Berkelana Mencari Hidayah, Ada yang Menemukan dan Ada yang Terdampar. Namun Ada Juga Yang Terhempas

Oleh : La Adri At Tilmidz

Sesungguhnya segala puji-pujian kepunyaan Allah. Kami memuji-Nya, dan kami memohon pertolongan kepada-Nya, dan kami meminta ampun kepada-Nya, dan kami memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan-kejahatan diri-diri kami, dan kesalahan-kesalahan perbuatan-perbuatan kami. Barang siapa yang Allah tunjuki dia, maka tidak ada satupun yang menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka tidak ada satupun yang dapat menunjukinya.

Dan aku mengakui bahwa tidak ada Tuhan (yang boleh disembah) melainkan Allah sendiri yang tidak ada satupun sekutu bagi-Nya, dan aku mengakui bahwa Muhammad itu hamba-Nya dan Rasul-Nya.

Sebuah karunia yang besar jika Allah Tabaroka wata’ala memberikan hidayah di atas Islam dan di atas sunnah. Ia seorang muslim dan ia memahami sunnah. Dan tanda bahwa Allah Tabaroka wata’ala menghendaki kebaikan kepada seorang hamba adalah jika Allah membuat ia paham agama. Adanya kebaikan pada diri seorang hamba jika hamba itu rajin dan semangat dan mendekatkan dirinya pada Islam, kecintaan pada ilmu dan berusaha dekat kepada agama.

Sungguh Allah telah memuliakan ilmu dan ulama dengan memberikan kepada mereka kebaikan yang umum dan menyeluruh sebagaimana diterangkan dalam firman-Nya:

يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلاَّ أُولُو الأَلْبَابِ

“Allah menganugrahkan Al-Hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al-Qur`an dan As-Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugrahi Al-Hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran.” (Al-Baqarah:269)

Berkata Mujahid: Allah menganugrahkan Al-Hikmah, yaitu ilmu dan pemahamannya. (Akhlaaqul ‘Ulamaa`, Al-Imam Abu Bakr Al-Ajurriy hal.9)

Maka barang siapa yang ia berusaha dekat dgn orang shalih, mencari kajian, dipertemukan dengan sesuatu yang Islami, ia menjadi bangga tentang Islam, maka berbahagialah.

Namun yaa ikhwah…. fenomena perbedaan pendapat di kalangan Muslimin hingga muncullah berbagai paham. Ada Ikhwanul Muslimin, Jamaah Tabligh, Hizbut Tahrir, Sufi, dan lainnya membuat kebingungan di kalangan orang awam.

Berkata Al-Imam Ibnu Rajab Al-Hambaliy: “Sungguh telah terfitnah kebanyakan dari kalangan orang-orang belakangan dengan permasalahan ini (perdebatan), lalu mereka menyangka bahwa orang yang banyak pembicaraannya, perdebatannya dan perselisihannya dalam masalah-masalah agama maka dia adalah orang yang lebih tahu daripada orang yang keadaannya tidak demikian, dan ini (sebenarnya) adalah kebodohan yang murni ? maka bukanlah ilmu itu dengan banyaknya riwayat dan bukan pula dengan banyaknya ucapan, akan tetapi (ilmu itu adalah) cahaya yang dimasukkan ke dalam hati, yang seorang hamba akan memahami kebenaran dengan ilmu tersebut dan dia akan bisa membedakan dengan ilmu tersebut antara Al-Haq (kebenaran) dengan kebathilan.” (Ibid hal.93-94)

Maka di sinilah pentingnya ilmu. Ilmu yang dimaksud adalah apa yang Allah katakan, apa yang nabi katakan, kemudian dijelaskan oleh shahabat dan tabiin wa tabiut tabiin. Ini yang dikenal dengan al manhaj (cara bersikap beragama) yang benar, yang diambil dari tiga generasi terbaik umat ini.

Ingatlah sabda Rasulullah: “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan (padanya) niscaya Allah akan fahamkan dia tentang agamanya.” (Muttafaqun ‘alaih dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan)

Dan juga sabdanya: “…Ummatku akan terpecah belah menjadi 73 golongan, semuanya masuk ke dalam neraka kecuali satu golongan. Beliau ditanya: “Siapa dia wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “(golongan) yang berada di atas apa yang aku dan para shahabatku berada (di atasnya).” (HR. At-Tirmidzi dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash).

Artinya kita harus memahami agama Islam sesuai dengan pemahaman Rasulullah dan para shahabatnya serta ‘ulama salaf yang mengikuti Rasululah dan para shahabatnya. Jangan memahami Islam dengan akal kita atau hawa nafsu kita atau pendapatnya ahli bid’ah karena nantinya akan masuk ke dalam golongan yang diancam di neraka sebagaimana dijelaskan dalam hadits tersebut.

Maka yaa ikhwah, ia berkelana dari satu paham ke paham lainnya. Ada di antara mereka yang Allah selamatkan hingga ia bertemu dengan kajian ahlus sunnah dan ia jatuh cinta kepadanya maka jadilah ia ahlus sunnah dengan manhaj yang benar yaitu di atas manhaj salaf. Sedikit demi sedikit ia paham apa itu tauhid dan apa itu syirik, ia paham mana yang sunnah dan mana yang bid’ah. Ia mengalihkan perhatian menuju menelaah kitab para ulama rabbani. Ia bersyukur atas hidayah di atas Islam, di atas sunnah, dan di atas manhaj salaf dalam beragama dan ini adalah karunia yang terbesar.

Ada pula di antara mereka yang jatuh kepada kajian bid’ah yang hanya bermodal semangat tanpa ilmu maka jadilah ia ahli bid’ah. Kecenderungan hatinya pada keteduhan dan kesejukan hati tanpa lentera ilmu. Kecintaan kepada nabi tanpa ilmu dan menjadikan ilmu tidak bermakna karena lebih mengedepankan perasaan.

Namun ada pula setelah ia berkelana mencari kebenaran menjadikan dirinya terhempas karena kebingungannya akibat banyaknya paham yang ada hingga ia menjauh dari ilmu dan melakukan maksiat dengan hasil pengetahuan berbagai paham di dalam otaknya. Maksiat yang ia lakukan bahkan memecah belah ahlus sunnah dan menjauhkan kaum muslimin dari kajian ahlus sunnah dan mencela ahlus sunnah dengan berbagai-bagai celaan.

Orang yang terhempas ini bahkan lebih buruk dari sangkaannya. Ia mengatakan salafiyyin suka mencela, salafiyyin hanya sibuk menjelek-jelekkan orang lain dan ia menasihati salafiyyin agar tidak mencela orang lain. Namun yang menggelikan ia mencela salafiyyin. Ia mencari setiap celah untuk membuka aib salafy. ia menyibukkan diri dan tersenyum setiap kali ada kesempatan untuk mencela salafy.

Bukankah seharusnya apa yang ia katakan kepada salafiyyin lebih tepat diarakan pada dirinya sendri, nasihat yang berikan kepada salafiyyin harusnya ia nasihati dirinya sendiri untuk tidak mencela. ia tidak suka dicela namun ia mencela. Tidakkah ia tahu bahwa salafiyyin bukannya mencela tetapi menasihati umat untuk kembali kepada cara beragamanya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam.

Tidaklah heran kalau kita mendengar salah seorang Imam Ahlus Sunnah ketika mentahdzir ahli bid’ah, dia menyatakan, “Saya lebih baik daripada kedua orang tuanya, saya memperingatkan ummat agar jangan mengikuti kesesatannya, maka ketika orang-orang yang mengikutinya berkurang, berkuranglah dosanya. Sedangkan kedua orang tuanya membiarkan anaknya tetap dalam kesesatannya.”

Untuk itu seharusnya kita bersyukur kepada Allah kemudian berterimakasih kepada para ‘ulama yang dari masa ke masa senantiasa berusaha menjaga agama ini agar tetap murni sebagaimana yang diajarkan dan diamalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya. Di antara penjagaan terhadap agama adalah dengan cara memperingatkan ummat Islam dari penyimpangan ahli bid’ah agar jangan sampai mereka mengikutinya.

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani berkata :

Kalaupun kita bisa menerima bantahan orang-orang yang mengkritik pemahaman salafi, sehingga kita cukup hanya menamakan diri dengan istilah muslim saja, tanpa menisbatkan diri kepada Salafus Shalih meskipun penisbatan tersebut merupakan penisbatan yang mulia dan shahih. Lantas apakah dengan demikian orang-orang yang mengkiritik itu bersedia melepaskan diri dari penamaan terhadap kelompok-kelompok, madzhab-madzhab, thariqat-thariqat mereka meskipun penisbatan itu semua tidak syar’i dan tidak shahih? (

Saudaraku, Orang yang terhempas ini tahu setiap detail tentang ahlus sunnah, bahkan ia membaca buku dan rujukan serta kitab ulama salafy, namun pengetahuannya ternyata menjadi bom bagi dirinya yaitu semakin menyesatkan dirinya. ia terombang ambing dan menjadi permainan hawa nafsunya akibat rusaknya penyakit hati berupa kedengkian yang amat nyata.

Dan di dalam wasiat Abul ‘Aliyah dia mengatakan: “waspada dan hati-hatilah kalian dari ahlul ahwaa` atau ahlul bid’ah yang selalu menebarkan kebencian dan permusuhan di tengah-tengah manusia.” Berkata Al-Hasan Al-Bashriy: “Semoga Allah merahmatinya, dia telah berkata benar dan memberi nasihat.” (Al-Bida’ Wan-Nahyu ‘anha, Ibnu Wadhdhoh 32-33).

Dan berkata Ibrahim At-Taimiy: “Ya Allah, jagalah diriku dengan agama dan sunnah nabi-Mu dari perselisihan di dalam kebenaran dan mengikuti hawa nafsu, dari jalan-jalan kesesatan, serta dari perkara-perkara syubhat dan dari penyelewengan/penyimpangan dan permusuhan.” (Al-I’tishom 1/116).

Saudaraku, hendaklah kita senantiasa berdoa:

أَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.

Ya Allah perlihatkanlah kepada kami yang benar itu benar dan bantulah kami untuk mengikutinya, dan perlihatkanlah kepada kami yang batil adalah batil dan bantulah kami untuk menjauhinya.

Maka tujuan dakwah ini adalah menjelaskan yang haq adalah hak dan yang batil adalah batil. Sebagaimana Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

لِيُحِقَّ الْحَقَّ وَيُبْطِلَ الْبَاطِلَ وَلَوْ كَرِهَ الْمُجْرِمُونَ. (الأنفال: 8)

Agar Allah menetapkan yang hak adalah haq dan membatalkan yang batil walaupun orang-orang yang berdosa itu tidak menyukainya. (al-Anfaal: 8)

Oleh karena itu, mengingatkan yang lupa dan memperbaiki yang salah jika diiringi dengan bukti-bukti dan dalil-dalil secara ilmiyah, justru akan mempererat ukhuwah islamiyah. Karena sudah merupakan kodrat manusia untuk berbuat salah dan lupa. Untuk itu harus ada di tengah mereka saling nasehat-menasehati dengan kebenaran dan kesabaran.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ اْلإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلاَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ. (العصر: 1-3)

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasehat- menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran. (al-’Ashr: 1-3)

Wallaahu a’lamu bishshowaab.

http://sunniy.wordpress.com/2007/11/06/berkelana-mencari-hidayah-ada-yang-menemukan-dan-ada-yang-terdampar-namun-ada-juga-yang-terhempas/

0 komentar: