BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Peserta didik adalah manusia yang identitas insaninya sebagai subjek berkesadaran perlu dibela dan ditegakkan lewat system dan model pendidikan yang bersifat “bebas dan egaliter”. Hal itu hanya dapat dicapai lewat proses pendidikan bebas dan metode pembelajaran aksi diagonal. Karena itu, peserta didik harus diberlakukan dengan amat hati-hati. Teori kognitif/konstruktif menekankan bahwa nelajar lebih banyak ditentukan karena adanya karsa individu. Penataan kondisi bukan sebagai penyebab terjadinya belajar, tetapi sekadar memudahkan belajar, keaktifan siswa menjadi unsur-unsur yang amat penting dalam menentukan kesuksesan belajar. Aktifitas mandiri adalah jaminan untuk mencapai hasil yang sejati.
Pada makalah ini dikaji tentang pembahasan pandangan kognitif terhadap proses belajar dan aplikasi teori kognitif dalam kegiatan pembelajaran. Pembahasan diarahkan pada pengertian belajar menurut teori kognitif, teori perkembangan Piaget, teori belajar menurut Bruner, dan teori belajar bermakna Ausubel. Makalah ini diakhiri dengan penerapan teori belajar kognitif pembelajaran.


1.2. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah pada makalah ini adalah:
1) Bagaimana pengertian belajar menurut teori kognitif?
2) Bagaimana teori perkembangan menurut Piaget?
3) Bagaimana teori perkembangan menurut Bruner?
4) Apa yang dimaksud dengan teori belajar bermakna Ausubel?
5) Bagaimana aplikasi dari teori kognitif dalam kegiatan pembelajaran?




1.3. Tujuan
Tujuan penerapan teori belajar ini adalah untuk menjelaskan:
1) Pengertian belajar menurut pandangan teori kognitif
2) Teori perkembangan Piaget.
3) Teori belajar menurut Bruner.
4) Teori belajar bermakna Ausubel
5) Aplikasi teori kognitf dalam kegiatan pembelajaran.
























BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN BELAJAR MENURUT TEORI KOGNITIF
Teori belajar kognitif berbeda dengan teori belajar behavioristik. Teori belajar kognitif lebih mementingkan proses belajar daripada hasil belajarnya. Para penganut aliran kognitif mengatakan bahwa belajar tidak hanya sekadar melibatkan hubungan antara stimulus dan respon. Tidak seperti model belajar behaviouristik yang mempelajari proses belajar hanya sebagai hubungan stimulus-respon, model belajar kognitif merupakan suatu bentuk teori belajar yang sering disebut sebagai model perceptual. Model belajar kognitif mengatakan bahwa tingkah laku seseorang ditentukan oleh persepsi serta pemahamannya tentang situasi yang berhubungan dengan tujuan belajarnya. Belajar merupakan perubahan persepsi dan pemahaman yang tidak selalu dapat terlihat sebagai tingkah laku yang nampak.
Teori kognitif juga menekankan bahwa bagian-bagian dari suatu situasi saling berhubungan dengan suatu situasi saling berhubungan dengan seluruh konteks situasi tersebut. Memisah-misahkan atau membagi-bagi situasi/materi pelajaran menjadi komponen-komponen yang kecil-kecil dan mempelajarinya secara terpisah-pisah, akan kehilangan makna. Teori ini berpandangan bahwa belajar merupakan suatu proses internal yang mencakup ingatan, retensi, pengolahan informasi, emosi, dan aspek-aspek kejiwaan lainnya. Belajar terjadi antara lain mencakup pengaturan stimulus yang diterima dan menyesuaikannya dengan struktur kognitif yang sudah dimiliki dan terbentukdi dalam pikiran seseorang berdasarkan pemahaman dan pengalaman-pengalaman sebelumnya. Dalam praktik pembelajaran, teori kognitif antara lain tampak dalam rumusan-rumusan seperti “Tahap-tahap Perkembangan” yang dikemukakan oleh J. Piaget, “Advance Organizer” oleh Ausubel, Pemahaman konsep oleh Bruner, Hirarki belajar oleh Gagne, “Webteaching” oleh Nouman, dan sebagainya.

B. TEORI PERKEMBANGAN PIAGET
Piaget adalah seorang seorang tokoh psikologi kognitif yang besar penagruhnya terhadap perkembangan pemikiran para pakar kognitif lainnya. Menurut Piaget, perkembangan kognitif merupakan suatu proses genetik, yaitu suatu proses yang didasarkan atas mekanisme biologis perkembangan system saraf. Dengan makin bertambahnya umur seseorang, maka makin komplekslah susunan sarafnya dan makin meningkat pula kemampuannya. Ketika individu berkembang menuju kedewasaan, akan mengalami adaptasi biologis dengan lingkungannya yang akan menyebabkan adanya perubahan-perubahan kualitatif di dalam struktur kognitifnya. Piaget tidak perkembangan kognitif sebagai sesuatu yang dapat didefinisikan secara kuantitatif. Ia menyimpulkan bahwa daya piker atau kekuatan mental anak yang berbeda usia akan berbeda pula secara kualitatif.
Bagaimana seseorang memperoleh kecakapan intelektual, pada umumnya akan berhubungan dengan proses mencari keseimbangan antara apa yang dirasakan dan mereka ketahui dengan apa yang mereka lihat suatu fenomena baru sebagai pengalaman dan persoalan. Bila seorang dalam kondisi sekarang dapat mengatasi situasi baru, keseimbangan mereka tidak akan terganggu. Jika tidak, ia harus melakukan adaptasi dengan lingkungannya.
Adaptasi mempunyai dua bentuk simultan, yaitu asimilasi dan akomodasi asimilasi adalah proses perubahan apa yang dipahami sesuai dengan struktur kognitif yang ada sekarang, sementara akomodasi adalah proses perubahan struktur kognitif sehingga dapat dipahami. Dengan kata lain, apabila individu menerima informasi atau pengalaman baru maka informasi tersebut akan dimodifikasi sehingga cocok dengan struktur kognitif yang telah dipunyainya, proses ini disebut asimilasi. Sebaliknya apabila struktur kognitif yang sudah dimilikinya yang harus disesuaikan dengan informasi yang diterima, maka hal ini disebut akomodasi.
Asimilasi dan akomodasi akan terjadi apabila seseorang mengalami konflik kognitif atau suatu ketidakseimbangan antara apa yang telah diketahui dengan apa yang dilihat atau dialaminya sekarang, sehingga mempengaruhi struktur kognitif. Menurut Piaget, proses belajar akan terjadi mengikuti tahap-tahap asimilasi, akomodasi, dan ekuilibrasi (penyeimbangan). Proses asimilasi merupakan proses pengintegrasian atau penyatuan informasi baru ke dalam struktur kognitif yang telah dimilki oleh individu. Proses akmodasi merupakan proses penyesuaian struktur kognitif ke dalam situasi yang baru. Sedangkan proses ekuilibrasi adalah penyesuaian struktur berkesinambungan antara asimilasi dan akomodasi. Sebagai contoh, seorang anak sudah memahami prinsip pengurangan ketika mempelajari prinsip pembagian (informasi baru). Inilah yang disebut proses asimilasi.
Proses penyeimbangan yaitu menyeimbangkan antara lingkungan luar dengan struktur kognitif yang ada di dalam dirinya. Proses inilah yang disebut ekuilibrasi. Tanpa proses ekuilibrasi, perkembangan kognitif seseorang akan mengalamigangguan dan tidak teratur (disorganized). Hal ini misalnya tampak pada caranya berbicara yang tidak runtut, berbelit-belit, terputus-putus, tidak logis, dan sebagainya. Adaptasi akan terjadi jika telah terdapat keseimbangan di dalam struktur kognitif.
Proses asimilasi dan akomodasi mempengaruhi struktur kognitif. Perubahan struktur kognitif merupakan fungsi dari pengalaman dan kedewasaan anak terjadi melalui tahap-tahap perkembangan tertentu. Menurut Piaget, proses belajar seseorang akan mengikuti pola tahap-tahap perkembangan sesuai umurnya. Pola dan tahap-tahap ini bersifat hirarkis, artinya harus dilalui berdasarkan urutan tertentu dan seseorang tidak dapat belajar sesuatu yang berada di luar tahap kognitifnya. Piaget membagi tahap-tahap perkembangan kognitif ini menjadi empat yaitu,
a. Tahap Sensorimotor (umur 0-2 tahun)
Ciri pokok perkembangannya berdasarkan tindakan, dan dilakukan langkah demi langkah. Kemampuan yang dimiliki antara lain:
1. Melihat dirinya sendiri sebagai makhluk yang berbeda dengan objek di sekitarnya.
2. Mencari rangsangan melalui sinar lampu dan suara.
3. Suka memperhatikan sesuatu lebih lama.
4. Mendefinisikan sesuatu dengan memanipulasinya.
5. Memperhatikan objek sebagai hal yang tetap, lalu ingin merubah tempatnya.
b. Tahap Praoperasional Konkrit (umur 2-7/8 tahun)
Ciri pokok perkembangan pada tahap ini adalah pada penggunaan symbol atau tanda, dan mulai berkembanganya konsep-konsep intuitif.
Praopersional (umur 2-4 tahun), anak telah mampu menggunakan bahasa dalam menggunakan konsepnya, walaupun masih sangat sederhana. Maka sering terjadi kesalahan dalam memahami objek.
Karakteristik tahap ini adalah:
1. Self counter-nya sangat menonjol,
2. Dapat mengklasifikasikan objek pada tingkat dasar secara tunggal atau mencolok,
3. Tidak mampu memusatkan perhatian pada objek-objek yang berbeda,
4. Mampu mengumpulkan barang-barang menurut kriteria, termasuk kriteria yang benar,
5. Dapat menyusun benda-benda secara berderet, tetapi tidak dapat menjelaskan perbedaan deretan.
Tahap intuitif (umur 4-7 atau 8 tahun), anak telah dapat memperoleh pengetahuan berdasarkan pada kesan yang agak abstrak. Dalam menarik kesimpulan sering tidak diungkapkan dengan kata-kata. Oleh sebab itu, pada usia ini anak telah dapat mengungkapkan isi hatinya secara simbolik terutama bagi mereka yang memilki pengalaman yang luas. Karakteristik tahap ini adalah:
1) Anak dapat membentuk kelas-kelas atau kategori objek, tetapi kurang disadarinya.
2) Anak mulai mengetahui hubungan secara logis terhadap hal-hal yang lebih kompleks.
3) Anak dapat melakukan sesuatu terhadap jumlah ide.
4) Anak mampu memperoleh prinsip-prinsip secara benar.
c. Tahap Operasional konkret (umur 7 atau 8-11 atau 12 tahun)
Ciri pokok perkembangan pada tahap ini adalah anak sudah mulai menggunakan aturan-aturan yang jelas dan logis, dan ditandai adanya reversible dan kekekalan. Anak telah memiliki kecakapan berfikir logis, akan tetapi hanya dengan benda-benda yang bersifat konkret. Operation adalah suatu tipe tindakan untuk memanipulasi objek atau gambaran yang ada di dalam dirinya.
d. Tahap Operasional Formal (umur 11/12-18 tahun)
Ciri pokok perkembangan pada tahap ini adalah anak sudah mampu berpikir abstrak dan logis dengan menggunakan pola berpikir “kemungkinan”. Model berpikir ilmiah dengan tipe hipothetico-deductive dan inductive sudah mulai dimiliki anak, dengan kemampuan menarik kesimpulan, menafsirkan dan mengembangkan hipotesa. Pada tahap ini kondisi berpikir anak sudah dapat:
1) Bekerja secara efektif dan sistematis
2) Menganalisis secara kombinasi.
3) Berfikir secara proposional.
4) Menarik generalisasi secara mendasar pada satu macam sisi.
Proses belajar yang dialami seorang anak pada tahap sensori-motorik akan berbeda dengan proses belajar yang dialami oleh seorang anak pada tahap praoperasional, dan akan berbeda pula dengan mereka yang sudah berada pada tahap operasional konkret, begitupun dengan yang lain.

C. TEORI BELAJAR MENURUT BRUNER
Jerome Bruner (1966) adalah seorang pengikut setia teori kognitif khususnya dalam studi perkembangan fungsi kognitif. Ia menandai perkembangan kognitif manusia sebagai berikut:
a. Perkembangan intelektual ditandai dengan adanya kemajuan dalam menanggapi suatu rangsangan.
b. Peningkatan pengetahuan tergantung pada perkembangan system penyimpangan informasi secara realis.
c. Perkembangan intelektual meliputi perkembangan kemampuan berbicara pada diri sendiri atau pada orang lain melalui kata-kata atau lambang tentang apa yang telah dilakukan.
d. Interaksi secara sistematis antara pembimbing, guru atau orang tua dengan anak diperlukan bagi perkembangan kognitifnya.
e. Bahasa adalah kunci perkembangan kognitif, karena bahasa merupakan alat komunikasi antara manusia.
f. Perkembangan kognitif ditandai dengan kecakapan untuk mengemukakan beberapa alternative secara simultan, memilih tindakan yang tepat, dapat memberikan prioritas yang berurutan dalam berbagai situasi.
Dalam memandang proses belajar, Bruner menekankan adanya pengaruh kebudayaan terhadap tingkah laku sesorang. Dengan teorinya yang disebut free discovery learning, ia mengatakan bahwa proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan, atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya. Bruner menyatakan bahwa perkembangan bahasa benar pengaruhnya terhadap perkembangan kognitif.
Menurut Bruner perkembangan kognitif seseorang terjadi melalui tiga tahap yang ditentukan oleh carnya melihat lingkungan, yaitu; enactive, iconic, dan symbolic.
1) Tahap enaktif, seseorang melakukan aktivitas-aktivitas dalam upayanya untuk memahami lingkungan sekitarnya. Artinya, dalam memahami dunia sekitarnya anak menggunakan pengetahuan motorik. Misalnya melalui gigitan, sentuhan, pegangan, dans sebagainya.
2) Tahan ikonik, seseorang memahami objek-objek atau dunianya melalui gambar-gambar dan visualisasi verbal. Maksudnya, dalam memahami dunia dan sekitarnya anak belajar melalui bentuk perumpamaan (tampil) dan perbandingan (komparasi)
3) Tahap simbolik, seseorang telah mampu memiliki ide-ide atau gagasan-gagasan abstrak yang sangat dipengaruhi oleh kemampuannya dalam berbahasa dan logika. Dalam memahami dunia sekitarnya anak belajar melalui simbol-simbol bahasa, logika, matematika, dan sebagainya. Komunikasinya dilakukan dengan menggunakan banyak symbol. Semakin matang seseorang dalam proses berfikirnya, semakin dominan system simbolnya. Meskipun begitu tidak berarti ia tidak lagi menggunakan system enaktif dan ikonik. Penggunaan media dalam kegiatan pembelajaran merupakan salah satu bukti masih diperlakukannya system enaktif dan ikonik dalam proses belajar.
Menurut Bruner, perkembangan kognitif seseorang dapat ditingkatkan dengan cara menyusun materi pelajaran dan menyajikannya sesuai dengan tahap perkembangan orang tersebut. Model pemahaman konsep dari Bruner menjelaskan bahwa pembentukan konsep dan pemahaman konsep merupakan dua kegiatan mengkategori berbeda yang menuntut proses berfikir yang berbeda pula. Kegiatan mengkategori memiliki dua komponen yaitu;
1) Tindakan pembentukan konsep
2) Tindakan pemahaman konsep
Bruner menjelaskan bahwa pembelajaran yang selama ini diberikan di sekolah lebih banyak menekankan pada perkembangan kemampuan analisis, kurang mengembangkan kemampuan berpikir intuitif. Padahal berpikir intuitif sangat penting bagi mereka yang menggeluti bidang MIPA. Cara yang baik untuk belajar adalah memahami konsep, arti, dan hubungan, melalui konsep, arti, dan hubungan, melalui proses intuitif untuk akhirnya sampai pada suatu kesimpulan.
D. TEORI BELAJAR BERMAKNA AUSUBEL
Teori-teori belajar yang ada selama ini masih banyak menekankan pada belajar asosiatif (menghafal). Belajar demikian tidak banyak bermakna bagi siswa. Belajar seharusnya merupakan asimilasi yang bermakna. Materi yang dipelajari diasimilasikan dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa dalam bentuk struktur kognitif.
Struktur kognitif merupakan struktur organisasional yang ada dalam ingatan seseorang yang mengintegrasikan unsur-unsur pengetahuan yang terpisah-pisah ke dalam suatu unit konseptual. Teori kognitif banyak memusatkan perhatiannya pada konsepsi bahwa perolehan dan retensi pengetahuan baru merupakan fungsi dari struktur kognitif yang dimiliki siswa. Yang paling awal menerangkan konsepsi ini adalah Ausubel.
Berdasarkan pada konsepsi organisasi kognitif seperti yang dikemukakan oleh Ausubel tersebut, dikembangkanlah oleh para pakar teori kognitif suatu model yang lebih eksplisit yang disebut dengan schemata. Sebagai struktur organisasional, skemata berfungsi untuk mengintegrasikan unsur-unsur pengetahuan yang terpisah-pisah, atau sebagai tempat untuk mengaitkan pengetahuan baru.
Skemata memiliki fungsi asimilatif. Artinya, bahwa skemata berfungsi untuk mengasimilasikan pengetahuan baru ke dalam hirarki pengetahuan, yang secara progresif lebih rinci dan spesifik dalam struktur kognitif seseorang. Struktur kognitif yang dimiliki individu menjadi faktor utama yang mempengaruhi kebermaknaan dari perolehan pengetahuan baru. Oleh sebab itu maka diperlukan adanya upaya untuk mengorganisasi isi atau materi pelajaran serta penataan kondisi pembelajaran agar dapat memudahkan proses asimilasi pengetahuan baru ke dalam struktur kognitif orang yang belajar.
E. APLIKASI TEORI KOGNITIF DALAM KEGIATAN PEMBELAJARAN
Hakikat belajar menurut teori kognitif dijelaskan sebagai suatu aktifitas belajar yang berkaitan dengan penataan informasi, reorganisasi perceptual, dan proses internal. Kegiatan pembelajaran yang berpijak pada teori belajar kognitif ini sudah banyak digunakan. Dalam merumuskan tujuan pembelajaran, mengembangkan strategi dan tujuan pembelajaran tidak lagi mekanistik sebagaimana yang dilakukan dalam pendekatan behaviouristik. Kebebasan dan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar amat diperhitungkan, agar belajar lebih bermakna bagi siswa. Sedangkan kegiatan pembelajarannya mengikuti prinsip-prinsip sebagai berikut:
1. Siswa bukan sebagai orang dewasa yang muda dalam proses berpikirnya. Mereka mengalami perkembangan kognitif melalui tahap-tahap tertentu.
2. Anak usia pra sekolah dan awal sekolah dasar akan dapat belajar dengan baik, terutama jika menggunakan benda-benda konkrit
3. Keterlibatan siswa secara aktif dalam belajar amat dipentingkan, karena hanya dengan mengaktifkan siswa maka hanya proses asimilasi dan akomodasi pengetahuan dan pengalaman dapat terjadi dengan baik
4. Untuk menarik minat dan meningkatkan retensi belajar perlu mengkaitkan pengalaman atau informasi baru dengan setruktur kognitif yang telah dimiliki si belajar
5. Pemahaman dan retensi akan meingkat jika materi pelajaran disusun dengan menggunakan pola atau logika tertentu, dari sederhana ke kompleks.
6. Belajar memahami akan lenih bermakna dari pada belajar menghafal. Agar bermakna, informasi baru harus disesuaikan dan dihubungkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa.
7. Adanya perbedaan individual pada diri siswa perlu diperhatikan, karena factor ini sangat mempengaruhi keberhasilan belajar siswa.
Ketiga tokoh aliran kognitif di atas secara umum memiliki pandangan yang sama yaitu mementingkan keterlibatan siswa secara aktif dalam belajar. Yang berbeda hanyalah langkah-langkah pembelajaran yang dikemukakan oleh masing-masing tokoh tersebut berbeda.








Langkah-langkah tersebut adalah:
Langkah-langkah Pembelajaran Menurut Piaget Langkah-langkah Pembelajaran Menurut Bruner Langkah-langkah Pembelajaran Menurut Ausubel
1. Menentukan tujuan pembelajaran 1. Menentukan tujuan pembelajaran 1.Menentukan tujuan pembelajaran
2. Memilih materi pembelajaran 2. Melakukan identifikasi karakteristik siswa 2.Melakukan identifikasi karakteristik siswa
3. Menentukan topik-topik yang dapat dipelajari siswa secara aktif 3. Memilih materi pelajaran 3.Memilih materi pelajaran sesuai dengan karakteristik siswa dan mengaturnya dalam bentuk konsep-konsep inti
4. Menentukan kegiatan belajar yang sesuai untuk topik-topik tersebutmisalnya penelitian, memecahkan masalah, diskusi, simulasi, dan sebagainya. 4. Menentukan topik-topik yang dapat dipelajari siswa secar induktif 4.Menentukan topik-topik dan menampilkan dalam bentuk advance organizer yang akan dipelajari siswa.
5. Mengembangkan metode pembelajaran untuk merangsang kreatifitas dan cara berfikir siswa 5. Mengembangkan bahan-bahan belajar yang beruapa contoh-contoh, ilustrasi, tugas, dan sebagainya untuk dipelajari siswa. 5. mempelajari konsep-konsep inti tersebut, dan menerapkannya dalam bentuk nyata/konkret
6. Melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa 6. Mengatur topik-topik pelajaran dari yang sederhana ke kompleks, dari konkret ke abstrak, dan sebagainya 6. melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa
7. Melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa

























BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Pengertian belajar menurut teori kognitif adalah perubahan persepsi dan pemahaman, yang tidak selalu berbentuk tingkah laku yang dapat diamati dan dapat diukur. Asumsi teori ini adalah bahwa setiap orang telah memiliki pengetahuan dan pengalaman yang telah tertata dalam bentuk struktur kognitif yang telah dimilikinya. Proses belajar akan belajar dengan baik jika materi pelajaran atau informasi baru beradaptasi dengan struktur kognitif yang telah dimiliki seseorang.
Di antara para pakar teori kognitif, ada tiga tokoh terkenal yang menganut teori ini yaitu Piaget, Bruner, dan Ausubel. Menurut Piaget, kegiatan belajar terjadi sesuai pola tahap-tahap perkembangan tertentu dan umur seseorang, serta melalui proses asimilasi, akomodasi, dan equilibrasi. Sedangkan Bruner mengatakan bahwa belajar terjadi lebih ditentukan oleh cara seorang mengatur pesan atau informasi. Proses belajar akan terjadi melalui tahap-tahap enaktif, ikonik, dan simbolik. Sementara itu, Ausubel mengatakan bahwa proses belajar terjadi jika seseorang mampu mengasimilasikan pengetahuan yang telah dimilikinya dengan pengetahuan baru. Proses belajar akan terjadi melalui tahap-tahap memperhatikan stimulus, memahami makna stimulus, menyimpan dan menggunakan informasi yang sudah dipahami.
Dalam kegiatan pembelajaran, keterlibatan siswa secara aktif amat dipentingkan. Untuk menarik minat dan meningkatkan retensi belajar perlu mengaitkan pengetahuan baru dengan strutur kognitif yang telah dimiliki oleh siswa. Materi pelajaran disusun dengan menggunakan pola atau logika tertentu, dari sederhana ke kompleks. Perbedaan individual pada diri siswa perlu diperhatikan, karena faktor ini sangat mempengaruhi keberhasilan belajar siswa.
B. SARAN
Adapun saran yang kami berikan adalah:
Kepada para pendidik hendaknya memahami teori-teori perkembangan anak dan teori pembelajaran agar dalam memberikan ilmu pemgetahuan sesuai dengan tingkat kesiapan anak dalam belajar, sehingga tercapailah hasil optimal dalam kegiatan belajar mengajar sesuai dengan yang diinginkan oleh pendidik.
DAFTAR PUSTAKA

Budiningsih, C. Asri. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Asdi Mahasatya.
Soekamto, Toeti dkk. 1992. Prinsip Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Depdiknas Dirjen PT-PAU.

0 komentar: