BAB I

PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG

Dalam kehidupan global yang pertama kali harus disadari adalah bahwa manusia adalah merupakan warga Negara global, sebagai penduduk dunia yang memiliki hak dan kewajiban tertentu. Hak merupakan cornerstone of citizenship (Stainer, 1996:20), merupakan inti dari kehidupan warga dunia. Sedangkan kewajiban merupakan panggilan atau tanggung jawab atau tugas kita sebagai warga dunia. Selain itu, perlu kita sadari bahwa di dunia ini tidak hanya ada kita, akan tetapi pada orang lain yang bermukin di seluruh belahan dunia. Oleh karena itu, kita harus banyak mempelajari tentang dunia dan seisinya.

Oleh karena siswa kita merupakan bagian dari dunia maka dia harus diberikan pengetahuan tentang keberadaan dia sebagai penduduk dunia. Tugas guru adalah mengglobalkan pengetahuan dan sikap serta kesadaran siswa terhadap dunia. Guru seperti ini adalah guru global atau Global Teacher (Steiner, 1996).

Kesadaran tentang terjadinya globalisasi adalah sikap menerima suatu kenyataan bahwa planet tempat kita berada ini semakin menyempit dengan adanya terobosan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Sikap dalam menghadapi globalisasi ini adalah bukan melawan arus globalisasi akan tetapi kita harus dapat “menjinakkan” globalisasi itu sendiri. Globalisasi adalah suatu proses yang berlanjut, bila kita lambat mengikutinya maka kita akan semakin ketertinggalan. Tetapi juga akan berakibat fatal apabila kita salah dalam memperlakukannya. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai pentingnya kesadaran dalam perspektif global.

  1. RUMUSAN MASALAH

Rumusan masalah dalam makalah ini adalah,

1. Apa kesadaran dalam perspektif global?

2. Apa saja landasan kesadaran dalam perspektif global?

3. Bagaimana kesadaran dalam perspektif global?

  1. TUJUAN

Adapun tujuan dalam pembuatan makalah ini adalah,

1. Agar dapat mengetahui arti dari kesadaran dalam perspektif global?

2. Agar dapat memahami apa saja yang menjadi landasan dalam perspektif global?

3. Agar dapat mengetahui bagaimana kesadaran dalam perspektif global?

BAB II

PEMBAHASAN

PENTINGNYA KESADARAN DALAM PERSPEKTIF GLOBAL

Menurut Kamus Filsafat yang ditulis oleh Loren Bagus (1996) bahwa yang dimaksud dengan kesadaran adalah mengandung arti keinsyafan terhadap ego, diri, atau benda. Kesadaran adalah kemampuan untuk melihat dirinya sendiri sebagaimana orang lain dapat melihatnya. Dengan kata lain kesadaran adalah “pengakuan diri”. Kesadaran muncul dari dalam diri kita sebagai cetusan nurani. Kalau hal ini dikaitkan dengan perspektif global maka kesadaran di sini adalah pengakuan bahwa kita adalah bukan semata-mata sebagai warga suatu Negara tetapi juga warga dunia, yang mempunyai ketergantungan terhadap orang lain dan bangsa lain, serta terhadap alam sekitar baik secara lokal, nasional, maupun global. Dengan kesadaran itu muncul suatu pengakuan bahwa masalah global perlu dipelajari, dipahami dan dimanfaatkan untuk kepentingan bersama, sehingga dalam berpikir, berucap, dan bertindak menunjukkan dan mencerminkan adanya kepedulian, kepentingan, dan kemanfaatan.

Dalam kehidupan global yang pertama kali harus disadari adalah bahwa manusia adalah merupakan warga Negara global, sebagai penduduk dunia yang memiliki hak dan kewajiban tertentu. Hak merupakan cornerstone of citizenship (Stainer, 1996:20), merupakan inti dari kehidupan warga dunia. Sedangkan kewajiban merupakan panggilan atau tanggung jawab atau tugas kita sebagai warga dunia. Selain itu, perlu kita sadari bahwa di dunia ini tidak hanya ada kita, akan tetapi pada orang lain yang bermukin di seluruh belahan dunia. Oleh karena itu, kita harus banyak mempelajari tentang dunia dan seisinya.

Oleh karena siswa kita merupakan bagian dari dunia maka dia harus diberikan pengetahuan tentang keberadaan dia sebagai penduduk dunia. Tugas guru adalah mengglobalkan pengetahuan dan sikap serta kesadaran siswa terhadap dunia. Guru seperti ini adalah guru global atau Global Teacher (Steiner, 1996).

Kesadaran tentang terjadinya globalisasi adalah sikap menerima suatu kenyataan bahwa planet tempat kita berada ini semakin menyempit dengan adanya terobosan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Sikap dalam menghadapi globalisasi ini adalah bukan melawan arus globalisasi akan tetapi kita harus dapat “menjinakkan” globalisasi itu sendiri. Globalisasi adalah suatu proses yang berlanjut, bila kita lambat mengikutinya maka kita akan semakin ketertinggalan. Tetapi juga akan berakibat fatal apabila kita salah dalam memperlakukannya.

Kita menyadari betul bahwa perkembangan dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) begitu pesat menurut Makagiansar (Mimbar, 1989).

Kemajuan IPTEK ini ditandai dengan berbagai temuan yang mengagumkan. Kita ketahui berbagai temuan dalam ilmu pengetahuan yang berdampak dunia, misalnya tentang pengembangbiakkan makhluk hidup melalui sel yaitu “cloning”, dan ditemukannya hijau daun (klorofil) sebagai obat pembasmi kanker (Republika, 10 Februari 1998). Selain itu, kemajuan dalam bidang teknologi informasi terutama penggunaan computer dan satelit juga merupakan faktor yang mempercepat arus globalisasi ini. Masih banyak contoh lainnya yang membuktikan bahwa kemajuan dalam IPTEK mempunyai dampak secara global.

Perkembangan teknologi komunikasi dimulai dengan diciptakannya pesawat telepon oleh Alexander Grahan Bell (Yaya, 1998) pada tahun 1976). Hal ini membawa perubahan besar terhadap teknologi komunikasi. Teknologi komunikasi ini lebih diperkuat lagi dengan berkembangnya teknologi computer yang diciptakan oleh Atansoff dan Clifford Berry tahun 1939. Kedua teknologi tersebut secara bersinergi memberikan landasan yang kuat bagi perkembangan teknologi komunikasi modern.

Dengan adanya teknologi telepon ini tidak lagi mengenal batas administrasi Negara. Telepon mempunyai jangkauan yang sangat jauh dan luas, namun demikian manusia tidak puas, selalu merasakan adanya kekurangan, bagaimana kalau orang yang ditelepon tidak ada di tempat? Bukankah komunikasi tersebut akan terhenti sampai di situ? Oleh karena itu, para ilmuwan terus berpikir, maka munculah teknologi untuk mensinergikan sehingga bersinerginya telepon dan computer sehingga muncul surat elektronik, pager, telepon genggam, dan internet yang dapat mengatasi kekurangan teknologi telepon seperti disebutkan di atas.

Teknologi merupakan alat dan jalan untuk menggunakannya sangat tergantung pada orangnya. Apabila digunakan untuk hal yang negatif maka teknologi menjadi sesuatu yang jelek dan menakutkan, sebaliknya apabila digunakan untuk kepentingan yang positif maka teknologi menjadi sesuatu yang baik dan sangat mengasyikkan. Di sinilah pentingnya kesadaran dan wawasan agar teknologi lingkungan untuk kepentingan yang positif.

Saat ini, kita memasuki abad “duni tanpa tapal batas” administrasi Negara. Kita merasakan bahwa dunia menjadi semakin sempit, dan transparan. Suatu peristiwa yang terjadi di satu belahan dunia akan dengan cepat diketahui di belahan dunia lainnya. Pengaruhnya dapat menembus langsung ke pelosok-pelosok dunia. Untuk ini kita daoat mengetahui dari Koran, televisi, radio, telepon, internet, e-mail, dan sebagainya. Inilah teknologi komunikasi yang merupakan media informasi bagi manusia.

Sadarkah kita, bahwa di rumah saat ini sudah dipenuhi dengan alat dan media sebagai hasil kemajuan teknologi, misalnya TV, radio, telepon, parabola dan sebagainya. Alat dan media tersebut mempersempit dunia. Kita dapat mengetahui apa yang terjadi di Timur Tengah, Eropa, dan Amerikan secara sekejap.

Di sinilah kita memerlukan kesadaran yang tinggi serta wawasan yang luas. Dengan kesadaran bahwa kita merasakan adanya kebutuhan memahami masalah global, serta dengan wawasan yang luas kita dapat memilih dan memilah informasi atau nilai mana yang diperlukan dan mana yang tidak, mana yang sesuai dengan nilai budaya kita dan mana yang tidak.

Untuk mendukung kesadaran dan wawasan kita diperlukan adanya landasan, seperti berikut ini;

  1. NASIONALISME (KESADARAN NASIONAL)

Imawan mengutip pendapat Haas (Yaya, 1998) bahwa nasionalisme yang kuat dapat menjadi pilar terhadap pengaruh buruk dari perkembangan teknologi yang pesat ini. Nasionalisme menunjuk pada totalitas kultur, sejarah, bahasa, psikologi serta sentiment social lainnya yang menarik orang pada satu perasaan saling memiliki cita-cita maupun nilai kemasyarakatan.

Nasionalisme adalah cinta tanah air dengan prinsip baik buruk adalah negeriku. Namun dalam melaksanakannya nasionalisme itu tidak disikapi secara kaku, atau merupakan kesetiaan yang buta. Nasionalisme tetap perlu dilandasi oleh logika dan rasional.

Nasionalisme harus mampu menangkal perbedaan suku, adat-istiadat, ras dan agama. Namun juga tidak lagi baik buruk adalah negaraku dan bangsaku. Yang baik harus kita ambil dan yang buruk kita tinggalkan. Kita memiliki kesadaran nasionalisme yang cukup kuat, misalnya kesetiakawanan social, ketahanan nasional, dan musyawarah nasional.

  1. NORMA DAN AGAMA

Bangsa kita terkenal sebagai bangsa yang agamis, patuh terhadap aturan dan norma yang ada, baik itu norma adat, social, susila dan norma lainnya. Semua agama dan norma ini memberikan landasan kepada bangsa kita untuk dapat memilih dan memilah informasi yang dapat kita gunakan. Norma dan agama adalah pilar utama untuk menangkal pengaruh negative seriring dan gelombang globalisasi.

  1. NILAI BUDAYA BANGSA

Bangsa kita memiliki nilai budaya yang luhur, yang dapat dijadikan pilar dan filter terhadap berbagai pengaruh yang negatif, serta sebagai pendukung bagi nilai dan pengaruh, yang membawa dampak positif bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagai contoh adalah “Pela Gandong” di Ambon untuk landasan kerukunan, pepatah “guru kencing berdiri, murid kencing berlari” untuk keteladanan, “rawe-rawe rantas malang-malang putung” sebagai symbol kebersamaan, dan “silih-asah silih-asih dan silih-asuh untuk acuan pendidikan masyarakat. Bukankah nilai budaya ini juga akan menjadi faktor pendukung sekaligus pilar terhadap globalisasi.

Tiga hal tersebut merupakan faktor pendukung dan sekaligus menjadi pilar terhadap pengaruh negative yang perlu diperkokoh dalam rangka memasuki era globalisasi.

Marilah kita melihat kembali globalisasi. Menurut Emil Salim (Mimbar Pendidikan, 1989), terdapat 4 bidang kekuatan gelombang globalisasi yang paling menonjol, yaitu;

1. Kekuatan pertama yang membuat dunia menjadi transparan dan sempit adalah gelombang perkembangan IPTEK yang amat tinggi. Kekuatan ini Nampak antara lain penggunaan computer dan satelit. Dengan teknologi ini sekaran orang dapat dengan cepat dapat menghimpun informasi dunia dengan rinci tentang segala hal, misalnya kekayaan laut, hutan, dan lain-lain. Dengan kemajuan IPTEK yang begitu kuat pengaruhnya sehingga dapat mengubah perspektif atau sikap, pandangan dan perilaku orang. Dengan kemajuan ini pula bahwa sekarang orang dapat berkomunikasi dengan cepat dimanapun mereka berada melalui handphone, internet, dan lain-lain.

2. Kekuatan kedua adalah kekuatan ekonomi. Ekonomi global yang terjadi saat ini demikian kuat, sehingga peristiwa ekonomi yang terjadi di suatu Negara akan dapat dengan mudah diikuti dan memperngaruhi Negara lain. Globalisasi dalam ekonomi Nampak sebagai suatu keterkaitan mata rantai yang sulit dilepaskan. Krisis moneter yang melanda Indonesia saat ini, tidak terlepas dari kegiatan ekonomi di Negara-negara ASEAN dan bahkan dunia.

3. Hal ketiga yang paling banyak disoroti saat ini adalah masalah lingkungan hidup, kita masih ingat tentang peristiwa kebakaran hutan di Indonesia yang berdampak dunia. Pengaruh asap kebakaran hutan di Kalimantan dan Sumatera dapat dirasakan di Negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Thailand, bahkan Filiphina. Dampaknya sangat terasa di seluruh dunia, dimana semua penerbangan ke Indonesua tertunda karena adanya gangguan asap.

4. Politik merupakan kekuatan keempat yang dirasakan sebagai kekuatan global. Misalnya krisi Teluk dampaknya sangat dirasakan secara global di Negara-negara lain, baik dalam segi politik maupun ekonomi. Adanya kekisruhan politik dalam negeri juga berdampak besar terhadap perkembangan pariwisata, perdagangan dan sebagainya.

Kalau kita cermati hal tersebut, dampak yang dirasakan oleh dunia terhadap sesuatu gejala itu diakibatkan oleh pesatnya kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemajuan IPTEK menyebabkan cepatnya komunikasi antara orang yang satu dengan lainnya, antara Negara satu dengan yang lainnya. Dengan demikian maka arus informasi akan semakin cepat pula mengalirnya. Oleh karena itu diyakini bahwa orang yang menguasai informasi itu yang akan menguasai dunia.

Masalah lingkungan hidup saat ini sudah merupakan masalah dunia dan bukan hanya masalah Negara yang bersangkutan. Kita masih ingat bahwa Singapura, Jepang, Australia, dan Amerika mengirimkan bantuan ke Indonesia untuk memadamkan api tersebut. Bukankah itu menjadi bukti bahwa masalah lingkungan hidup merupakan masalah global.

Benar apa yang dikatakan Adikusumo (Mimbar Pendidikan, 1989) bahwa globalisasi adalah spectrum perubahan social yang sulit diantisipasi. Perubahan berskala global berlangsung dengan dimensi aspirasi manusia pada akhir abad 20, yang ditandai dengan cirri khas berupa kekentalan informasi.

Globalisasi ditandai dengan abad serba berubah, era kompetitif, dan era informasi. Oleh karena globalisasi merupakan dampak dari kemajuan IPTEK maka untuk menguasainya juga kita harus menguasai IPTEK. Salah satu cara untuk menguasai IPTEK ini adalah meningkatkan pendidikan bangsa Indonesia.

Saat ini sering kita dengar istilah alih teknologi. Inipun tidak akan menolong banyak tanpa kita menguasai IPTEK-nya itu sendiri. Dengan menguasai IPTEK kita dapat menjinakkan globalisasi. Dengan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi kita tidak hanya pintar mengekor, mengikuti arahnya globalisasi tanpa kendali, akan tetapi kita harus dapat mengendalikan globalisasi sesuai dengan akar budaya bangsa kita sendiri.

Kalau kita melihat kembali gelombang dasyhat dari globalisasi ini, yaitu dalam bidang IPTEK, ekonomi, lingkungan dan politik, maka faktor nasionalisme, norma dan agama, serta nilai budaya, secara bersinergi dapat menjinakkan globalisasi. Globalisasi bukan lagi hal yang menakutkan tetapi sesuatu yang didambakan. Perluanya sikap terbuka dan tanggap terhadap persoalan global.

Sebagai seorang guru tidak perlu kaget dan merasa asing terhadap globalisasi, akan tetapi diperlukan kesiapan dengan menambah pengetahuan, meningkatkan kesadran dan mempeluas wawasan. Selain itu juga diperlukan sikap terbuka untuk setian pembaruan.

Perlu kita sadari bahwa globalisasi mempunya dampak positif dan negatif. Positif karena kita dapat mengambil keuntungan dengan perkembangan ilmu dan kemajuan dari Negara lain, akan tetapi akan berubah menjadi dampak negative apabila kita tidak mempersiapkan diri dengan berbagai bekal pengetahuan, norma dan ideology yang kuat. Apabila kita tidak siap kita akan tergilas, dan jauh ketinggalan bangsa lain.

Dalam kaitannya dengan globalisasi ini ada suatu mitos yaitu “think globally and act”. Orang harus berfikir dan berwawasan secara global, akan tetapi tidak melupakan landasan kita yaitu nasionalisme, agama dan norma serta nilai budaya yang ada, karena itu sebagai identitas bangsa kita. Namun kita juga tidak perlu meninggalkan masalah lokal karena kita hadapi dan kita rasakan secara langsung sehari-hari. Untuk kepentingan global kita harus mulai dari masalah lokal. Inilah yang menurut Steiner (1996) sebagai peran “global teacher” atau guru global, yaitu kita yang berwawasan global namun bertindak dari lokal sehingga mencapai yang lebih lokal. Sebagai contoh adalah peristiwa kebakaran hutan, walaupun dampaknya mendunia dan mengglobal, namun kita tidak perlu menunggu bantuan dari PBB untuk memadamkannya. Kita sendiri berusaha untuk memadamkannya, karena itu terjadi di daerah kita.

Sebaliknya ada masalah-masalah global yang berdampak lokal atau nasional. Sebagai contoh adalah pengaruh La Nina yang menyebarkan perubahan musim yang tidak teratur, ini disebabkan oleh adanya penurunan suhu udara di sekitar daerah ekuator. Akibatnya memperngaruhi system pertanian di daerah kita. Untuk ini kita harus menyesuaikan dengan perubahan system tersebut, misalnya jenis tanaman, serta penyesuaian musim tanam.

Cirri-ciri globalisasi yaitu,

a. Padat informasi

b. Kompetisi yang sehat

c. Komunikasi yang lancar

d. Keterbukaan

Dengan demikian dalam era globalisasi ini informasi menjadi sangat penting, maka kuasailah informasi. Informasi ibarat darah dalam tubuh apabila kita ingin bertahan hidup maka kita harus menguasai informasi.

Dalam globalisasi kita menyadari bahwa setiap bangsa adalah saling bersaing dan berpacu dengan segala perubahan dan kemajuan. Kita akan kalah dalam persaingan kalau kita tidak siap dan tidak mengantisipasinya. Kesiapan kita dalam bersaing adalah penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Menurut Mochtar Buchari (Mimbar Pendidikan, 1989), peningkatan daya saing itu adalah dalam hal berikut ini;

1. Peningkatan produksi dan mutu produk.

2. Penguasaan bahasa Inggris sebagai bahasa yang digunakan secara internasional.

3. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

4. Penguasaan IPTEK.

BAB III

PENUTUP

  1. KESIMPULAN

Menurut Kamus Filsafat yang ditulis oleh Loren Bagus (1996) bahwa yang dimaksud dengan kesadaran adalah mengandung arti keinsyafan terhadap ego, diri, atau benda. Kesadaran adalah kemampuan untuk melihat dirinya sendiri sebagaimana orang lain dapat melihatnya. Dengan kata lain kesadaran adalah “pengakuan diri”. Kesadaran muncul dari dalam diri kita sebagai cetusan nurani. Kalau hal ini dikaitkan dengan perspektif global maka kesadaran di sini adalah pengakuan bahwa kita adalah bukan semata-mata sebagai warga suatu Negara tetapi juga warga dunia, yang mempunyai ketergantungan terhadap orang lain dan bangsa lain, serta terhadap alam sekitar baik secara lokal, nasional, maupun global. Dengan kesadaran itu muncul suatu pengakuan bahwa masalah global perlu dipelajari, dipahami dan dimanfaatkan untuk kepentingan bersama, sehingga dalam berpikir, berucap, dan bertindak menunjukkan dan mencerminkan adanya kepedulian, kepentingan, dan kemanfaatan.

Landasan kesadaran dalam perspektif global dibagi menjadi tiga yaitu nasionalisme, norma dan agama, nilai budaya dan bangsa. Seorang yang dikatakan sadar terhadap perspektif global adalah yang berpikiran global namun bertindak lokal.

  1. SARAN

Adapun saran bagi calon pendidik adalah hubungkan pelajaran yang akan diajari oleh siswa dengan perkembangan IPTEK dan perkembangan global lainnya sehingga wawasan menjadi luas. Namun bukan berarti bahwa meninggalkan hal yang di sekililing kita. Tetap pada koridor yang jelas. Seorang guru harus memiliki pemikiran yang mengglobal namun bertindak lokal.

DAFTAR PUSTAKA

Sumaatmadja, Nursid. 2007. Perspektif Global. Jakarta: Universitas Terbuka

Daftar Situs

http://bayutarawijaya.blogspot.com/2008/10/transformasi-pendidikan-dalam.html

http://zizer.wordpress.com/category/perspektif-global/

http://blog.unila.ac.id/pargito/2010/05/27/perspektif-global/

LAMPIRAN

Transformation of Education in Global Perspective

Problematika pendidikan Indonesia dewasa ini saling timpang tindih. Hal ini seiring dengan konteks zamannya dan hingga sekarang masih diyakini sebagai aspek penting kehidupan bangsa untuk dijadikan strategi dalam mengangkat derajat manusia Indonesia melalui pemberdayaan Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada. Meskipun hingga kini dunia pendidikan kita dililiti persoalan-persoalan yang dilematis dan belum terselesaikan secara menyeluruh.
Mengingat fenomena masyarakat dewasa ini yang tidak terlepas dari kehidupan masyarakat global dengan segala tantangan perkembangan zaman. Oleh karena itu, penting kiranya dunia pendidikan perlu melaksanakan kontekstualisasi dalam upaya transformasi untuk merevitalisasikan Sumber Daya Manusia (SDM) yang terkover dalam dunia pendidikan kita.
Kedatangannya, arus global menjadi pergulatan sengit pendidikan kita yang menjadi genting untuk terbawa arus tersebut. Realitannya, globalisasi bisa menjadikan Sumber Daya Manusia (SDM) tinggi dan juga bisa menjadikan Sumber Daya Manusia (SDM) rendah. Semakin seorang kuat keinginannya, semakin mudah jalannya karena globalisasi. Sebagaimana bangsa Indonesia tentu sudah sepantasnya memiliki rasa tanggung jawab terhadap masa depan generasi (anak bangsa) sehingga mereka mampu membentengi diri dalam menghadapi globalisasi dan membawanya kepeningkatan Sumber Daya Manusia (SDM).
Tidak luput, dalam konteks masa depan yang pastinya akan didominasi oleh arus kehidupan global. Menurut Mochtar bahwa dunia pendidikan membutuhkan proses transformasi supaya pendidikan mampu memberikan bekal pada generasi mendatang. Pendidikan Transformatif adalah perubahan wajah dan watak yang terjadi pada sistem pendidikan. Kalau pendidikan masih mengandalkan aspek kongnitif semata maka dunia pendidikan kita tentu akan ketinggalan jauh dengan bangsa-bangsa lain.

Saat ini, coba kita ingat kembali bahwa transformasi kurikulum kita dari CBSA hingga KTSP merupakan perwujudan dari transformasi. Hal ini untuk menciptakan peserta didik agar memiliki kesadaran kritis dalam melihat kenyataan-kenyataan dalam kehidupan global dengan memperhatikan nilai-nilai humanis yang ada. Orientasinya, bukan kecerdasan semata, atau keterampilan saja namun diarahkan siap menghadapi persoalan-persolan global yang menjadi persoalan umat manusia.

Secara signifikan, posisi pendidikan menempati model pendidikan yang dilakukan secara sadar dan terencana dengan baik dalam mewujudkan suasana belajar dalam proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya sesuai dengan konteks zaman yang dihadapinya. Katakan saja, Pendidikan Transformatif mengajarkan pendidikan yang tidak bersifat stagnasi (kemandekan).

Sebagai langkah strategis, dunia pendidikan harus melakukan rekonstruksi pemikiran menuju pemikiran yang lebih transformatif dan berwawasan global, yakni sebuah pemikiran yang mampu membaca kondisi riil masyarakat di dunia global saat ini yang di antaranya peluang dan tantangannya dalam keberlangsungan hidup manusia serta mampu mengambil sikap yang berwawasan masa depan dengan tetap mengawali nilai-nilai humanis dalam pendidikan.
Cita-cita pendidikan kita sekarang dapat menghasilkan manusia yang memiliki kesadaran kritis dengan membawa perubahan sosial di masyarakat begitu cepat. Tentunya pemikiran pendidikan kita bisa mengarah pada pendidikan yang bertranformatif dan berwawasan global. Realitanya, ternyata dunia pendidikan kita masih didominasi oleh proses penggalihan ilmu pengetahuan semata dengan menghasilkan produk manusia mekanik yang tidak memiliki kesadaran kritis terhadap kondisi riil yang terjadi di masyarakat, dan terkait dengan fitrah manusia sebagai sumber masalah.

Selanjutnya, dalam konteks pendidikan kritis peserta didik dibimbing supaya struktur sosial, ekonomi, budaya, agama dan politik tidak diterima begitu saja, tetapi justru dipersoalkan, pendidikan menolong peserta didik mengkritik kenyataan struktural yang tidak adil. Perlu dipahami bahwa pendidikan kritis itu merupakan revolusi teori dan praktik dalam pendidikan. Sedangkan pendidikan kritis memiliki ciri umum yakni, adanya dialog antara pendidik dan peserta didik, kontruksi sosial sebagai sumber ilmu pengetahuan, pendidikan sebagai pembebasan dari sebuah sistem, dan pendidikan sebagai wujub perjuangan.
Kita baca ulang sistem pendidikan nasional kita yang berorientasi pada kepentingan pemerintah dan bukan untuk kepentingan anak didik, pasar, dan pengguna jasa pendidikan atau masyarakat. Alasannya, strategi pendidikan nasional adalah untuk membekali generasi muda agar mampu membawa bangsa dan negara ini cepat sejajar dengan bangsa dan negara yang lain lebih maju. Namun, dalam implikasi perkembangannya tidak sesuai dengan apa yang dicita-citakan. Keahlian dan penguasaan IPTEK yang diperoleh seusai menamatkan studinya berada dalam posisi “dimiliki” secara individual dan “siap dijual” melalui kontrak kerja demi uang, bukan dalam posisi “menjadikan diri” sebagai ilmuan yang peduli dengan nilai-nilai kemanusiaan, bangsa, dan negara.

Seperti itulah gejolak pendidikan yang sering kita jumpai saat ini. Uang dan kekayaan materi benar-benar telah menjadi kekuatan, kekuasaan, dan alat kontrol kehidupan yang mengantarkan individu yang bersangkutan ke tempat lebih tinggi, menyenangkan, aman, dan terhormat. Tetapi, semua itu hanya kembali pada individual tidak kepada abdian pada bangsa dan negara.

Akhirnya, Musthofa Rembangy sebagai pemberi gagasan visoner yang mengulas secara konprehensif problematika pendidikan dalam abad ini dengan konteks kebijakan kritis. Setidaknya, Pendidikan Transformatif bisa memberikan gagasan yang lebih sinergik dalam era globalisasi. Sebab, dunia semakin hari bukan semakin lambat dalam berkembang. Untuk itulah mempersiapkan generasi yang lebih kritis di tengah pusaran arus globalisasi perlu ditanamkan sejak dini.

(http://bayutarawijaya.blogspot.com/2008/10/transformasi-pendidikan-dalam.html)

Arti Penting Wawasan Ber-Perspektif Global dalam Pengelolaan Pendidikan di Indonesia

PENDAHULUAN

Pendidikan memiliki keterkaitan erat dengan globalisasi. Dalam menuju era globalisasi, Indonesia harus melakukan reformasi dalam proses pendidikan, yaitu dengan tekanan menciptakan sistem pendidikan yang lebih komprehensif dan fleksibel, sehingga para lulusan dapat berfungsi secara efektif dalam kehidupan masyarakat global demokratis. Oleh karena itu, pendidikan harus dirancang sedemikian rupa agar memungkinkan para anak didik dapat mengembangkan potensi yang dimiliki secara alami dan kreatif dalam suasana penuh kebebasasn, kebersamaan dan tanggung jawab. Selain itu, pendidikan harus dapat menghasilkan lulusan yang bisa memahami masyarakatnya dengan segala faktor yang dapat mendukung mencapai sukses ataupun penghalang yang menyebabkan kegagalan di dalam kehidupan bermasyarakat. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan yaitu dengan pengelolaan pendidikan Indonesia yang berwawasan global.

Untuk memulai pengelolaan pendidikan berwawasan global diperlukan informasi dan pengetahuan tentang bagian dunia yang lain. Dengan demikian dapat mengembangkan kesadaran kita bahwa kita akan dapat memahami lebih baik keadaan diri kita sendiri apabila kita dapat memahami hubungan terhadap masyarakat lain. Serta perlu pemahaman isu-isu global lainnya.

Berdasarkan uraian di atas, permasalahan yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah:

1. Apa urgensi wawasan perspektif global dalam pengelolaan pendidikan?

2. Bagaimana penerapan pengelolaan pendidikan dengan wawasan ber-perspektif global di Indonesia?

KERANGKA BERFIKIR

Urgensi Wawasan Persepektif Global dalam Pengelolaan Pendidikan

Peningkatan kualitas pendidikan bagi suatu bangsa, bagaimanapun mesti diprioritaskan. Sebab kualitas pendidikan sangat penting artinya, karena hanya manusia yang berkualitas saja yang bisa bertahan hidup di masa depan. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk peningkatan kualitas pendidikan tersebut adalah dengan pengelolaan pendidikan dengan wawasan global. Apa pentingnya wawasan ber-perspektif global dalam pengelolaan pendidikan?

Perspektif global merupakan pandangan yang timbul dari kesadaran bahwa dalam kehidupan ini segala sesuatu selalu berkaitan dengan isu global. Orang sudah tidak memungkinkan lagi bisa mengisolasi diri dari pengaruh global. Manusia merupakan bagian dari pergerakan dunia, oleh karena itu harus memperhatikan kepentingan sesama warga dunia.

Tujuan umum pengetahuan tentang perspektif global adalah selain untuk menambah wawasan juga untuk menghindarkan diri dari cara berpikir sempit, terkotak oleh batas-batas subyektif, primordial (lokalitas) seperti perbedaan warna kulit, ras, nasionalisme yang sempit, dsb.

Dengan demikian pentingnya (urgensi) wawasan perspektif global dalam pengelolaan pendidikan ialah sebagai langkah upaya dalam peningkatan mutu pendidikan nasional. Hal ini dikarenakan seperti yang telah dituliskan sebelumnya, dengan wawasan perspektif global kita dapat menghindarkan diri dari cara berpikir sempit dan terkotak-kotak oleh batas subyektif sehingga pemikiran kita lebih berkembang. Kita dapat melihat sistem pendidikan di negara lain yang telah maju dan berkembang. Dapat membandingkannya dengan pendidikan di negara kita, mana yang dapat diterapkan dan mana yang sekerdar untuk diketahui saja. Kita bisa mencontoh sistem pendidikan yang baik di negara lain selama hal itu tidak bertentangan dengan jati diri bangsa Indonesia.

Tentu kita masih ingat dulu ketika Malaysia mengimpor guru-guru dari Indonesia untuk mendidik anak-anak mereka. Namun kini justru Malaysia-lah yang lebih maju pendidikannya dari negara kita. Apa yang salah?

Kalau boleh dikatakan, bahwa mereka mau belajar dan mempelajari serta terus meningkatkan kualitas pendidikan mereka. Salah satunya yaitu dengan melihat kondisi di sekitarnya (negara lain, Indonesia). Dengan demikian wawasan ber-perspektif global sangatlah penting dalam pengelolaan pendidikan.

APLIKASI DI INDONESIA

Penerapan Pengelolaan Pendidikan dengan Wawasan Ber-Perspektif Global di Indonesia

Dalam penerapan pengelolaan pendidikan dengan wawasan ber-prespektif global, akan saya bahas lebih ke pendidikan yang berwawasan global. Pendidikan yang berwawasan global ini dapat dibedakan menjadi 2, yaitu dalam perspektif reformasi dan perspektif kuliner.

Perfektif Reformasi

Pendidikan berwawasan global merupakan suatu proses pendidikan yang dirancang untuk mempersediakan anak didik dengan kemampuan dasar intelektual dan tanggung jawab guna memasuki kehidupan yang bersifat kompetitif dan dengan derajat saling menggantungkan antar bangsa yang sangat tinggi. Pendidikan harus mengkhaitkan proses pendidikan yang berlangsung di sekolah dengan nilai-nilai yang selalu berubah di masyarakat global. Dengan demikian, sekolah harus memiliki orientasi nilai, di mana masyarakat tersebut harus selalu dikaji dalam kaitannya dengan masyarakat dunia.

Implikasi dari pendidikan berwawasan global menurut perfektif reformasi tidak hanya bersifat perombakan kurikulum, tetapi juga merombak sistem, struktur dan proses pendidikan. Pendidikan dengan kebijakan dasar sebagai kebijakan sosial tidak lagi cocok bagi pendidikan berwawasan global. Pendidikan berwawasan global harus merupakan kombinasi antara kebijakan yang mendasarkan pada mekanisme pasar. Maka dari itu, sistem dan struktur pendidikan harus bersifat terbuka, sebagaimana layaknya kegiatan yang memiliki fungsi ekonomis.

Kebijakan pendidikan yang berada di antara kebijakan sosial dan mekanisme pasar, memiliki arti bahwa pendidikan tidak semata-mata di tata dan diatur dengan menggunakan perangkat aturan sebagaimana yang berlaku sekarang ini, serba seragam, rinci dan instruktif. Tetapi pendidikan juga di atur layaknya suatu Mall, adanya kebebasan pemilik toko untuk menentukan barang apa yang akan dijual, bagaimana akan dijual dan dengan harga berapa barang akan dijual. Pemerintah tidak perlu mengatur segala sesuatu dengan rinci.

Selain itu, pendidikan berwawasan global bersifat sistematik organik, dengan ciri-ciri fleksibel-adaptif dan kreatif demokratis. Bersifat sistemik-organik artinya bahwa sekolah merupakan sekumpulan proses yang bersifat interaktif yang tidak bisa dilihat sebagai-hitam putih, tetapi setiap interaksi harus dilihat sebagai satu bagian dari keseluruhan interaksi yang ada.

Fleksibel-adaptif, artinya bahwa pendidikan lebih ditekankan sebagai suatu proses learning daripada teaching. Anak didik dirangsang untuk memiliki motivasi untuk mempelajari sesuatu yang harus dipelajari dan continues learning. Tetapi, anak didik tidak akan dipaksa untuk dipelajari. Sedangkan materi yang dipelajari bersifat integrated, materi satu dengan yang lain dikaitkan secara padu dan dalam open-sistem environment. Pada pendidikan tersebut karakteristik individu mendapat tempat yang layak.

Kreatif demokratis, berarti pendidikan senantiasa menekankan pada suatu sikap mental untuk senantiasa menghadirkan suatu yang baru dan orisinil. Secara paedagogis, kreativitas dan demokrasi merupakan dua sisi dari mata uang. Tanpa demokrasi tidak akan ada proses kreatif, sebaliknya tanpa proses kreatif demokrasi tidak akan memiliki makna.

Untuk memasuki era globalisasi pendidikan harus bergeser ke arah pendidikan yang berwawasan global. Dari perspektif kurikuler pendidikan berwawasan global berarti menyajikan kurikulum yang bersifat interdisipliner, multidisipliner, dan transdisipliner. Berdasarkan perspektif reformasi, pendidikan berwawasan global berarti menuntut kebijakan pendidikan tidak semata-mata sebagai kebijakan sosial, melainkan suatu kebijakan yang berada di antara kebijakan sosial dan kebijakan yang mendasarkan pada mekanisme pasar. Maka dari itu, pendidikan harus memiliki kebebasan dan bersifat demokratis, fleksibel dan adaptif.

Perspektif Kurikuler

Pendidikan berwawasan global dapat dikaji berdasarkan pada dua perspektif yaitu perspektif reformasi dan perspektif kurikuler. Berdasarkan persperktif kurikuler, pendidikan berwawasan global merupakan suatu proses pendidikan yang bertujuan untuk mempersiapkan tenaga terdidik kelas menengah dan professional dengan meningkatkan kemampuan individu dalam memahami masyarakatnya dalam kaitannya dengan kehidupan masyarakat dunia, dengan ciri-ciri sebagai berikut:

1. Mempelajari budaya, sosial, politik dan ekonomi bangsa lain dengan titik berat memahami adanya saling ketergantungan

2. Mempelajari barbagai cabang ilmu pengetahuan untuk dipergunakan sesuai dengan kebutuhan lingkungan setempat, dan

3. Mengembangkan berbagai kemungkinan berbagai kemampuan dan keterampilan untuk bekerjasama guna mewujudkan kehidupan masyarakat dunia yang lebih baik.

KESIMPULAN

Pentingnya (urgensi) wawasan perspektif global dalam pengelolaan pendidikan ialah sebagai langkah upaya dalam peningkatan mutu pendidikan nasional. Hal ini dikarenakan dengan wawasan perspektif global kita dapat menghindarkan diri dari cara berpikir sempit dan terkotak-kotak oleh batas subyektif sehingga pemikiran kita lebih berkembang. Kita dapat melihat sistem pendidikan di negara lain yang telah maju dan berkembang. Dapat membandingkannya dengan pendidikan di negara kita, mana yang dapat diterapkan dan mana yang sekerdar untuk diketahui saja. Kita bisa mencontoh sistem pendidikan yang baik di negara lain selama hal itu tidak bertentangan dengan jati diri bangsa Indonesia.

Selanjutnya dalam penerapan pengelolaan pendidikan dengan wawasan ber-prespektif global, lebih ditekankan pada pendidikan yang berwawasan global. Pendidikan yang berwawasan global ini dapat dibedakan menjadi 2, yaitu dalam perspektif reformasi dan perspektif kuliner.

Referensi:

Isjoni. 2008. Memajukan Bangsa dengan Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Tilaar, HAR. 1992. Manajemen Pendidikan Nasional; Kajian Pendidikan Masa Depan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

(http://zizer.wordpress.com/category/perspektif-global/)

0 komentar: