Ustadz Abu Muhammad Dzulqarnain

PERTANYAAN

Berkembangnya dakwah Salafiyah di kalangan masyarakat, dengan pembinaan yang mengarah kepada perbaikan ummat di bawah tuntunan Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam, adalah suatu hal yang sangat disyukuri. Akan tetapi di sisi lain, orang-orang menyimpan dalam benak mereka persepsi yang berbeda-beda tentang pengertian Salafiyah itu sendiri, sehingga bisa menimbulkan kebingungan bagi orang-orang yang mengamatinya, maka untuk itu dibutuhkan penjelasan yang jelas tentang hakikat Salafiyah itu. Mohon keterangannya!

JAWABAN

Salafiyah adalah salah satu penamaan lain dari Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang menunjukkan ciri dan kriteria mereka.

Salafiyah adalah pensifatan yang diambil dari kata سَلَفٌ (salaf) yang berarti mengikuti jejak, manhaj dan jalan Salaf. Dikenal juga dengan nama سَلَفِيُّوْن َ (salafiyyun), yaitu bentuk jamak dari kata Salafy, yang berarti orang yang mengikuti Salaf. Kadang pula kita mendengar penyebutan para ulama Salaf dengan nama As-Salaf Ash-Shâlih (pendahulu yang shalih).

Dari keterangan di atas, secara global sudah bisa dipahami apa yang dimaksud dengan Salafiyah. Tetapi kita akan menjelaskan tentang makna salaf menurut para ulama, dengan harapan bisa mengikis anggapan/penafsiran bahwa dakwah Salafiyah adalah suatu organisasi, kelompok, aliran baru dan sangkaan-sangkaan lain yang salah dan menodai kesucian dakwah yang dibawa oleh Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam ini.

Kata Salaf ini mempunyai dua definisi: dari sisi bahasa dan dari sisi istilah .

Definisi Salaf Secara Bahasa

Berkata Ibnu Manzhûr dalam Lisânul ‘Arab , “Dan As-Salaf juga adalah orang-orang yang mendahului kamu dari ayah-ayahmu dan kerabatmu, yang mereka itu (berada) di atas kamu dari sisi umur dan keutamaan. Karena itulah, generasi pertama di kalangan tabi’in dinamakan As-Salaf Ash-Shâlih.”

Berkata Al-Manâwi dalam At-Ta’ârîf jilid 2 hal. 412, “As-Salaf bermakna At-Taqaddum (yang terdahulu). Jamak dari kata salaf adalah أََسْلاَفٌ (aslaf).”

Masih banyak rujukan lain tentang makna salaf dari sisi bahasa, yang dapat dilihat dalam Mauqif Ibnu Taimiyyah Minal ‘Asyâ’irah jilid 1 hal. 21.

Jadi, arti salaf secara bahasa adalah yang terdahulu, yang awal dan yang pertama. Mereka dinamakan salaf dikarenakan mereka adalah generasi pertama dari umat Islam.

Definisi Salaf Secara Istilah

Istilah salaf di kalangan ulama mempunyai dua makna: secara khusus dan secara umum .

Makna salaf secara khusus adalah generasi permulaan umat Islam dari kalangan shahabat, tabi’in (murid-murid para shahabat), Tabi’ut Tabi’in (murid-murid para tabi’in) dalam tiga masa, yang mendapatkan kemulian dan keutamaan dalam hadits mutawatir yang diriwayatkan oleh Imam Bukhâry, Muslim dan lain-lainnya, bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam menyatakan,

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi setelahnya, kemudian generasi setelahnya.”

Makna khusus inilah yang diinginkan oleh banyak ulama ketika menggunakan kata salaf, dan kita akan menyebutkan beberapa contoh dari perkataan para ulama, yang mendefinisikan salaf dengan makna khusus ini atau yang menggunakan istilah salaf dan mereka inginkan dengannya makna salaf secara khusus.

Berkata Al-Bâjûry dalam Syarh Jauharut Tauhîd hal. 111, “Yang dimaksud dengan salaf adalah orang-orang yang terdahulu dari para nabi, para shahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka.”

Berkata Al-Qâlasyâny dalam Tahrîrul Maqâlah Syarh Ar-Risâlah , “As-Salaf Ash-Shâlih yaitu generasi pertama yang mapan di atas ilmu, yang mengikuti petunjuk Nabi shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam lagi menjaga sunnah-sunnah beliau. Allah memilih mereka untuk bershahabat dengan Nabi-Nya dan memilih mereka untuk menegakkan agama-Nya. Mereka itulah yang diridhai oleh para imam umat (Islam). Mereka berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benar jihad, mencurahkan (seluruh kemampuan) dalam menasihati dan memberi manfaat kepada umat, serta menyerahkan diri-diri mereka dalam menggapai keridhaan Allah.”

Berkata pula Al-Ghazâly memberikan pengertian terhadap kata As-Salaf dalam Iljâmul ‘Awwâm ‘An ‘Ilmil Kalâm hal. 62, “Yang saya maksudkan dengan salaf adalah madzhabnya para shahabat dan tabi’in.”

Lihat Limâdzâ Ikhtartu Al-Manhaj As-Salafy hal.31 dan Bashâir Dzawisy Syaraf Bimarwiyâti Manhaj As-Salaf hal. 18-19.

Berkata Abul Hasan Al-Asy’ary dalam Al-Ibânah Min Ushûl Ahlid Diyânah hal. 21, “Dan (di antara yang) kami yakini sebagai agama adalah mencintai para ulama Salaf yang mereka itu telah dipilih oleh Allah ‘Azza Wa Jalla untuk bershahabat dengan Nabi-Nya, dan kami memuji mereka sebagaimana Allah memuji mereka, serta kami memberikan loyalitas kepada mereka seluruhnya.”

Berkata Ath-Thahâwy dalam Al-‘Aqîdah Ath-Thahâwiyah , “Dan ulama Salaf dari generasi yang terdahulu dan generasi yang setelah mereka dari kalangan tabi’in, (mereka adalah) Ahlul Khair (ahli kebaikan), Ahli Atsar (hadits), serta ahli fiqih dan telaah (peneliti). Tidaklah mereka disebut melainkan dengan kebaikan, dan siapa yang menyebut mereka dengan kejelekan, maka dia berada di atas selain jalan (yang benar).”

Juga Al-Lâlikâ`i, dalam Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wal Jamâ’ah jilid 2 hal. 334 ketika beliau membantah orang yang mengatakan bahwa Al-Qura, dialah yang berada dilangit, berkata, “Maka dia telah menyelisihi Allah dan Rasul-Nya, dan menolak mukjizat Nabi-Nya serta menyelisihi para salaf dari kalangan shahabat, tabi’in dan orang-orang setelahnya dari para ulama umat ini.”

Berkata Al-Baihaqy dalam Syu abul Imân jilid 2 hal. 251 tatkala beliau menyebutkan pembagian ilmu, beliau menyebutkan diantaranya : “Dan mengenal perkataan-perkataan para salaf dari kalangan shahabat, tabi’in dan orang-orang setelah mereka.”

Dan berkata Asy-Syihristâny dalam Al-Milal Wa An-Nihal jilid 1 hal. 200, “Kemudian mengetahui letak-letak ijmâ’ (kesepakatan) shahabat, tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in dari Salafus Shalih sehingga ijtihadnya tidak menyelisihi ijmâ’ (mereka).”

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Bayân Talbîs Al-Jahmiyah jilid 1 hal. 22, “Maka tidak ada keraguan bahwasanya kitab-kitab yang terdapat di tangan-tangan manusia menjadi saksi bahwasanya seluruh salaf dari tiga generasi pertama mereka menyelisihinya.”

Dan berkata Al-Mubârakfûry dalam Tuhfah Al-Ahwadzy jilid 9 hal.165, “… Dan ini adalah madzhab Salafus Shalih dari kalangan shahabat dan tabi’in dan selain mereka dari para ulama -mudah-mudahan Allah meridhai mereka seluruhnya-.”

Dan hal yang sama dinyatakan oleh Al-’Azhim Âbâdy dalam ‘Aunul Ma’bûd jilid 13 hal. 7.

Makna salaf secara umum adalah tiga generasi terbaik dan orang-orang setelah tiga generasi terbaik ini, sehingga mencakup setiap orang yang berjalan di atas jalan dan manhaj generasi terbaik ini.

Berkata Al-‘Allâmah Muhammad As-Safârîny Al-Hambaly dalam Lawâmi’ Al-Anwâr Al-Bahiyyah Wa Sawâthi’ Al-Asrâr Al-Atsariyyah jilid 1 hal. 20, “Yang diinginkan dengan madzhab salaf yaitu apa-apa yang para shahabat yang mulia -mudah-mudahan Allah meridhai mereka- berada di atasnya dan para tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik dan yang mengikuti mereka dan para imam agama yang dipersaksikan keimaman mereka dan dikenal perannya yang sangat besar dalam agama dan manusia menerima perkataan-perkataan mereka ….”

Berkata Ibnu Abil ‘Izzi dalam Syarh Al ‘Aqîdah Ath-Thahâwiyah hal. 196 tentang perkataan Ath-Thahâwy bahwasanya Al-Qur`ân diturunkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, “Yakni merupakan perkataan para shahabat dan yang mengikuti mereka dengan baik dan mereka itu adalah Salafus Shâlih.”

Dan berkata Asy-Syaikh Shâlih Al-Fauzân dalam Nazharât Wa Tu’uqqûbât ‘Alâ Mâ Fî Kitâb As-Salafiyah hal. 21, “Dan kata Salafiyah digunakan terhadap jamaah kaum mukminin yang mereka hidup di generasi pertama dari generasi-generasi Islam yang mereka itu komitmen di atas Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam dari kalangan shahabat Muhajirin dan Anshâr dan yang mengikuti mereka dengan baik dan Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam mensifati mereka dengan sabdanya, ‘Sebaik-baik manusia adalah zamanku, kemudian zaman setelahnya, kemudian zaman setelahnya ….’.”

Dan beliau juga berkata dalam Al-Ajwibah Al-Mufîdah ‘An As`ilah Al-Manâhij Al-Jadîdah hal. 103-104, “As-Salafiyah adalah orang-orang yang berjalan di atas Manhaj Salaf dari kalangan Shahabat dan tabi’in dan generasi terbaik, yang mereka mengikutinya dalam hal aqidah, manhaj, dan metode dakwah.”

Dan berkata Syaikh Nâshir bin ‘Abdil Karim Al-‘Aql dalam Mujmal Ushûl I’tiqâd Ahlus Sunnah Wal Jamâ’ah hal.5, “As-Salaf, mereka adalah generasi pertama umat ini dari para shahabat, tabi’in dan imam-imam yang berada di atas petunjuk dalam tiga generasi terbaik pertama. Dan kata As-Salaf juga digunakan kepada setiap orang yang berada pada setelah tiga generasi pertama ini yang meniti dan berjalan di atas manhaj mereka.”

Asal Penamaan Salaf dan Penisbahan Diri Kepada Manhaj Salaf

Asal penamaan salaf dan penisbahan diri kepada manhaj Salaf adalah sabda Nabi shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam kepada putrinya, Fathimah radhiyallâhu ‘anhâ,

فَإِنَّهُ نِعْمَ السَّلَفُ أَنَا لَكِ

“Karena sesungguhnya sebaik-baik salaf bagi kamu adalah saya.” (Dikeluarkan oleh Bukhâry no. 5928 dan Muslim no. 2450)

Maka jelaslah bahwa penamaaan salaf dan penisbahan diri kepada manhaj Salaf adalah perkara yang mempunyai landasan (pondasi) yang sangat kuat dan sesuatu yang telah lama dikenal tapi karena kebodohan dan jauhnya kita dari tuntunan syari’at yang dibawa oleh Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam, maka muncullah anggapan bahwa manhaj Salaf itu adalah suatu aliran, ajaran, atau pemahaman baru, dan anggapan-anggapan lainnya yang salah.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmû’ Fatâwa jilid 4 hal. 149, “Tidak ada celaan bagi orang yang menampakkan madzhab Salaf dan menisbahkan diri kepadanya dan merujuk kepadanya, bahkan wajib menerima hal tersebut menurut kesepakatan (para ulama). Karena sesungguhnya madzhab Salaf itu adalah tak lain kecuali kebenaran.”

Berikut ini saya akan memberikan beberapa contoh untuk menunjukkan bahwa penggunaan nama salaf sudah lama dikenal.

Berkata Imam Az-Zuhry (wafat 125 H) tentang tulang belulang bangkai seperti bangkai gajah dan lainnya, “Saya telah mendapati sekelompok dari para ulama Salaf mereka bersisir dengannya dan mengambil minyak darinya, mereka menganggap (hal tersebut) tidak apa-apa.” Lihat Shahîh Bukhâry bersama Fathul Bâry jilid 1 hal. 342.

Tentunya yang diinginkan dengan ulama Salaf oleh Az-Zuhry adalah para shahabat karena Az-Zuhry adalah seorang tabi’in (generasi setelah shahabat).

Dan Sa’ad bin Râsyid (wafat 213 H) berkata, “Adalah para salaf, lebih menyenangi tunggangan jantan karena lebih cepat larinya dan lebih berani.” Lihat Shahîh Bukhâry dengan Fathul Bâry jilid 6 hal. 66 dan Al-Hâfizh menafsirkan kata salaf, “Yaitu dari shahabat dan setelahnya.”

Berkata Imam Bukhâry (wafat 256 H) dalam Shahîh -nya dengan Fathul Bâry jilid 9 hal.552, “Bab bagaimana para ulama Salaf berhemat di rumah-rumah mereka dan di dalam perjalanan mereka dalam makanan, daging dan lainnya.”

Imam Ibnul Mubârak (wafat 181 H) berkata, “Tinggalkanlah hadits ‘Amr bin Tsâbit karena ia mencerca para ulama Salaf.” Baca Muqaddimah Shahîh Muslim jilid 1 hal. 16.

Tentunya yang diinginkan dengan kata salaf oleh Imam Bukhâry dan Ibnul Mubârak tiada lain kecuali para shahabat dan tabi’in.

Dan juga kalau kita membaca buku-buku yang berkaitan dengan pembahasan nasab, akan didapatkan para ulama yang menyebutkan tentang nisbah Salafy (penisbahan diri kepada jalan para ulama Salaf), dan ini lebih memperjelas bahwa nisbah kepada manhaj Salaf juga adalah sesuatu yang sudah lama dikenal di kalangan ulama.

Berkata As-Sam’âny dalam Al-Ansâb jilid 3 hal.273, “(Kata) Salafy dengan difathah (huruf sin-nya) adalah nisbah kepada As-Salaf dan mengikuti madzhab mereka.”

Dan berkata As-Suyûthy dalam Lubbul Lubâb jilid 2 hal. 22, “Salafy dengan difathah (huruf sin dan lam-nya) adalah penyandaran diri kepada madzhab As-Salaf.”

Berikut ini beberapa contoh para ulama yang dinisbahkan kepada manhaj (jalan) para ulama Salaf untuk menunjukkan bahwa mereka berada di atas jalan yang lurus yang bersih dari noda penyimpangan.

  1. Berkata Imam Adz-Dzahaby dalam Siyar A’lâm An-Nubalâ` jilid 13 hal. 183, setelah menyebutkan hikayat bahwa Ya’qub bin Sufyân Al-Fasawy rahimahullah menghina ‘Utsmân bin ‘Affân radhiyallahu ‘anhu , “Kisah ini terputus, Wallâhu A’lam. Dan saya tidak mengetahui Ya’qûb Al-Fasawy kecuali beliau itu adalah seorang Salafy , dan beliau telah mengarang sebuah kitab kecil tentang As-Sunnah.”
  2. Dan dalam biografi ‘Utsmân bin Jarzâd beliau berkata , “Untuk menjadi seorang Muhaddits (ahli hadits) diperlukan lima perkara, kalau satu perkara tidak terpenuhi maka itu adalah suatu kekurangan. Dia memerlukan : Akal yang baik, agama yang baik, dhabth (hafalan yang kuat), kecerdikan dalam bidang hadits serta dikenal darinya sifat amanah.”

Kemudian Adz-Dzahaby mengomentari perkataan tersebut, beliau berkata , “Amanah merupakan bagian dari agama dan hafalan bisa masuk kepada kecerdikan. Adapun yang dibutuhkan oleh seorang hâfizh (penghafal hadits) adalah : Dia harus seorang yang bertaqwa, pintar, ahli nahwu dan bahasa, bersih hatinya, senantiasa bersemangat, seorang Salafy , cukup bagi dia menulis dengan tangannya sendiri 200 jilid buku hadits dan memiliki 500 jilid buku yang dijadikan pegangan dan tidak putus semangat dalam menuntut ilmu sampai dia meninggal dengan niat yang ikhlas dan dengan sikap rendah diri. Kalau tidak memenuhi syarat-syarat ini maka janganlah kamu berharap.” Lihat dalam Siyar A’lâm An-Nubalâ` jilid 13 hal.280.

  1. Dan Adz-Dzahaby berkata tentang Imam Ad-Dâraquthny , “Beliau adalah orang yang tidak akan pernah ikut serta mempelajari ilmu kalam (ilmu mantik) dan tidak pula ilmu jidal (ilmu debat) dan beliau tidak pernah mendalami ilmu tersebut, bahkan beliau adalah seorang Salafy .” Baca Siyar A’lâm An-Nubalâ` jilid 16 hal.457.
  2. Dan dalam Tadzkirah Al-Huffâzh jilid 4 hal.1431 dalam biografi Ibnu Ash-Shalâh, berkata Imam Adz-Dzahaby , “Dan beliau adalah seorang Salafy yang baik aqidahnya.” Dan lihat : Thabaqât Al-Huffâzh jilid 2 hal.503 dan Siyar A’lâm An-Nubalâ` jilid 23 hal.142.
  3. Dalam biografi Imam Abul ‘Abbâs Ahmad bin ‘Isa bin ‘Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Qudâmah Al-Maqdasy, Imam Adz-Dzahaby berkata , “Beliau adalah seorang yang terpercaya, tsabt (kuat hafalannya), pandai, seorang Salafy ….” Baca Siyar A’lâm An-Nubalâ` jilid 23 hal.18.
  4. Dan dalam Biografi Abul Muzhaffar Ibnu Hubairah, Imam Adz-Dzahaby berkata , “Dia adalah seorang yang mengetahui madzhab dan bahasa arab dan ilmu ‘arûdh, seorang Salafy , Atsary.” Baca Siyar A’lâm An-Nubalâ` jilid 20 hal. 426.
  5. Berkata Imam Adz-Dzahaby dalam biografi Imam Az-Zabîdy , “Dia adalah seorang Hanafy, Salafy .” Baca Siyar A’lâm An-Nubalâ` jilid 20 hal. 316.
  6. Dan dalam Biografi Musa bin Ibrâhim Al-Ba’labakky, Imam Adz-Dzahaby berkata , “Dan demikian pula beliau seorang perendah hati, seorang Salafy . ” Lihat Mu’jamul Muhadditsîn hal. 283.
  7. Dan dalam biografi Muhammad bin Muhammad Al-Bahrany, Imam Adz-Dzahaby Berkata , “Dia seorang yang beragama, orang yang sangat baik, seorang Salafy .” Lihat Mu’jam Asy-Syuyûkh jilid 2 hal.280 (dinukil dari Al-Ajwibah Al-Mufîdah hal.18).
  8. Berkata Al-Hâfizh Ibnu Hajar Al-Asqalâny dalam Lisânul Mîzân Jilid 5 hal.348 dalam biografi Muhammad bin Qâsim bin Sufyân Abu Ishâq , “Dan Ia adalah Seorang yang bermadzhab Salafy .”

Penamaan-Penamaan Lain Ahlus Sunnah Wal Jamaah

Sebelum terjadi fitnah bid’ah perpecahan dan perselisihan dalam ummat ini, ummat Islam tidak dikenal kecuali dengan nama Islam dan kaum muslimin, kemudian setelah terjadinya perpecahan dan munculnya golongan-golongan sesat yang mana setiap golongan menyerukan dan mempropagandakan bid’ah dan kesesatannya dengan menampilkan bid’ah dan kesesatan mereka di atas nama Islam, maka tentunya hal tersebut akan melahirkan kebingungan ditengah-tengah ummat. Akan tetapi Allah Maha Bijaksana dan Maha Menjaga agama-Nya. Dialah Allah yang berfirman,

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dikr, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya.” [ Al-Hijr: 9 ]

Dan Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam bersabda,

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ ظَاهِرِيْنَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذَلِكَ

“Terus menerus ada sekelompok dari umatku yang mereka tetap nampak di atas kebenaran, tidak membahayakan mereka orang mencerca mereka sampai datang ketentuan Allah (hari kiamat) dan mereka dalam keadaan seperti itu.”

Maka para ulama Salaf waktu itu yang merupakan orang-orang yang berada di atas kebenaran dan yang paling memahami aqidah yang benar dan tuntunan syariat Islam yang dibawa oleh Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam yang murni yang belum ternodai oleh kotoran bid’ah dan kesesatan, mulailah mereka menampakkan penamaan-penamaan syariat diambil dari Islam guna membedakan pengikut kebenaran dari golongan-golongan sesat tersebut.

Berkata Imam Muhammad bin Sîrin rahimahullah,

لَمْ يَكُوْنُوْا يَسْأَلُوْنَ عَنِ الْإِسْنَادِ فَلَمَّا وَقَعَتِ الْفِتْنَةُ قَالُوْا سَمّوْا لَنَا رِجَالَكُمْ فَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ السُّنَّةِ فَيُؤْخَذُ حَدِيْثُهُمْ وَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ الْبِدَعِ فَلاَ يُؤْخَذُ حَدِيْثُهُمْ

“Tidaklah mereka (para ulama) bertanya tentang isnad (silsilah rawi). Tatkala terjadi fitnah, mereka pun berkata, ‘Sebutkanlah kepada kami rawi-rawi kalian maka dilihatlah kepada Ahlus Sunnah lalu diambil hadits mereka dan dilihat kepada Ahlil bid’ah dan tidak diambil hadits mereka.’.”

Maka Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, selain dikenal sebagai Salafiyah, juga mempunyai penamaan lain yang menunjukkan ciri dan kriteria mereka.

Berikut ini kami akan mencoba menguraikan penamaan-penamaan tersebut dengan ringkas.

  • Al-Firqah An-Nâjiyah

Al-Firqah An-Nâjiyah artinya golongan yang selamat. Penamaan ini diambil dari apa yang dipahami dari hadits perpecahan umat, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam menyatakan,

افْتَرَقَتِ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَإِنَّ أُمَّتِيْ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَةً وَهِيَ الْجَمَاعَةُ وَ فِيْ رِوَايَةٍ : مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيِوْمَ وَأَصْحَابِيْ.

“Telah terpecah orang–orang Yahudi menjadi tujuh puluh satu firqah (golongan) dan telah terpecah orang-orang Nashara menjadi tujuh puluh dua firqah dan sesungguhnya umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga firqah semuanya dalam neraka kecuali satu dan ia adalah Al-Jama’ah dalam satu riwayat, ‘Apa yang aku dan para shahabatkuberada di atasnya sekarang ini.’.” Hadits shahih, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albâny dalam Zhilâlul Jannah dan Syaikh Muqbil dalam Ash-Shahîh Al-Musnad Mimmâ Laisa Fî Ash-Shahihain rahimahumullah.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Minhâj As-Sunnah jilid 3 hal. 345, “Maka apabila sifat Al-Firqah An-Nâjiyah mengikuti para shahabat di masa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam dan itu adalah syi’ar (ciri, simbol) Ahlus Sunnah maka Al-Firqah An-Nâjiyah mereka adalah Ahlus Sunnah.”

Dan beliau juga menyatakan dalam Majmû Al Fatâwâ jilid 3 hal. 345, “Karena itu beliau (Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam) menyifati Al-Firqah An-Nâjiyah bahwa ia adalah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dan mereka adalah jumhur yang paling banyak dan As-Sawâd Al-A’zham (kelompok yang paling besar).”

Berkata Syaikh Hâfizh Al-Hakamy, “Telah dikabarkan oleh Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam -yang selalu benar dan dibenarkan- bahwa Al-Firqah An-Nâjiyah mereka adalah siapa yang di atas seperti apa yang beliau dan para shahabatnya berada di atasnya, dan sifat ini hanyalah cocok bagi orang-orang yang membawa dan menjaga sifat itu, tunduk kepadanya lagi berpegang teguh dengannya. mereka yang saya maksud ini adalah para imam hadits dan para tokoh (pengikut) Sunnah.” Lihat Ma’ârijul Qabûl jilid 1 hal.19.

Maka nampaklah dari keterangan di atas asal penamaan Al-Firqah An-Nâjiyah dari hadits Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam.

Diringkas dari Mauqif Ahlus Sunnah Wal Jamâ’ah Min Ahli Ahwâ`i Wal Bid’ah jillid 1 hal. 54-59.

Dan Berkata Syaikh Muqbil bin Hâdi Al Wâd’iy rahimahullah setelah meyebutkan dua hadits tentang perpecahan umat, “Dua hadits ini dan hadits-hadits yang semakna dengannya menunjukkan bahwa tidak ada yang selamat kecuali satu golongan dari tujuh puluh tiga golongan, dan adapun golongan-golongan yang lain di neraka, (sehingga) mengharuskan setiap muslim mencari Al-Firqah An-Nâjiyah sehingga teratur menjalaninya dan mengambil agamanya darinya.” Lihat Riyâdhul Jannah Fir Raddi ‘Alâ A’dâ`is Sunnah hal. 22.

  • Ath-Thâifah Al Manshûrah

Ath-Thâifah Al-Manshûrah artinya kelompok yang mendapatkan pertolongan. Penamaan ini berdasarkan hadits Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam,

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ ظَاهِرِيْنَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذَلِكَ

“Terus menerus ada sekelompok dari ummatku yang mereka tetap nampak di atas kebenaran, tidak membahayakan mereka orang mencerca mereka sampai datang ketentuan Allah (hari kiamat) dan mereka dalam keadaan seperti itu.” (Dikeluarkan oleh Muslim dari hadits Tsaubân dan semakna dengannya diriwayatkan oleh Bukhâry dan Muslim dari hadits Mughîrah bin Syu’bah dan Mu’âwiyah dan diriwayatkan oleh Muslim dari Jâbir bin ‘Abdillah. Dan hadits ini merupakan hadits mutawâtir sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Iqtidhâ` Ash-Shirâth Al-Mustaqîm 1/69, Imam As-Suyûthy dalam Al-Azhâr Al-Mutanâtsirah hal. 216 dan dalam Tadrîb Ar-Râwi , Al Kattâny dalam Nazham Al-Mutanâtsirah hal. 93 dan Az-Zabîdy dalam Laqthul ‘Alâ`i hal. 68-71) Lihat Bashâir Dzawisy Syaraf Bimarwiyâti Manhaj As-Salaf

Berkata Imam Bukhâry tentang Ath-Thâifah Al-Manshûrah, “Mereka adalah para ulama.”

Berkata Imam Ahmad, “Kalau mereka bukan Ahli Hadits, saya tidak tahu siapa mereka.”

Al-Qâdhi Iyâdh mengomentari perkataan Imam Ahmad dengan berkata, “Yang diinginkan oleh (Imam Ahmad) adalah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dan siapa yang meyakini madzhab Ahlul Hadits.” Lihat Mauqif Ahlus Sunnah Wal Jamâ’ah 1/59-62.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Muqaddimah Al-‘Aqidah Al-Wasithiyah , “‘Amma ba’du; Ini adalah i’tiqâd (keyakinan) Al Firqah An-Nâjiyah, (Ath-Thâifah) Al-Manshûrah sampai bangkitnya hari kiamat, (mereka) Ahlus Sunnah.”

Dan di akhir Al-‘Aqidah Al-Wasithiyah , ketika memberikan definisi tentang Ahlus Sunnah, beliau berkata, “Dan mereka adalah Ath-Thâifah Al-Manshûrah yang Nabi shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam bersabda tentang mereka, ‘Terus menerus sekelompok dari umatku berada di atas kebenaran, manshûrah (tertolong) tidak membahayakan mereka orang yang menyelisihi dan mencerca mereka sampai hari kiamat.’ Mudah-mudahan Allah menjadikan kita bagian dari mereka dan tidak memalingkan hati-hati kita setelah mendapatkan petunjuk.”

Lihat Bashâir Dzawisy Syaraf Bimarwiyâti Manhaj As-Salaf hal. 97-110.

  • Ahlul Hadits

Ahlul Hadits dikenal juga dengan Ashhâbul hadits atau Ashhâbul Atsar. Ahlul hadits artinya orang yang mengikuti hadits Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam. Istilah Ahlul hadits ini juga merupakan salah satu nama dan kriteria Salafiyah atau Ahlus Sunnah Wal Jamaah atau Ath-Thâifah Al-Manshûrah.

Berkata Ibnul Jauzi, “Tidak ada keraguan bahwa Ahlun Naql Wal Atsar (Ahlul Hadits) yang mengikuti jejak-jejak Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam mereka di atas jalan yang belum terjadi bid’ah.”

Berkata Al-Khathîb Al-Baghdâdy dalam Ar-Rihlah Fî Thalabil Hadits hal. 223, “Dan sungguh (Allah) Rabbul ‘alamin telah menjadikan Ath-Thâifah Al-Manshûrah sebagai penjaga agama dan telah dipalingkan dari mereka makar orang-orang yang keras kepala karena mereka berpegang teguh dengan syariat (Islam) yang kokoh dan mereka mengikuti jejak para shahabat dan tabi’in.”

Dan telah sepakat perkataan para ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaah bahwa yang dimaksud dengan Ath-Thâifah Al-Manshûrah adalah para ulama SalafAhlul Hadits. Hal ini ditafsirkan oleh banyak imam yakni ‘Abdullah bin Mubârak, ‘Ali bin Madîny, Ahmad bin Hambal, Bukhâry, Al-Hâkim, dan lain-lainnya. Perkataan-perkataan para ulama tersebut diuraikan dengan panjang lebar oleh Syaikh Rabi’ bin Hâdy Al-Madkhaly dan Syaikh Al-Albâny dalam Silsilah Al-Ahâdîts Ash-Shahîhah hadits no. 270.

Lihat Haqîqatul Bid’ah 1/269-272, Mauqif Ibnu Taimiyah 1/32-34, Ahlul Hadits Wa Ath-Thâifah Al-Manshûrah An-Nâjiyah , Limâdzâ Ikhtartu Al-Manhaj As-Salafy , Bashâir Dzawisy Syaraf Bimarwiyâti Manhaj As-Salaf dan Al-Intishâr Li Ashhâbil Hadîts karya Muhammad ‘Umar Ba Zamûl.

  • Al-Ghurabâ`

Al-Ghurabâ` artinya orang-orang yang asing. Asal penyifatan ini adalah sabda Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam dalam hadits Abu Hurairah riwayat Muslim no. 145,

بَدَأَ الْإِسْلاَمُ غَرِيْبًا وَسَيَعُوْدُ غَرِيْبًا كَمَا بَدَأَ فَطُوْبَى لِلْغُرَبَاءِ

“Islam mulai muncul dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana awal munculnya maka beruntunglah orang-orang asing itu.” Hadits ini mutawâtir.

Berkata Imam Al-Âjurry dalam Sifatil Ghurabâ` Minal Mu’minîn hal. 25, “Dan perkataan (Nabi) shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam , ‘Dan akan kembali asing,’ maknanya, Wallâhu A’lam, bahwa sesungguhnya hawa nafsu yang menyesatkan akan menjadi banyak sehingga banyak dari manusia tersesat karenanya dan akan tetap ada Ahlul Haq yang berjalan di atas syariat Islam dalam keadaan asing di mata manusia, tidakkah kalian mendengar perkataan Nabi shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam, ‘Akan terpecah ummatku menjadi 73 golongan semuanya masuk neraka kecuali satu,’ maka dikatakan, ‘siapa mereka yang tertolong itu?’ maka kata Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam, ‘Apa-apa yang saya dan para shahabatku berada di atasnya pada hari ini..

Berkata Imam Ibnu Rajab dalam Kasyful Kurbah Fî Washfi Hâli Ahlil Ghurbah hal. 22-27, “Adapun fitnah syubhât (kerancuan-kerancuan) dan pengikut hawa nafsu yang menyesatkan sehingga hal tersebut menyebabkan terpecahnya Ahlul Qiblah (kaum muslimin) dan menjadilah mereka berkelompok-kelompok, sebagian dari mereka mengkafirkan yang lainnya dan mereka menjadi saling bermusuhan, bergolong-golongan dan berpartai-partai setelah mereka dulunya sebagai saudara dan hati-hati mereka di atas hati satu orang (Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam) sehingga tidak akan selamat dari kelompok-kelompok tersebut kecuali satu golongan yang selamat. Mereka inilah yang disebut dalam sabda Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam, ‘Terus menerus ada diantara umatku satu kelompok yang menampakkan kebenaran, tidak mencelakakan mereka orang-orang yang menghinakan dan membenci mereka sampai datang ketetapan Allah Subhânahu wa Ta’âla (hari kiamat) dan mereka tetap dalam keadaan tersebut.’ Mereka inilah Al-Ghurabâ` di akhir zaman yang tersebut dalam hadits-hadits ini ….”

Demikianlah penamaan-penamaan syariat bagi pengikut Al-Qur`ân dan Sunnah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam sesuai dengan pemahaman para ulama Salaf, yang apabila dipahami dengan baik akan menambah keyakinan akan wajibnya mengikuti jalan para ulama Salaf dan kebenaran jalan mereka serta keberuntungan orang-orang yang mengikuti jalan mereka.

Cukuplah sebagai satu keistimewaan yang para Salafiyun berbangga dengannya bahwa penamaan-penamaan ini semuanya dari Islam dan menggambarkan Islam hakiki yang dibawa oleh Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa âlihiwa sallam dan tentunya hal ini sangat membedakan Salafiyun dengan ahlul bid’ah yang bernama atau dinamakan dengan penamaan-penamaan yang hanya sekedar menampakkan bid’ah, pimpinan atau kelompok mereka seperti Tablighy nisbah kepada Jama’ah Tabligh yang didirikan oleh Muhammad Ilyâs, Ikhwany nisbah kepada gerakan Ikhwanul Muslimin yang dipelopori oleh Hasan Al-Banna, Surûry nisbah kepada kelompok atau pemikiran Muhammad Surur Zainal ‘Âbidîn, Jahmy nisbah kepada Jahm bin Sofwân pembawa bendera keyakinan bid’ah bahwa Al-Qur`ân adalah makhluk. Mu’tazily nisbah kepada kelompok pimpinan ‘Athâ` bin Wâshil yang menyendiri dari halaqah Hasan Al-Bashry. Asy’ary nisbah kepada pemikiran Abu Hasan Al-Asy’ary yang kemudian beliau bertobat dari pemikiran sesatnya. Syi’iy nisbah kepada kelompok Syi’ah yang mengaku mencintai keluarga Nabi shallallâhu ‘alaihi wa âlihiwa sallam, dan masih ada ratusan penamaan lain, sangat meletihkan untuk menyebutkan dan menguraikan seluruh penamaan tersebut, maka nampaklah dengan jelas bahwa penamaan Salafiyun-Ahlus Sunnah Wal Jamaah-Ath- Thâifah Al-Manshûrah -Al-Firqah An-Nâjiyah-Ahlul Hadits adalah sangat berbeda dengan penamaan-penamaan yang dipakai oleh golongan-golongan yang menyimpang dari beberapa sisi:

Pertama , penamaan-penamaan syariat ini adalah nisbah kepada generasi awal umat Islam yang berada di atas tuntunan Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihiwa sallam, maka penamaan ini akan mencakup seluruh umat pada setiap zaman yang berjalan sesuai dengan jalan generasi awal tersebut baik dalam mengambil ilmu atau dalam pemahaman atau dalam berdakwah dan lain-lainnya.

Kedua , kandungan dari penamaan-penamaan syariat ini hanyalah menunjukkan tuntunan Islam yang murni yaitu Al-Qur`ân dan sunnah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam tanpa ada penambahan atau pengurangan sedikit pun.

Ketiga , asal penamaan-penamaan ini mempunyai dalil dari sunnah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam.

Keempat , penamaan-penamaan ini hanyalah muncul untuk membedakan antara pengikut kebenaran dengan jalan para pengekor hawa nafsu dan golongan-golongan sesat, dan sebagai bantahan terhadap bid’ah dan kesesatan mereka.

Kelima , ikatan wala’ (loyalitas) dan bara’ (kebencian, permusuhan) bagi orang-orang yang bernama dengan penamaan ini, hanyalah ikatan wala’ dan bara’ di atas Islam (Al-Qur`ân dan Sunnah) bukan ikatan wala’ dan bara’ karena seorang tokoh, pemimpin, kelompok, organisasi dan lain-lainnya.

Keenam , tidak ada fanatisme bagi orang-orang yang memakai penamaan-penamaan ini kecuali kepada Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihiwasallam karena pemimpin dan panutan mereka hanyalah satu yaitu Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam, berbeda dengan orang-orang yang menisbahkan dirinya ke penamaan-penamaan bid’ah fanatismenya untuk golongan, kelompok/pemimpin.

Ketujuh , penamaan-penamaan ini sama sekali tidak akan menjerumuskan ke dalam suatu bid’ah, maksiat maupun fanatisme kepada seseorang atau kelompok dan lain-lainnya.

Lihat Hukmul intimâ` hal. 31-37 dan Mauqif Ahlus Sunnah wal Jamâ’ah 1/46-47.

Wallâhu Ta’âla a’lam.

SUMBER http://an-nashihah.com/?p=18

Ustadz Abu Muhammad Dzulqarnain

Dewasa ini marak pengakuan dari berbagai pihak yang mengklaim dirinya Ahlus Sunnah Wal Jama’ah sehingga menyebabkan adanya kerancuan dan kebingungan dalam persepsi banyak orang tentang Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, siapakah sebenarnya Ahlus Sunnah Wal Jama’ah itu ?

Jawab :

Mengetahui siapa Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah perkara yang sangat penting dan salah satu bekal yang harus ada pada setiap muslim yang menghendaki kebenaran sehingga dalam perjalanannya di muka bumi ia berada di atas pijakan yang benar dan jalan yang lurus dalam menyembah Allah Subhaanahu wa Ta’aala sesuai dengan tuntunan syariat yang hakiki yang dibawa oleh Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam empat belas abad yang lalu.

Pengenalan akan siapa sebenarnya Ahlus Sunnah Wal Jama’ah telah ditekankan sejak jauh-jauh hari oleh Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam kepada para sahabatnya ketika beliau berkata kepada mereka :

افْتَرَقَتِ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَإِنَّ أُمَّتِيْ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَةً وَهِيَ الْجَمَاعَةُ

“Telah terpecah orang–orang Yahudi menjadi tujuh puluh satu firqoh (golongan) dan telah terpecah orang-orang Nashoro menjadi tujuh puluh dua firqoh dan sesungguhnya umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga firqoh semuanya dalam neraka kecuali satu dan ia adalah Al-Jama’ah ”. Hadits shohih dishohihkan oleh oleh Syaikh Al-Albany dalam Dzilalil Jannah dan Syaikh Muqbil dalam Ash-Shohih Al-Musnad Mimma Laisa Fi Ash-Shohihain -rahimahumullahu-.

Demikianlah umat ini akan terpecah, dan kebenaran sabda beliau telah kita saksikan pada zaman ini yang mana hal tersebut merupakan suatu ketentuan yang telah ditakdirkan oleh Allah Subhaanahu wa Ta’aala Yang Maha Kuasa dan merupakan kehendak-Nya yang harus terlaksana dan Allah Subhaanahu wa Ta’aala Maha Mempunyai Hikmah dibelakang hal tersebut.

Syaikh Sh oleh bin Fauzan Al-Fauzan -hafidzahullahu- menjelaskan hikmah terjadinya perpecahan dan perselisihan tersebut dalam kitab Lumhatun ‘Anil Firaq cet. D arus Salaf hal.23-24 beliau berkata : “(Perpecahan dan perselisihan-ed.) merupakan hikmah dari Allah Subhaanahu wa Ta’aala guna menguji hamba-hambaNya hingga nampaklah siapa yang mencari kebenaran dan siapa yang lebih mementingkan hawa nafsu dan sikap fanatisme.

Allah I berfirman :

“Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (begitu saja) mengatakan : "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sungguh Allah Maha Mengetahui orang-orang yang benar dan sungguh Dia Maha Mengetahui orang-orang yang dusta”. (QS. Al-‘Ankab ut : 29 / 1-3).

Dan Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman :

“Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan : “Sesungguhnya Aku akan memenuhi Neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya ” . (QS. H ud : 10 / 118-119)

" Dan kalau Allah menghendaki tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk, sebab itu janganlah kamu sekali-kali termasuk orang-orang yang jahil”. (QS. Al-‘An’ am : 6 / 35).”

Dan Allah ’Azza wa Jalla Maha Bijaksana dan Maha Merahmati hambaNya. Jalan kebenaran telah dijelaskan dengan sejelas-jelasnya sebagaimana dalam sabda Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam :

قَدْْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْمَحَجَّةِ الْبَيْضَاءِ لَيْلِهَا كَنَهَارِهَا لاَ يَزِيْغُ عَنْهَا بَعْدِيْ إِلاَّ هَالِكٌ

“Sungguh saya telah meninggalkan kalian di atas petunjuk yang sangat terang malamnya seperti waktu siangnya tidaklah menyimpang darinya setelahku kecuali orang yang binasa”. Hadits Shohih dishohihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Dzilalul Jannah.

Dan dalam hadits ‘Abdullah bin Mas’ud -radhiyallahu ‘anhu- :

خَطَّ لَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا خَطًّا ثُمَّ قَالَ هَذَا سَبِيْلُ اللهِ ثُمَّ خَطَّ خُطُوْطًا عَنْ يَمِيْنِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ هَذِهِ سُبُلٌ عَلَى كُلِّ سَبِيْلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُوْ إِلَيْهِ ثُمَّ تَلاَ ] وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِيْ مُسْتَقِيْمًا فَاتَّبِعُوْهُ وَلاَ تَتَّبِعُوْا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيْلِهِ [

“Pada suatu hari Rasulullah r menggaris di depan kami satu garisan lalu beliau berkata : “Ini adalah jalan Allah”. Kemudian beliau menggaris beberapa garis di sebelah kanan dan kirinya lalu beliau berkata : “Ini adalah jalan-jalan, yang di atas setiap jalan ada syaithon menyeru kepadanya”. Kemudian beliau membaca (ayat) : “Dan sesungguhnya ini adalah jalanKu maka ikutilah jalan itu dan jangan kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain) maka kalian akan terpecah dari jalanNya”. (QS. Al ‘An’am : 6 / 153 )” .

Diriwayatkan oleh : Abu Daud Ath-Thoy alisy dalam Musnadnya no. 244, Ath-Thobary dalam Tafsirnya 8/88, Muhammad bin Nashr Al-Marwazy dalam As-Sunnah no.11, Sa’id bin Manshur dalam Tafsirnya 5/113 no 935, Ahmad 1/435, Ad Darimy 1/78 no 202, An-Nasai dalam Al-Kubro 5/94 no.8364 dan 6/343 no.11174, Ibnu Hibban sebagaimana dalam Al-Ihsan 1/180-181 no.6-7 dan dalam Al-Mawarid no 1741, Al-Hakim dalam Mustadraknya 2/348, Asy-Syasyi dalam Musnadya 2/48-51 no.535-537, Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 6/263 dan Al-Lalaka’i dalam Syarah Ushul I’tiqod Ahlis Sunnah Wal Jama’ah 1/80-81. Dan hadits ini dishohihkan oleh Syaikh Al-Albany dan Syaikh Muqbil dalam Ash-Shohih Al-Musnad Mimma Laisa Fi Ash-Shohihain.

Adapun penamaan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah ini akan diuraikan dari beberapa sisi :

Pertama : Definisi Sunnah.

Sunnah secara lughoh (bahasa) : berarti jalan, baik maupun jelek, lurus maupun sesat, demikianlah dijelaskan oleh Ibnu Manzhur dalam Lisanul ‘Arab 17/89 dan Ibnu An-Nahhas.

Makna secara lughoh itu terlihat dalam hadits Jarir bin ‘Abdullah. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَنْ سْنَّ فِي الإِْ سْلاَمِ سُنُّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ وَمَنْ سَنَّ فِي الإِْ سْلاَمِ سُنُّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مَنْ بَعْدَهُ

“Siapa yang membuat sunnah yang baik maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengerjakannya setelahnya dan siapa yang membuat sunnah yang jelek maka atasnya dosanya dan dosa orang yang melakukannya setelahnya”. Dikeluarkan oleh Muslim dalam Shohih nya no.1017.

Lihat Mauqif Ahlis Sunnah Min Ahlil Bid’ah Wal Ahwa`i 1/29-33 dan Manhaj Ahlus Sunnah Wal Jam a’ah Wa Manhajul Asya’irah Fi Tauhidillah I/19.

Adapun secara istilah : Sunnah mempunyai makna khusus dan makna umum. Dan yang diinginkan di sini tentunya adalah makna umum.

Adapun makna sunnah secara khusus yaitu makna menurut istilah para ulama dalam suatu bidang ilmu yang mereka tekuni :

  • Para ulama ahli hadits mendefinisikan sunnah sebagai apa-apa yang disandarkan kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam baik itu perkataan, perbuatan, taqrir (persetujuan-pen.) maupun sifat lahir dan akhlak.
  • Para ulama ahli ushul fiqh mendefinisikan sunnah sebagai apa-apa yang datang dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam selain dari Al-Qur’an, sehingga meliputi perkataan beliau, pekerjaan, taqrir, surat, isyarat, kehendak beliau melakukan sesuatu atau apa-apa yang beliau tinggalkan.
  • Para ulama fiqh memberikan definisi sunnah sebagai hukum yang datang dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam di bawah hukum wajib.

Adapun makna umum sunnah adalah Islam itu sendiri secara sempurna yang meliputi aqidah, hukum, ibadah dan seluruh bagian syariat.

Berkata Imam Al-Barbahary : “Ketahuilah sesungguhnya Islam itu adalah sunnah dan sunnah adalah Islam dan tidaklah tegak salah satu dari keduanya kecuali dengan yang lainnya” (lihat : Syarh As-Sunnah hal.65 point 1).

Berkata Imam Asy-Sy athiby dalam Al-Muwafaq ot 4/4 : “(Kata sunnah) digunakan sebagai kebalikan/lawan dari bid’ah maka dikatakan : “Si fulan di atas sunnah” apabila ia beramal sesuai dengan tuntunan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam yang sebelumnya hal tersebut mempunyai nash dari Al-Qur’an, dan dikatakan “Si Fulan di atas bid’ah” apabila ia beramal menyelisihi hal tersebut (sunnah)”.

Syaikhul Islam dalam Majmu’ Fat aw a 4/180 menukil dari Imam Abul Hasan Muhammad bin ‘Abdul Malik Al-Karkhy beliau berkata : “Ketahuilah… bahwa sunnah adalah jalan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam dan mengupayakan untuk menempuh jalannya dan ia (sunnah) ada 3 bagian : perkataan, perbuatan dan aqidah”.

Berkata Imam Ibnu Rajab -rahimahullahu ta’ala- dalam Jami’ Al-‘Ulum Wal Hikam hal. 249 : “Sunnah adalah jalan yang ditempuh, maka hal itu akan meliputi berpegang teguh terhadap apa-apa yang beliau r berada di atasnya dan para khalifahnya yang mendapat petunjuk berupa keyakinan, amalan dan perkataan. Dan inilah sunnah yang sempurna, karena itulah para ulama salaf dahulu tidak menggunakan kalimat sunnah kecuali apa-apa yang meliputi seluruh hal yang tersebut di atas”. Hal ini diriwayatkan dari Hasan, Al-Auza’iy dan Fudhail bin ‘Iyadh”.

Demikianlah makna sunnah secara umum dalam istilah para ‘ulama -rahimahumullah- dan hal itu adalah jelas bagi siapa yang melihat karya-karya para ulama yang menamakan kitab mereka dengan nama As-Sunnah dimana akan terlihat bahwa mereka menginginkan makna sunnah secara umum seperti :

  • Kitab As-Sunnah karya Ibnu Abi ‘Ashim.
  • Kitab As-Sunnah karya Imam Ahmad.
  • Kitab As-Sunnah karya Ibnu Nashr Al-Marwazy.
  • Kitab As-Sunnah karya Al-Khallal.
  • Kitab As-Sunnah karya Abu Ja’far At-Thobary.
  • Kitab Syarh As-Sunnah karya Imam Al-Barbahary.
  • Kitab Syarh As-Sunnah karya Al-Baghawy.
  • dan lain-lainnya.

Lihat : Mauqif Ahlis Sunnah 1/29-35, Haqiqatul Bid’ah 1/63-66 dan Manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Wa Manhajul Asya’irah 1/19-23.

Kedua : Makna Ahlus Sunnah.

Penjelasan makna sunnah di atas secara umum akan memberikan gambaran tentang makna Ahlus Sunnah (pengikut sunnah-ed.).

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa jilid 3 hal.375 ketika memberikan defenisi tentang Ahlus Sunnah : “Mereka adalah orang-orang yang berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam dan apa-apa yang disepakati oleh orang-orang terdahulu yang pertama dari kalangan sahabat Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik”.

Berkata Ibnu Hazm dalam Al-Fishal jilid 2 hal. 281 : “Dan Ahlus Sunnah -yang kami sebutkan- adalah ahlul haq (pengikut kebenaran) dan selain mereka adalah ahlul bid’ah (pengikut perkara-perkara baru dalam agama), maka mereka (ahlus sunnah) adalah para sahabat -radhiyallahu ‘anhum- dan siapa saja yang menempuh jalan mereka dari orang-orang pilihan di kalangan tabi’in kemudian Ashhabul Hadits dan siapa yang mengikuti mereka dari para ahli fiqh zaman demi zaman sampai hari kita ini dan orang-orang yang mengikuti mereka dari orang awam di Timur maupun di Barat bumi -rahmatullahi ’alaihim- ”.

Dan Ibnul Jauzy berkata dalam Talb is Iblis hal.21 : “Tidak ada keraguan bahwa ahli riwayat dan hadits yang mengikuti jejak Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam dan jejak para sahabatnya mereka itulah Ahlus Sunnah karena mereka di atas jalan yang belum terjadi perkara baru padanya. Perkara baru dan bid’ah hanyalah terjadi setelah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya”.

Berkata Syaikhul Islam dalam Majmu’ Fataw a 3/157 :” Termasuk jalan Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah mengikuti jejak-jejak Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam secara zhohir dan batin dan mengikuti jalan orang-orang terdahulu yang pertama dari para (sahabat) Muhajirin dan Anshar dan mengikuti wasiat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam tatkala berkata : “Berpeganglah kalian pada sunnahku dan sunnah para khalifah yang mendapat petunjuk dan hidayah setelahku berpeganglah kalian dengannya dan gigitlah dengan gigi geraham kalian dan berhati-hatilah kalian dari perkara yang baru karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat’.”

Dan beliau berkata dalam Majmu’ Fataw a 3/375 ketika memberikan defenisi tentang Ahlus Sunnah : “Mereka adalah orang-orang yang berpegang teguh dengan kitab Allah dan sunnah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam dan apa-apa yang disepakati oleh generasi dahulu yang pertama dari kaum Muhajirin dan Anshar dan yang mengikuti mereka dengan baik”.

Dan di dalam Majmu’ Fatawa 3/346 beliau berkata : “Siapa yang berkata dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah dan Ijma’ maka ia termasuk Ahlus Sunnah Wal Jama’ah“.

Berkata Abu Nashr As-Sijzy : “Ahlus Sunnah adalah mereka yang kokoh di atas keyakinan yang dinukil kepada mereka olah para ulama Salafus Sholeh -mudah-mudahan Allah Subhaanahu wa Ta’aala merahmati mereka – dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam atau dari para sahabatnya -radhiyallahu ‘anhum- pada apa-apa yang tidak ada nash dari Al-Qur’an dan dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam , karena mereka itu -radhiyallahu ‘anhum- para Imam dan kita telah diperintahkan mengikuti jejak-jejak mereka dan sunnah mereka, dan ini sangat jelas sehingga tidak butuh ditegakkannya keterangan tentangnya”.

(Lihat : Ar-Raddu ‘ Ala Man Ankaral Harf hal.99)

Maka jelaslah dari keterangan-keterangan di atas dari para Imam tentang makna penamaan Ahlus Sunnah bahwa Ahlus Sunnah adalah orang-orang yang menerapkan Islam secara keseluruhan sesuai dengan petunjuk Allah Subhaanahu wa Ta’aala dan Rasul-Nya berdasarkan pemahaman para ulama salaf dari kalangan para sahabat, tabi’in dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik .

Dan tentunya merupakan suatu hal yang sangat jelas bagi orang yang memperhatikan hadits-hadits Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam akan disyariatkannya penamaan Ahlus Sunnah terhadap orang-orang yang memenuhi kriteria-kriteria di atas.

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam menyatakan dalam hadits ‘Irbadh bin Sariyah -radhiyallahu ’anhu- :

صَلَّى لَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ صَلاَةَ الصُّبْحِ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا فَوَعَظَنَا مَوْعِظَةً وَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوْبُ وَذَرِفَتْ مِنْهَا الْعُيُوْنُ فَقُلْنَا يَا رَسُوْلَ اللهِ كَأَنَّهَا مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَأَوْصِنَا قَالَ أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِيٌ فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُ مُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Rasulullah sholat bersama kami sholat Shubuh, kemudian beliau menghadap kepada kami kemudian menasehati kami dengan suatu nasehat yang hati bergetar karenanya dan air mata bercucuran, maka kami berkata : “Yaa Rasulullah seakan-akan ini adalah nasehat perpisahan maka berwasiatlah kepada kami”. Maka beliau bersabda : “Saya wasiatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah dan mendengar serta taat walaupun yang menjadi pemimpin atas kalian seorang budak dari Habasyah (sekarang Ethopia) karena sesungguhnya siapa yang hidup di antara kalian maka ia akan melihat perselisihan yang sangat banyak maka berpegang teguhlah kalian kepada sunnahku dan kepada sunnah para Khalifah Ar-Rasyidin yang mendapat petunjuk, gigitlah ia dengan gigi geraham dan hati-hatilah kalian dengan perkara yang baru, karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah .”. Hadits shohih dari seluruh jalan-jalannya.

Dan masih banyak lagi dalil yang menunjukkan hal di atas. Wallahu a’lam.

Lihat : Mauqif Ahlis Sunnah Wal Jama’ah 1/36-37, 47-49, Haqiqatul Bid’ah 1/63-66, 268-269 dan Manhaj Ahlus Sunnah 1/19-20, 24-27.

Ketiga : Definisi Jama’ah.

Jama’ah secara lughoh : Dari kata Al-Jama’ bermakna menyatukan sesuatu yang terpecah, maka jama’ah adalah lawan kata dari perpecahan.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa 2/157 : “Dan mereka dinamakan Ahlul Jama’ah karena Al-Jama’ah adalah persatuan dan lawannya adalah perpecahan.”

Adapun secara istilah para ulama berbeda penafsiran tentang makna jama’ah yang tersebut di dalam hadits-hadits Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam , di antara hadits-hadits itu adalah :

Satu : Hadits perpecahan ummat yang telah disebutkan di atas

Dua : Wasiat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam kepada Hudzaifah dalam hadits riwayat Bukhory-Muslim , beliau berkata :

تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَإِمَامَهُمْ

“Engkau komitmen dengan jama’ah kaum muslimin dan Imamnya .”

Tiga : Hadits Ibnu ‘Abbas riwayat Bukhory-Muslim Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شَيْئًا فَمَاتَ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً

“Karena sesungguhnya siapa yang berpisah dengan Al-Jama’ah sedikitpun kemudian ia mati maka matinya adalah mati jahiliyah” .

Empat : Hadits Ibnu ‘Abbas Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

يَدُ اللهِ مَعَ الْجَمَاعَةِ

“Tangan Allah di atas Al-Jama’ah” .

Dari hadits-hadits di atas dan yang semisalnya para ulama berbeda di dalam menafsirkan kalimat Al-Jama’ah yang terdapat di dalam hadits-hadits tersebut sehingga ditemukan ada enam penafsiran :

Pertama : Jama’ah adalah Assawadul A’zhom (kelompok yang paling besar dari umat Islam). Ini adalah pendapat Abu Mas’ud Al-Anshory, ‘Abdullah bin Mas’ud dan Abu Ghalib.

Kedua : Al-Jama’ah adalah jama’ah ulama ahli ijtihad atau para ulama hadits, dikatakan bahwa mereka ini adalah jama’ah karena Allah Subhaanahu wa Ta’aala menjadikan mereka hujjah terhadap makhluk dan manusia ikut pada mereka pada perkara agama.

Berkata Imam Al-Bukhory menafsirkan jama’ah : ”Mereka adalah ahlul ‘ilmi (para ulama)”.

Dan Imam Ahmad berkata tentang jama’ah : ”Apabila mereka bukan Ashhabul Hadits (ulama hadits) maka saya tidak tahu lagi siapa mereka”.

Dan Imam Tirmidzi berkata : ”Dan penafsiran jama’ah di kalangan para ulama bahwa mereka adalah ahli fiqh, (ahli) ilmu dan (ahli) hadits”.

Dan ini merupakan pendapat ‘Abdullah bin Mubarak, Ishaq bin Rahaway, ‘Ali bin Al-Madiny, ‘Amr bin Qais dan sekelompok dari para ulama salaf dan juga merupakan pendapat ulama ushul fiqh.

Ketiga : Al-Jama’ah adalah para sahabat. Hal ini berdasarkan hadits perpecahan umat yang di sebahagian jalannya disebutkan bahwa yang selamat adalah Al-Jama’ah dan dalam riwayat yang lain : “Apa-apa yang aku dan para sahabatku berada di atasnya”. Dan ini adalah pendapat “Umar bin ‘Abdil ‘Aziz dan Imam Al-Barbahary.

Keempat : Al-Jama’ah adalah jama’ah umat Islam apabila mereka bersepakat atas satu perkara dari perkara-perkara agama. Pendapat ini disebutkan oleh Imam Asy-Syathiby.

Kelima : Al-Jama’ah adalah jama’ah kaum muslimin apabila mereka bersepakat di bawah seorang pemimpin. Ini adalah pendapat Imam Ibnu Jarir Ath-Thobary dan Ibnul Atsir.

Keenam : Al-Jama’ah adalah jama’ah kebenaran dan pengikutnya. Ini adalah pendapat Imam Al Barbahary dan Ibnu Katsir.

Demikianlah penafsiran-penafsiran para ulama tentang makna Al-Jama’ah, yang semuanya itu akan membawa kepada kesimpulan-kesimpulan sebagai berikut :

  • Penafsiran-penafsiran tersebut walaupun saling berbeda lafadz dan konteksnya akan tetapi tidak saling bertentangan bahkan saling melengkapi makna maupun kriteria Al-Jama’ah.
  • Maka jelaslah bahwa makna Al-Jama’ah yang dikatakan sebagai golongan yang selamat dan pengikut kebenaran adalah Islam yang hakiki yang belum dihinggapi oleh noda yang mengotorinya.
  • Mungkin bisa disimpulkan dari penafsiran-penafsiran Al-Jama’ah di atas bahwa makna Al-Jama’ah kembali kepada dua perkara :

Satu : Jama’ah yang berarti bersatu di bawah kepemimpinan seorang pemerintah sesuai dengan ketentuan syariat maka wajib untuk komitmen terhadap jama’ah ini dan diharamkan untuk keluar darinya dan mengadakan kudeta terhadap pemimpinnya .

Dua : Jama’ah yang berarti mengikuti kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam kemudian diikuti oleh para sahabatnya, para ulama ahli ijtihad dan ahlul hadits yang mereka itulah Assawadul A’zhom dan pengikut kebenaran.

Berkata ‘Abdullah bin Mas’ud tentang Al-Jama’ah :

الْجَمَاعَةُ مَا وَافَقَ الْحَقَّ وَإِنْ كُنْتَ وَحْدَك

“Al-Jama’ah adalah apa yang mencocoki kebenaran walaupun engkau sendiri”.

Berkata Abu Sy amah dalam Al-Ba’its hal.22 : “Dan apabila datang perintah untuk komitmen terhadap Al-Jama’ah, maka yang diinginkan adalah komitmen terhadap kebenaran dan pengikut kebenaran tersebut walaupun yang komitmen terhadapnya sedikit dan yang menyelisihinya banyak orang. Karena kebenaran adalah apa-apa yang jama’ah pertama r dan para sahabatnya berada di atasnya dan tidaklah dilihat kepada banyaknya ahlul bathil setelah mereka.”

Lihat : Al-I’tishom 2/767-776 tahqiq Salim Al-Hilaly, Manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Wa Manhaj Al-Asy’ariyah Fi Tauhidillah 1/20-23, Mauqif Ahlis Sunnah Wal Jama’ah 1/49-54, Mauqif Ibnu Taimiyah Minal Asy’ariyah 1/26-32.

Kesimpulan :

Bisa disimpulkan dari seluruh penjelasan di atas bahwa Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah para sahabat, tabi’in dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik dari para ulama Ahli Ijtihad dan Ahli Hadits yang berjalan di atas Al-Qur’an dan Sunnah dan siapa saja yang mengikuti mereka dalam hal tersebut sampai hari kiamat. Wal Ilmu ‘Indallah .


DOA BERBUKA PUASA

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَتِ الْعُرُوْقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ

“Telah hilang dahaga dan telah basah urat-urat serta telah tetap pahala, insya Allah.”

(HR. Abu Dawud, 2/306 no. 2357, an-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra, 2/255, ad-Daruquthni, 2/185, al-Baihaqi, 4/239, dari hadits Ibnu ‘Umar dan dihasankan oleh asy-Syaikh al-Albani)

http://www.asysyariah.com/syariah/doa/627-doa-berbuka-puasa-doa-edisi-3.html

----------------------------------------------------------------------------------

MAKANAN TERBAIK UNTUK BERBUKA PUASA

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam telah memberi contoh dalam segala hal, termasuk dalam makanan terbaik untuk berbuka puasa. Beliau Shalallahu ‘alaihi wa Sallam berbuka puasa dengan ruthab (kurma basah), atau dengan tamr (kurma kering) jika tidak ada ruthab, atau dengan air jika tidak ada tamr. Hal tersebut sebagaimana dijelaskan dalam hadits Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu:

“Dahulu Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam berbuka puasa dengan beberapa butir ruthab sebelum beliau shalat (maghrib). Apabila beliau tidak mendapatinya, beliau berbuka puasa dengan beberapa butir tamr. Apabila beliau tidak mendapatinya, beliau berbuka puasa dengan meminum beberapa teguk air.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ahmad)

Oleh karena itu, hendaknya seorang muslim berbuka puasa dengan apa yang Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam berbuka puasa dengannya. Yaitu dengan ruthab, jika ada. Jika tidak ada, maka dengan tamr. Jika tidak ada, maka dengan air.

http://www.assalafy.org/mahad/?p=530

-------------------------------------------------------------------------------

BERBUKA

1. Kapan orang yang berpuasa berbuka?

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), "Kemudian sempurnakanlah puasa hingga malam."

Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menafsirkannya dengan datangnya malam dan perginya siang serta sembunyinya bundaran matahari.

Syaikh Abdur Razzaq telah meriwayatkan dalam Mushannaf (7591) dengan sanad yang dishahihkan oleh Al Hafizh dalam Fathul Bari (4/199) dan Al Haitsami dalam Majma Zawaid (3/154) dari Amr bin Maimun Al Audi, "Para shahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang yang paling bersegera dalam berbuka puasa dan paling lambat dalam sahur."

2. Menyegerakan berbuka

Wahai saudaraku seiman, wajib atasmu berbuka ketika matahari telah terbenam, janganlah dihiraukan rona merah yang masih terlihat di ufuk, dengan ini berarti engkau mengikuti sunnah Rosulmu shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan menyelisihi Yahudi dan Nashara, karena mereka mengakhirkan berbuka hingga terbitnya bintang.

* Menyegerakan berbuka menghasilkan kebaikan.

Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), "Manusia akan terus dalam kebaikan selama menyegerakan buka." (HR Bukhari dan Muslim).

* Menyegerakan buka adalah sunnah Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda(yang artinya), "Umatku akan terus dalam sunnahku selama mereka tidak menunggu bintang ketika berbuka (puasa)." (HR Ibnu Hibban).

* Menyegerakan buka berarti menyelisihi Yahudi dan Nashara.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), "Agama ini akan terus jaya selama menyegerakan buka, karena orang Yahudi dan Nashara mengakhirkannya."

(HR Abu Dawud, Ibnu Hibban).

* Berbuka sebelum shalat maghrib.

Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbuka sebelum shalat maghrib (HR Ahmad, Abu Dawud), karena menyegerakan berbuka termasuk akhlaknya para Nabi. Dari Abu Darda` radhiyallahu ‘anhu, "Tiga perkara yang merupakan akhlak para nabi: menyegerakan buka, mengakhirkan sahur, meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dalam shalat." (HR Thabrani).

3. Berbuka dengan apa?

Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan berbuka dengan kurma, kalau tidak ada dengan air, ini termasuk kesempurnaan kasih sayang dan semangatnya Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (untuk kebaikan) umatnya dan dalam menasehati mereka. Allah berfirman (yang artinya), "Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari bangsa kamu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan kebahagiaanmu), terhadap orang-orang mukmin ia amat pengasih lagi penyayang."

(QS At Taubah: 128).

Dengan memberi sesuatu yang manis (kurma) pada perut yang kosong, maka tubuh akan lebih siap menerima dan mendapatkan manfaatnya, terutama tubuh yang sehat, akan bertambah kuat dengannya. Dan bahwasanya puasa itu menghasilkan keringnya tubuh, maka air akan membasahinya, hingga sempurnalah manfaat makanan.

Dan ketahuilah, bahwa kurma itu memiliki barakah dan kekhususan -demikian pula air- memiliki efek yang positif terhadap hati dan mensucikannya, tiada yang mengetahuinya, kecuali orang-orang yang ittiba’ / mengikuti.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, "Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka dengan ruthab (kurma muda) sebelum shalat, jika tidak ada ruthab, maka beliau berbuka dengan kurma, jika tidak ada kurma, beliau minum dengan satu tegukan air." (HR Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah).

4. Apa yang Diucapkan ketika Berbuka?

Ketahuilah saudaraku yang berpuasa -semoga Allah memberikan taufik kepada kami dan Anda untuk selalu mengikuti sunnah Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam-, sungguh engkau memiliki do’a yang mustajab, maka ambillah kesempatan itu dan berdo’alah kepada Allah sedang engkau merasa yakin akan dikabulkan -ketahuilah sesungguhnya Allah tidak akan mengabulkan do’a dari hati yang lalai lagi main-main- berdo’alah kepadaNya sesuatu yang engkau inginkan dengan do’a-do’a yang baik, semoga engkau mendapatkan dua kebaikan di dunia dan akhirat.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, "Ada tiga orang yang tidak akan tertolak do’a mereka: seorang yang puasa ketika sedang berbuka, seorang imam yang adil, dan do’a seorang yang terzholimi." (HR Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban).

Dan dari Abdullah bin ‘Amr bin al ‘Ash berkata, Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), "Sungguh bagi orang yang berpuasa itu memiliki do’a yang tidak akan tertolak ketika berhias." (HR Ibnu Majah, Al Hakim)

5. Memberi Makan Orang yang Berpuasa

Dan hendaklah engkau bersemangat, wahai saudaraku -semoga Allah memberi berkah dan taufikNya kepadamu sehingga mampu mengamalkan kebaikan dan ketaqwaan- (yaitu) bila engkau memberi makan kepada orang puasa, maka padanya terdapat pahala yang agung serta kebaikan yang melimpah ruah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), "Barangsiapa memberi makan seorang yang berpuasa, ia mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa tanpa mengurangi sedikitpun pahalanya."

(HR Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

Dan apabila seorang muslim yang sedang berpuasa diundang makan, wajib baginya untuk memenuhi undangan tersebut. Karena barangsiapa yang tidak memenuhi undangan, maka sungguh ia telah mendurhakai Abul Qasim shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dan disukai bagi yang diundang (makan) untuk mendo’akan kebaikan kepada si pengundang setelah selesai makan, sebagaimana telah datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam do’a yang bermacam-macam, di antaranya:

"Orang-orang yang baik telah makan makananmu dan para malaikat telah bershalawat kepadamu serta orang-orang yang berpuasa telah berbuka di rumahmu." (HR Ibnu Abi Syaibah, Ahmad, An Nasa`i, dan yang lainnya).

"Ya Allah, berilah makan orang yang telah memberi makan kepadaku dan berilah minum orang yang telah memberi minum kepadaku." (HR Muslim dari Al Miqdad).

"Ya Allah, ampunilah mereka, sayangilah mereka dan berkahilah terhadap apa yang telah Engkau rizkikan kepada mereka." (HR Muslim dari Abdullah bin Busr).

Judul Asli:

"Sahur dan Berbuka Puasa Menurut Sunnah Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam"

Sumber: Buletin Al Wala’ Wal Bara’

Edisi ke-1 Tahun ke-2 / 14 November 2003 M / 19 Ramadhan 1424 H

http://ghuroba.blogsome.com/

http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=889