara lisan tentang suatu hal di hadapan massa. Penyampaian uraian berarti mengutarakan sejelas-jelasnya menurut cara-cara tertentu. Penyampaian suatu hal belum disertai penjelasan, misalnya penyampaian perintah atau pengumuman belum dapat dikatakan pidato. Penyampaian secara lisan mendapat tekanan dalam pengertian untuk membedakan dengan uraian secara tertulis, baik dalam bentuk artikel maupun buku. Meskipun demikian, tidak tertutup kemungkinan bahan pidato diangkat dari suatu artikel atau buku. Pengertian massa adalah sekelompok orang yang pada waktu tertentu bersamaan tekad dan tujuan serta memiliki persamaan dan perasaan. Massa berbeda dengan sekelompok orang yang berada di suatu tempat tanpa ikatan tujuan dan emosional.

Pidato dapat dijumpai dalam berbagai pertemuan, misalnya pernikahan, ulangtahun, kematian, peringatan hari besar. Jenis dan sifat pidato yang disampaikan dapat berupa pidato informative, persuasive, rekreatif, argumentative.

Pidato/ceramah memiliki peran yang sangat penting. Mereka yang mahir berpidato dapat menggunakannya untuk memaparkan gagasannya sehingga gagasan itu diterima oleh banyak orang banyak. Pidato dapat juga digunakan untuk menguasai massa dan menggerakkanya untuk tujuan-tujuan tertentu. Hitler, misalnya, menggunakan kemahiran berpidato untuk menyeret bangsanya ke arah api peperangan. Di Indonesia dikenal nama Bung Tomo yang dengan kemampuannya berpidato sanggup menggerakkan massa untuk melawan penjajah.

Kemampuan pidato sangat diperlukan dalam kehidupan bermasyarakat, terutama bagi seorang pemimpin, tokoh masyarakat, dan para ahli. Buah pikiran, penemuan-penemuan, dan informasi akan mudah diterima apabila disampaikan melalui pidato yang baik. Kemahiran berpidato bukan saja menuntut penguasaan yang baik, melainkan juga menghendaki persyaratan lain, seperti (1) keberanian, (2) ketenangan menghadapi massa, (3) kecepatan bereaksi, dan (4) kesanggupan menyampaikan ide secara lancar dan sistematis. Keraf (1980:317) mengemukakan tujuh langkah dalam mempersiapkan penyajian lisan, yaitu (1) menentukan maksud, (2) menganalisis pendengar dan situasi, (3) memilih dan menyempitkan topic, (4) mengumpulkan bahan, (5) membuat kerangka uraian, (6) menguraikan secara mendetail, dan (7) melatih dengan suara nyaring. Dalam hubungannya dengan pembuatan kerangka dan pengembangan topic dapat digunakan beberapa model, misalnya (1) urutan topic, (2) aturan waktu, (3) urutan tempat, (4) urutan aspek, dan (5) sebab akibat.

Sementara itu, secara umum sikpa dan tata karma yang perlu mendapatkan perhatian ialah (1) berpakaian yang bersih, rapi, sopan, dan tidak pamer, (2) rendah hati tetapi bukan rendah diri atau kurang percaya diri, (3) menggunakan kata-kata yang sopan, sapaan yang mantap dan bersahabat, (4) menyelipkan humor yang segar, sopan, (5) mengemukakan permohonan maaf pada akhir pidato.

4. Berdiskusi

Diskusi atau bertukar pikiran merupakan salah satu bentuk berbicara dalam kelompok yang banyak digunakan dalam masyarakat. Penerapannya dapat ditemukan dalam berbagai kegiatan, misalnya rembug desa, musyawarah, raoat, belajar kelompok, diskusi kelompok, diskusi panel, seminar, lokakarya, dan symposium.

Nio (1981:4) mengatakan diskusi adalah proses penglibatan dua atau lebih individu yang berinteraksi secara verbal dan tatap muka, mengenai tujuan yang sudah tentu melalui tukar-menukar informasi untuk memecahkan masalah. Sementara itu, Brilhart (1973:2) mengemukakan bahwa diskusi adalah pembicaraan antara dua orang atau beberapa orang dengan tujuan untuk mendapatkan suatu pengertian, kesepakatam atau keputusan bersama mengenai suatu masalah. Dari kedua batasan tersebut dapat disimpulkan bahwa esensi diskusi adalah (1) partisipan lebih dari satu orang, (2) dilaksanakan dengan bersemuka, (3) menggunakan bahasa lisan, (4) tujuannya untuk mendapatkan kesepakatan bersama, (5) dilakukan melalui tukar-menukar informasi dan tanya jawab.

Dipodjojo (1982:64) berpendapat bahwa dalam diskusi perlu dijalin pengertian tentang (1) sikap kooperatif di antara para anggota, (2) semangat berinteraksi, (3) kesadaran berkelompok, (4) bahasa merupakan alat pokok komunikasi, dan (5) kemampuan daya memahami persoalan. Berkenaan dengan hal itu maka sikap yang dikembangkan oleh setiap peserta diskusi adalah an open mind, an open heart, an open mouth.

Suatu diskusi akan berjalan baik apabila terpenuhi syarat-syarat berikut ini;

(1) Pimpinan dan peserta diskusi memahami peranannya masing-masing

(2) Suasana demokratis

(3) Peserta berpartisipasi penuh

(4) Selalu dikembangkan bimbingan dan control

(5) Mengutamakan kontra argument bukan kontraemosi

(6) Menggunakan bahasa yang singkat, jelas, dan tepat

(7) Terhindar dari klik yang monopoli pembicaraan

(8) Dihasilkan suatu kesimpulan

Dalam proses tukar-menukar pikiran perlu diperhatikan tata tertib dan santun diskusi, terutama yang berkaitan dengan cara mengemukakan pendapat, menanggapi atau menanyakan sesuatu, menyampaikan jawaban atau tanggapan balik. Untuk dapat memahami pendapat orang lain, peserta diskusi sebaiknya (1) mendengarkan uraian dengan penuh perhatian, (2) menghilangkan sikap emosional dan purbasangka, (3) menangkap gagasan utama dan gagasan penjelas serta mempertimbangkannya.

Dalam mengajukan pertanyaan atau sanggahan hendaklah dilakukan secara santun, misalnya (1) pertanyaan dan sanggahan harus jelas dan tidak berbelit-belit, (2) pertanyaan dan sanggahan diajukan dengan santun, menghindari pertanyaan, permintaan, dan permintaan langsung, (3) diusahakan agar pertanyaan dan sanggahan tidak ditafsirkan sebagai bantahan atau debat. Sementara itu, dalam menjawab pertanyaan atau memberikan tanggapan balik, sebaiknya memperhatikan empat hal, yaitu (1) jawaban dan tanggapan sehubungan dengan pertanyaan dan tanggapan itu saja, (2) jawaban harus objektif dan diusahakan dapat memuaskan berbagai pihak, (3) prasangka dan emosi harus dihindarkan, (4) bersikap jujur dan terus terang apabila tidak bisa menjawab.

Dalam menyampaikan persetujuan maupun penolakan terhadap suatu pendapat seharusnya dilandasi alasan yang masuk akal. Persetujuan akan lebih berharga apabila diikuti dengan argument dari sisi yang lain, sebaliknya sanggahan perlu disertai sebagai sindiran atau cemoohan dan dapat menyinggung perasaan harus dihindarkan.

Kseimpulan diskusi hendaklah didasarkan oada objektivitas dan kemaslahatan bersama. Pengambilan keputusan dilakukan pada saat yang tepat, artinya apabila sudah banyak persamaan pendapat moderator segera mengambil kesimpulan. Keterlambatan dalam menyimpulkan pendapat dapat mengakibatkan diskusi menjadi berlarut-larut.

RANGKUMAN

1) Guru dituntut memiliki keterampilan berbicara agar dapat menyampaikan informasi kepada anak didiknya dengan baik.

2) Berbicara secara umum dapat diartikan suatu penyampaian maksud (ide, pikiran, isi hati) seseorang kepada orang lain dengan menggunakan bahasa lisan sehingga maksud tersebut dapat dipahami orang lain. Secara khusus, berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan.

3) Berbicara dapat dikelompokkan berdasarkan beberapa aspek, antara lain (1) arah pembicaraan yakni berbicara satu arah dan dua/multi arahh, (2) tujuan pembicaraan, yakni berbicara persuasi, argumentasi, agitasi, instruksional, rekreatif, dan (3) suasana, yakni berbicara formal dan nonformal.

4) Pengajaran berbicara lebih menekankan praktik daripada teori. Pelaksanaannya diusahakan memiliki aspek komunikasi dua arah dan fungsional. Pengajaran berbicara dengan keterampilan berbahasa yang lain dan usaha peningkatan kemampuan aspek kebahasaan. Materi pembicaraannya harus bermakna bagi anak didik.

Rujukan

Depdikbud. (1984/85). Program Akta Mengajar V-B Komponen Bidang Studi Bahasa Indonesia: Buku II Modul Keterampilan Berbicara dan Pengajarannya. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.

Dipodjojo, Asdi S. (1982). Komunikasi Lisan. Yogyakarta: Lukman.

Keraf, Gorys. (1980). Komposisi. Ende-Flores: Nusa Indah.

Tarigan, Henry Guntur. (1983). Berbicara sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

Nio, Be Kim Hoa. (1980). Percakapan dan Diskusi. Jakarta: P3G Depdikbud.

0 komentar: