Kembali kepada kebenaran adalah suatu fadhilah, sedangkan bertahan dalam kesalahan adalah kehinaan. Seringkali terjadi perselisihan antara dua orang karena adanya kesalahan, apakah kesalahan itu terdapat pada kedua belah pihak atau salah satunya, maka yang dituntut adalah menerima dan kembali kepada al-haq.

Engkau mendapatkan kebanyakan manusia sulit bagi mereka untuk kembali menerima kebenaran
lalu berjalan di atasnya, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Qoyyim: “Nafsu adalah sebuah gunung yang besar dan jalannya sulit namun menyampaikan kepada Allah. Setiap orang yang berjalan tidak mempunyai jalur alternatif selain harus melalui gunung tersebut.

Hanya saja, diantara mereka ada yang kesulitan melaluinya dan ada pula yang mudah namun sesungguhnya ia sungguh mudah bagi siapa saja yang dimudahkan oleh Allah.

Di gunung tersebut terdapat banyak jurang, jalan berliku, rintangan, lubang, duri, pohon, jebakan, bebatuan, dan perampok yang menghadang perjalanan orang-orang terutama orang yang melakukan perjalanan malam hari. Maka kalau mereka tidak mempunyai persediaan iman dan lentera keyakinan yang dinyalakan oleh minyak khusyu’, niscaya mereka akan terhalangi dan terpotong oleh semua penghalang itu hinga mereka tidak sanggup melanjutkan perjalanan. Lalu kebanyakan orang yang berjalan pulang kembali tatkala tidak sanggup melewati semua rintangannya. Sedangkan syaithan di puncak gunung tersebut menakut-nakuti manusia agar jangan mendakinya.

Di saat bersatu sulitnya pendakian, adanya syaithan yang menakut-nakuti di puncak, dan lemahnya tekad penempuh, maka terputuslah perjalanan dan diapun pulang.

Sedangkan orang yang terjaga ialah siapa yang dijaga oleh Allah. Semakin pendaki itu naik mendaki ke atas gunung tersebut, maka akan semakin keras terdengar teriakan penghalang dan menakut-nakutinya. Apabila dia telah melewatinya dan mencapai puncaknya maka berubahlah semua ketakutan itu menjadi keamanan. Tatakala itu mduahlah perjalanan, hilangnya segala rintangan, dan dia bias melihat jalan luas lagi aman menuju perumahan dan tempat minum.

Jadi, jarak antara seorang hamba dengan kemenangan dan kebahagiaanya hanyalah kekuatan tekad, kesabaran sesaat, keberanian jiwa, dan keteguhan hati” (Dinukilkan melalui kitab Ihsan Sulukil ‘Abdil Mamluk ila Malikil Muluk, hal. 226-227)

Jiwa yang tidak tunduk secara sempurna kepada Allah dan Rasul-Nya akan sulit kembali kepada al-haq, Allah Ta’ala berfirman:

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisaa’: 65)

Dan Allah berfirman:


“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu'min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu'min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 36)

Wallahu a’lam bish showab.

Referensi : Edisi Indonesia “Tatkala Fitnah Melanda (Mutiara Hikmah Menyingkap Fitnah dan Pedoman Syar’i saat menghadapi), BAB “Kejantanan Dalam Mengakui Kesalahan lalu Kembali Kepada Kebenaran” Hal 67-69. Karya Asy Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Asy Syaikh dan Asy Syaikh Muhammad bin ‘Abdullah Al-Imam. Penerjemah: Abu Muhammad Syu’bah bin Rihani, Abu Ismail Muhammad Qowwam, Editor: Al Ustadz Abu ‘Utsman Ali Basuki, Penerbit: Pustaka Al Haura’

0 komentar: